Otomotif

Perlu Free Trade untuk Pengembangan Pasar Otomotif

Rabu, 23 August 2017 23:15 WIB Penulis: (Ria/S-4)

DOK TOYOTA

PASAR otomotif Indonesia saat ini berada teratas di antara negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) dari sebelumnya dipimpin Thailand. Menyusutnya pasar otomotif di 'Negeri Gajah Putih' karena pasar yang stagnan, kepemilikan otomotif yang sudah tinggi, dan hilangnya insentif terhadap industri otomotif. Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai kesempatan tersebut harus dimanfaatkan untuk terus memperluas pasar. Kesempatan membuka pasar, jelasnya, antara lain bergantung pada kebijakan pemerintah, yakni adanya free trade dan insentif.

Ia mengungkapkan, saat ini pabrik yang dimiliki TMMIN berkapasitas produksi 2 juta unit, tetapi pabrikan Toyota Indonesia hanya memproduksi kebutuhan nasional ataupun ekspor 1,1 juta hingga 1,2 juta unit. Bob menilai kondisi itu tidak sehat untuk industri. Seharusnya, dengan kemampuan produksi yang dimiliki pabrik, TMMIN memiliki pasar sekitar 1,6 juta unit. "Yang sehat seharusnya market-nya 1,6 juta unit." Ia mengungkapkan TMMIN terus berupaya meningkatkan daya saing produksi dan mencari peluang ekspor. Sampai semester pertama 2017, TMMIN telah mengekspor kendaraan ke lebih dari 80 negara dengan total volume 99 ribu mobil utuh (CBU), terdiri atas Fortuner (33 ribu unit), Vios (15 ribu unit), Kijang Innova (6.000 unit), serta Yaris dan Sienta (4.000 unit).

Selain itu, Toyota Indonesia melalui PT Astra Daihatsu Motor mengekspor Avanza, Rush, Town/Lite Ace, dan Agya (41 ribu unit). Karena itu, menurut dia, perlu ada upaya pengembangan pasar. Ia menilai untuk pengembangan pasar perlu kebijakan yang mendukung industri otomotif, yakni free trade. Peningkatan pasar ekspor yang terbentuk dari banyaknya FTA akan mendongkrak keekonomian produk yang dibuat. Ia juga mengungkapkan faktor lain yang menjadi penentu daya saing dan peningkatan ekspor.

Selain mengenai izin ekspor dari para pemegang merek (prinsipal), struktur di industri otomotif yang dibangun di dalam negeri juga harus kuat. Hal itu penting agar biaya produksi juga lebih bersaing akibat banyak bahan baku dan pemasok komponen ada di dalam negeri. "Satu lagi, bagaimana (kendaraan) yang dipasarkan di dalam negeri juga sama dengan standar global," kata Bob.

Komentar