Surat Dari Seberang

Jiwa Indonesia di Wajah Rusia

Selasa, 22 August 2017 18:55 WIB Penulis: Iwan J Kurniawan, Koresponden Media Indonesia dari Rusia

Foto Iwan J Kurniawan

SEPASANG merpati terbang perlahan. Salah satunya mendaratkan kaki di trotoar jalanan di depan Gedung KBRI Moskow, Federasi Rusia, pagi itu. Ia mematuk-matuk sisa bebijian. Tak selang semenit, satu lagi merpati menghampiri. Mereka asik mengais sebelum akhirnya kembali mengepak sayap-sayap menuju ke arah timur.

Saya melangkahkan kaki sambil mengamati arah rebana beburungan dara itu. Keduanya terbang melewati gedung-gedung hingga lipur dari pandangan mata ini. Saya pun sejurus, memalingkan wajah ke gedung KBRI dan langsung masuk. Itu pagi adalah hari penting. Di sana, sedang dihajat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-72.

Prosesi berlangsung sebagaimana seremonial kenegaraan. Ada upacara pengibaran dan penurunan sang saka Merah Putih. Pada upacara pagi, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia, M Wahid Supriyadi, bertindak sebagai inspektur upacara. Giliran pada sore harinya, Lasro Simbolon (Wakil Dubes) yang ambil bagian.

Matahari menyuar dan udara kering menyisik kulit. Di langit, terlihat jelas awan berarak. Di kawasan KBRI itu, aneka umbul-umbul pun menggantung di sudut-sudut tembok. Setiap orang yang hadir pasti langsung terpukau dengan warna merah dan putih. Itu tak lain sebagai pengingat akan sebuah arti kemerdekaan yang dikukuhkan Bung Karno dan Bung Hatta pada 72 tahun silam.

Setelah seremonial upacara pengibaran bendera, tiba giliran makan bersama dan pentas seni. Setiap orang yang hadir, baik WNI maupun Indonesianis, nampak menyumbangkan lagu. Beberapa bule ikut bernyanyi di panggung kecil. Itu membuat suasana pun lebih cair dan erat.

Di balik perayaan HUT RI itu, ada hal menarik yang tidak bisa saya mungkiri. Kehadiran para tetua-tetua, terutama eks mahasiswa ikatan dinas (Mahid) angkatan 60-an, masih jadi keunikan. Pertama, mereka notabene sudah lama memperoleh paspor Rusia. Namun, tetap menjadikan momen itu sebagai sebuah pernyataan akan rasa nasionalisme.

Kedua, WNI yang berasal dari kota-kota di luar Moskow, bisa hadir untuk bertemu sapa dengan rekan dan kolega yang juga datang dari berbagai belahan kota di Rusia. Ketiga, suguhan kuliner seperti nasi tumpeng, bakso, dan soto membuat tetamu serasa berada di Tanah Air. Itu tiga hal yang saya amati selama berada dan berbaur dengan orang-orang di acara tersebut.

Sumanto Saman, 76, pun hadir. Dia ikut menyantap bakso. Meski sudah berkewarganegaraan Rusia sejak lama, namun rasa lidah ketimuran Sumanto tidak bisa dibohongi. Dia doyan makanan khas Sunda. Itu dapat mengingatkannya akan masa-masa kecil hingga remaja saat masih di Tanah Air.

"Enak ya. Saya suka kuahnya, loh," ucap alumnus Universitas Padjadjadjaran (angkatan 1950-an) itu di sela-sela makan siang, Kamis (17/8), waktu setempat.

Pada perayaan itu, mahasiswa, diplomat, tetamu undangan, dan buruh migran Indonesia terlihat senang. Itu menjadi pemandangan yang hampir sama seperti pada perayaan 17 Agustusan, setahun lalu. Ini memang momen yang penting. Orang-orang Indonesia di Rusia bisa berkumpul bersama.

Setia hadir setiap 17 Agustusan
Kini, sudah hampir dua tahun, Sumanto pensiun dari sebuah istitusi kesehatan di Moskow. Ia adalah seorang dokter dan pakar mikrobiologi. Maklum, hidupnya, dia abdikan bagi dunia kesehatan Rusia. Itu bukan semata-mata kemauannya sendiri. Persoalan tragedi 1965 membuat hidupnya berubah.

