Jendela Buku

Memahami Pesan Terselubung Pram soal Indonesia

Sabtu, 26 August 2017 03:31 WIB Penulis: Hera Khaerani hera_khaerani@mediaindonesia.com

Dok MI

TIDAK ada yang dapat memungkiri betapa besarnya pengaruh karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer bagi kesusastraan Indonesia. Pada era Orde Baru, buku-bukunya dilarang, membuat pembacanya perlu sembunyi-sembunyi dalam menyelami hasil tulisannya. Bagi Max Lane yang menerjemahkan banyak karya Pram ke dalam bahasa Inggris dan membuatnya bisa dikenal di mancanegara, wajar sekali jika buku-buku Pram dulu dilarang karena ada bahaya yang mengancam kekuasaan. “Kenapa buku Pram dilarang, ya, karena mengajarkan perlawanan,” simpulnya.

Akan tetapi, bukan hanya larang­an pemangku kekuasaan yang bisa menjauhkan masyarakat dari pemikiran sejati seorang Pram. Banyak pula yang sudah membaca karyanya, tapi gagal memahami pesan terselubung yang ingin disampaikan sang penulis. Hal inilah yang ingin disoroti Max Lane dalam buku terbarunya, Indonesia tidak Hadir di Bumi Manusia. Pesan terselubung Pram diyakininya harus disadari masyarakat dalam menghadapi masa depan Indonesia. Penulis dan kritikus asal Australia itu menawarkan hasil analisisnya lewat esai dan artikel yang dikumpulkan dalam buku tersebut. Sesuai dengan judul bukunya, Max mengajak masyarakat untuk turut merenungi mengapa dalam tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, Pram tidak pernah sekali pun menulis kata Indonesia di dalamnya.

Bagi Max, absennya ‘Indonesia’ di Bumi Manusia justru menjadi gagasan fundamental yang menunjukkan kegeniusan seorang Pramoedya Ananta Toer sekaligus menjadi pembelajaran berharga bagi rakyat Indonesia saat ini untuk memahami apa itu Indonesia. Pramoedya bagi Max Lane hendak menegaskan soal kebaruan Indonesia. ‘Bukan hanya bahwa Indonesia adalah barang ciptaan baru di atas muka bumi manusia ini. Bukan hanya baru, tetapi ternyata juga barang atau makhluk ciptaan sendiri! Seri buku Bumi Manusia sampai Rumah Kaca menggambarkan proses di saat penghuni sebuah tempat tertentu, yang bangkit mulai memakai bahasa tertentu, menciptakan sendiri sebuah komunitas baru: menuju sebuah nation’, tulisnya dalam halaman 170.

Menolak gagasan keindonesiaan
Pramoedya menolak gagasan keindonesiaan yang kerap dilabuhkan ke masa lampau tradi­sional. Indonesia tidak hadir sebagai suatu kesinambungan dengan masa lampau, justru berupa penolakan terhadap masa lampau. Hal ini terlihat misalnya ketika ibunda Minke (karakter dalam novelnya) ditam­pilkan meng­ucapkan kata-kata, “Mengapa engkau mencoba begitu keras untuk menjadi selain dari anak ibumu?” Berbicara dalam peluncuran dan diskusi buku terbarunya oleh Dewan Kesenian Jakarta di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (12/8), Max pun menceritakan selama perkenalannya dengan Pramoedya semasa hidup, tidak pernah sekali pun dia mendengar Pram menggunakan bahasa daerah. “Dia selalu pakai bahasa Indonesia,” ungkapnya menekankan bahwa itu bukti kecintaan Pram yang tinggi terhadap Indonesia yang turut dia perjuangkan kemerdekaannya.

Makanya ketika dalam ajang-ajang kebudayaan di taraf internasional Max melihat batik atau kesenian tradisional yang dikedepan­kan untuk dipamerkan sebagai budaya Indonesia, hal itu menimbulkan kepri­ha­tin­an. Menurutnya, kebuda­yaan Indonesia tidak tecer­min dalam tradisi dan kesukuan tertentu. Lantas, apa yang tergolong kebudayaan Indonesia bagi Pram sebagaimana dipahami Max? Menurutnya, apa yang memikat dan menggetarkan hati di dalam penceritaan Pramoedya ialah kepiawaiannya menangkap proses pembuahan, kehamilan, dan kelahiran Indonesia.

Organisasi adalah sebuah karakter baru di dalam Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Karakter ini disebut baru bukan karena tidak kelihatan di kedua novel pertamanya, melainkan karena sebelum organisasi-organisasi seperti yang dilukiskan dalam Jejak Langkah dan Rumah Kaca muncul, di ‘Indonesia’ memang sama sekali tidak ada organisasi-organisasi modern. Kepada Max, Pram pernah menegaskan bahwa kalau mau mengubah masyarakat, harus ada alatnya, harus ada wadahnya untuk pertarungan ideologi melawan ketidakadilan. Wadah yang dimaksud adalah organisasi.

Karena itu, budaya berorgani­sa­si menurut penulis Unfinish Nation tersebut adalah budaya Indonesia. Jika masyarakat masa kini tidak terbiasa berorganisasi apalagi bersikap antipati, itulah wujud meninggalkan budaya Indonesia yang sesungguhnya. Simpulan itu diambilnya tidak hanya dari pergumulan bertahun-tahun menerjemahkan karya Pram, tetapi juga hasil diskusi langsung dengan Pram, dengan orang-orang yang berani menerbitkan karya­nya, juga pengalamannya sendiri bergaul dengan banyak aktivis di Indonesia. Memahami pesan Pram soal Indonesia itu relevan saat ini, terutama ketika ada pembubaran organisasi kemasyarakatan oleh pemerintah.

Max juga mengungkap Indonesia tidak Hadir di Bumi Manusia adalah buku pertama dari empat buku yang menurut rencana akan dirilisnya dalam 18 bulan mendatang. Berikutnya ada karya tentang Rendra yang menjadi ujung tombak perjuangan dan perlawanan terhadap otoriterisme, disusul buku kumpulan esai-esai politik Indonesia dari 70-an sampai yang paling baru ditulisnya, lalu buku yang membandingkan karya-karya WS Rendra atau cara berpikirnya dan cara berpikir yang terkandung dalam karya Pramoedya Ananta Toer. Berkaca pada keduanya, bagi Max, ini merupakan salah satu cara memahami Indonesia. (M-2)

Komentar