Jendela Buku

The Raven, Berdialog dengan Kematian

Sabtu, 26 August 2017 03:45 WIB Penulis: (*/M-2)

Dok MI

NAMA Edgar Allan Poe tampaknya sudah tidak asing lagi bagi kalangan penggila misteri. Poe adalah penulis, penyair, editor, dan kritikus sastra asal Amerika yang menjadi bagian dari Gerakan Romantis Amerika. Genre fiksi detektif menjadi ciri khas cerita dan puisi yang ia karang. Sebab itu, ia dijuluki sebagai Bapak Cerita Detektif. Kehidupan Poe yang kelam menjadikan ia sebagai penulis kisah misteri paling produktif abad ke-19. Beberapa kumpulan puisi dan cerita pendeknya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, salah satunya lewat The Raven Stories & Poems.

Sebanyak 14 judul antologi cerita pendek dan puisi pilihan yang berkisar 1832 hingga 1849 disajikan dalam satu buku bersampul hitam, di antaranya Metzengerstein, Berenice, Morella, Raja Pes, Lelaki di Keramaian, Kumbang Emas, Sang Gagak, Percakapan dengan Mumi, Sistem Dr Tarr dan Profesor Fether, Fakta-Fakta dalam Kasus M Valdemar, Hop-Frog, Annabel Lee, dan Lonceng-Lonceng.

Dari puisi ke layar perak
The Raven (dalam bahasa: burung gagak) dipilih menjadi sampul buku terbitan Noura Books. Puisi ini pertama kali dipublikasikan pada Januari 1845. Sesuai dengan judulnya, puisi ini berkisah mengenai gagak berbicara misterius yang mengunjungi seorang pria. Dalam dunia nyata, seekor gagak tentunya tidak bisa berbicara ataupun menyahut manusia layaknya burung beo. Namun, bagi Poe, hal itu bukan sesuatu yang muskil. Dengan rangkaian 18 bait puisi naratif, Poe menuturkan seorang pria yang sedang berduka karena kehilangan kekasihnya, Lenore. Bertepatan dengan waktu tengah malam, pria itu kedatangan tamu seekor burung gagak. Setiap kali ia berdialog, sang gagak selalu menyahut ‘takkan pernah’.

Di landa kekalutan, dialog itu akhirnya mengantarkan pria itu pada kematian. Konon, burung gagak itu adalah simbol dari maut yang sengaja datang menjemput ajal sang pria. Dalam beberapa kepercayaan masyarakat, gagak umumnya di­lambangkan dengan kematian. Di alam bebas, gagak memakan jasad makhluk yang mati. Berkoak-koak dengan suara yang parau sambil menyebarkan kabar kematian. Berangkat dari filosofi burung gagak, Poe seperti sedang mengisyaratkan kepada pembaca bahwa tidak ada manusia yang kekal. Pesan serupa juga disampaikan Poe dalam cerita The Masque of the Red Death (1842) tentang kalangan bangsawan yang tidak bisa mengelakkan kematian dari wabah penyakit meskipun mereka telah tinggal di permukiman yang steril dan eksklusif.

Satu abad kemudian, The Raven tak lagi hanya sekadar puisi. Sutradara James Mc Teigue mengangkat The Raven ke layar perak pada 2012. Film yang bergenre psychological crime thriller tidak sepenuhnya mengadaptasi versi puisi. Mc Teigue lebih menyoroti aksi Poe yang diperankan John Cusack dalam memecahkan misteri kasus kriminal. Tak mengherankan jika The Raven dipilih jadi puisi andalan Poe dalam terbitan The Raven Stories & Poems. Puisi ini tidak hanya membuat kita takut akan kematian, tetapi juga mengilhaminya sebagai bagian dari siklus kehidupan. Sementara itu, sang gagak sendiri hanya manifestasi dari grim reaper. Malaikat pencabut nyawa yang diutus Sang Khalik untuk mencabut nyawa manusia.

Teka-teki dan fiksi ilmiah cerdas
Tidak hanya membuat pembaca bergidik ngeri, Poe juga mempersembahkan menu cerita ala detektif dan argumen ilmiah yang cerdas lewat Kumbang Emas (1843) dan Percakapan dengan Mumi (1845). Kumbang Emas bercerita tentang petualangan William Legrand dan kawan-kawan dalam menemukan peti harta karun.

Meski sempat dicap tidak waras, William tetap jeli dalam menelusuri petunjuk alam yang ia dapatkan. Mulai kumbang emas (Scarabaeus) hingga memecahkan sandi yang hanya dilihat ketika perkamen didekatan di api. Percakapan dengan mumi juga tidak kalah menegangkan urat saraf. Mumi Count Allamistakeo yang berasal dari trah Scarabaeus hidup kembali setelah dialiri listrik. Yang lebih mengejutkannya lagi, sang mumi bisa berbicara tentang teknologi dan kemajuan peradaban Mesir. Sontak, para ilmuwan modern geger dan saling membanggakan kecanggihan dan kemajuan peradaban di zaman mereka. Perdebatan panjang itu akhirnya berakhir dengan keputusan konyol salah satu ilmuwan yang minta diawetkan selama dua ratus tahun. (*/M-2)

Komentar