"Jiwa saya selamanya Indonesia. Namun, raga saya sudah diabdikan bekerja untuk Rusia. Jadi, mau bagaimana lagi? Itu yang terjadi sehingga saya jalani secara profesional. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menunjukkan rasa nasionalisme," paparnya, serius.

Bagi Sumanto, salah satu cara untuk menunjukkan rasa cinta pada tanah lahirnya, dia hadiri upacara HUT RI. Kini, usia yang sudah menua tidak bisa disembunyikan. Sumanto sedikit mengeluh, siang itu, lantaran dia sering mengalami gangguan di mata, akhir-akhir ini. Itu membuatnya harus bolak-balik mengontrol ke rumah sakit setempat.

"Gaji pensiun saya sekarang sekitar 22 ribu rubel (setara Rp4,9 juta) per bulan. Itu di luar jaminan sosial dan kesehatan yang saya dapati dari pemerintah (Rusia). Kalau dulu kan ada lembur sehingga lebih kurang 60 ribu rubel per bulan. Kalau upah pensiun segini, apa bisa hidup di Indonesia nggak ya?" tanya Sumanto yang belum pernah pulang ke Tanah Air itu.

Sumanto pun sejenak menarik napas sedalam-dalamnya. Dia pun menoleh ke arah panggung. Saat itu, pas sekelompok mahasiswa sedang tampil. Salah satunya, aksi pianis Jonathan C T Wibowo, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan seni musik klasik pada sebuah perguruan tinggi di Moskow.

Seusai makan siang, itu, dari depan Wisma Indonesia, yang masih berada di kompleks KBRI, Dubes Wahid melangkah santai untuk menjumpai warga. Sesekali, dia memainkan telepon genggamnya. Dia tidak kikuk untuk memberikan salam kepada setiap orang yang kebetulan berpapasan muka. Tidak ketinggalan, Wahid juga nampak menyalami Sumanto sembari bertutur sapa.

Hanya beberapa langkah saja, Sudaryanto, salah satu rekan Sumanto yang juga mantan mahasiswa 1950-an, pun terlihat bahagia. Sudaryanto hadir bersama istri yang seorang Rusia, anak, dan cucunya. Mereka asyik menikmati suasana. Sesekali, anaknya melakukan selfie bareng menggunakan telepon pintar. Itu memang jadi momen yang 'wow' bersama keluarganya. "Kebetulan istri enggak sibuk sehingga bisa ikut ke sini," ucap lelaki yang sudah berambut memerak itu, singkat.

Perayaan 17 Agustusan di Moskow, juga diisi dengan suguhan musik gamelan, pentas kuda lumping, dan dangdutan. Itu memang sebagai pesta rakyat. Semua WNI menikmati setiap suguhan pengisi acara. Beberapa pun larut berjoget ria. Semua terasa bak di kampung halaman nan jauh di sana.

Wakil Dubes Lasro ikut bernyanyi. Dia hadir ke atas panggung mini. Itu tak lain sebagai bentuk untuk membangkitkan gelora tetamu undangan lainnya. Bagi dia, semangat para pejuang dalam merebut kemerdekaan harus jadi teladan bagi WNI yang ada di Rusia. "Saya suka nyanyi. Dulu pernah gabung dengan vokal grup," papar diplomat berdarah Batak itu, seraya menyantap bakmi.

Sore sudah tiba. Prosesi penurunan bendera pun selesai dilaksanakan secara sempurna. Satu per satu mulai meninggalkan kawasan KBRI. Sebuah hari penuh makna. Orang-orang hadir bukan sekadar kebetulan. Namun, ada semangat persatuan dan kesatuan yang digurat secara bergelora. Sebuah pesta kecil dari Tanah Tsar pun selesai dihelat.

Hari sudah pukul 17.30. Saya pun ikut bergegas mengangkat kaki dari kawasan acara bersama rekan, Yulius Guritno dan Rini Nila Kusuma. Mereka berdua adalah mahasiswa/i yang sengaja datang dari Tambov, 480 kilometer arah tenggara Moskow. Sekadar hadir guna memeriahkan perayaan Hari Proklamasi.

Tak jauh dari Jalan Novokuznetskaya 12, ada sebuah taman kecil. Sekawanan merpati sedang berebut makan. Seorang perempuan bertongkat mencabik-cabit sebalok roti dan menabur bagi beburungan dara itu. Tak berapa lama, sekawanan burung dara lain pun ikut nimbrung. Mereka juga adalah penghuni setia di kota yang ramah ini. (X-12)

Iwan J Kurniawan, dari Rusia

Komentar