PIGURA

Politisi Edan

Ahad, 20 August 2017 09:02 WIB Penulis: Ono Sarwono

POTRET sisi wajah perpolitikan kita di usia 72 tahun kemerdekaan Indonesia saat ini lagi diwarnai politik awur-awuran (membabi buta). Ini mengacu ke keruhnya sebagian politisi dan elite dalam menyerang dan mengkritik lawan-lawan politiknya.

Mereka menanggalkan norma, etika, dan cenderung berlanggam premanisme. Misalnya, bicara tidak berdasar fakta alias ngarang, asal menuduh, serampangan mencap ‘merah’ pihak lain, gampang suuzon, dan lain-lain. Maka, yang tumpah ruah di masyarakat bergunung sampah fitnah dan sejenisnya. Ini praktik politik tengik yang bukan hanya meracuni rakyat tetapi juga mencabik tatanan dan mengoyak kerukunan.

Berpolitik itu mesti berjiwa kesatria, elegan dan bermartabat, bukan eker-ekeran (berselisih) secara murahan dan doyan menghalalkan cara. Muruahnya, politik adalah jagat pengabdian, sedangkan pengabdian merupakan gelanggang pengorbanan.

Berkemampuan linuwih
Ada contoh tokoh dalam dunia wayang yang menarik tentang bagaimana elite berpolitik. Karakter tokoh ini memang terkesan kasar, sombong, dan tidak sopan tetapi ia jujur, kritis, dan hanya kebenaran yang disampaikan. Oleh karenanya, ia tidak pernah melukai liyan.

Titah antagonis tersebut bernama Bambang Wisanggeni. Pemuda tampan ini keturunan Arjuna-Bathari Dresanala. Ia tinggal di Kahyangan Daksinapati, kediaman kakeknya, Bathara Brama, dewa penguasa api.

Dari garis ayah, ia anggota keluarga putra Pandawa. Namun, di antara saudara-saudaranya, ia paling disegani berkat kecerdasan dan kepintarannya. Wisanggeni bisa membaca secara gamblang mobah mosiking jagat, semua yang terjadi di dunia seisinya.

Dalam sanggit dalang, di antara para warisnya, Wisanggeni diceritakan paling kompak dengan Antasena, putra ketiga Werkudara, kakak Arjuna. Keeratan mereka karena sama-sama ‘edan’. Keduanya sakti mandraguna dan tidak terkalahkan dalam segala macam medan.

Karena kemampuan linuwih-nya, Wisanggeni kerap dianggap berwatak sapa sira sapa ingsun (pongah). Apalagi, kepada siapa saja ia gemar menguliahi, dengan bahasa ngoko lagi. Inilah yang sering membuat mereka yang belum mengenalnya tergoda gusar.

Wisanggeni memang pemberani dan memiliki kepercayaan diri tinggi sehingga tidak pernah menghindar untuk berhadapan dengan siapa pun. Dalam ‘forum’ apa saja, ia tegak berdiri dan unggul lewat kata-katanya.

Dalam seni pedalangan, kemunculan Wisanggeni ini tidak bisa dipastikan. Ia hadir dalam lakon-lakon tertentu. Biasanya ia muncul ketika marcapada sedang terjadi ketidakadilan atau kezaliman yang menjadi-jadi. Di situlah ia berperan menertibkan, meluruskan sehingga tercipta dunia yang adab, adil, dan tenteram.

Watak dominan Wisanggeni ialah gemar berdialog. Ia senantiasa berkemauan keras dalam setiap menyelesaikan masalah atau mencari solusi dengan beradu argumentasi berbasis kebenaran.

Ia membenci bicara tanpa dasar dan juga tidak segan mengungkapkan setiap kebohongan. Inilah yang membuat setiap lawan takluk, apalagi lawan yang hanya bermental waton sulaya.

Gathotkaca dicap salah
Dalam kisah carangan, politik waton sulaya pernah dijadikan senjata Kurawa mengusir Gathotkaca dari pertapaan Arga Kelasa. Putra Werkudara itu dicap mbalela karena menempati wilayah kekuasaan Astina tanpa palilah (izin) sang raja Prabu Duryudana.

Wisanggeni yang kebetulan berada di Arga Kelasa menjadi garda terdepan meluruskan ketersesatan historis tersebut. Ia mencuci otak para elite Astina yang bertindak sewenang-wenang dengan menuduh Gathotkaca menduduki Arga Kelasa tanpa mengindahkan aturan.

Ceritanya, keberadaan Gathotkaca di Arga Kelasa tersebut bermaksud ‘unjuk rasa’ kepada dewa. Ia ingin mengingatkan janji pimpinan Kahyangan, Bathara Manikmaya, yang akan memberikan bonus setelah dirinya berhasil menenteramkan Kahyangan dari jamahan Kala Pracona.

Keberadaannya di Arga Kelasa itu membuat Duryudana murka. Ia mengirim tim utusan beranggotakan patih Sengkuni, paranpara Durna, dan senapati Karna Basusena. Mereka juga membawa pasukan Kurawa.

Keberadaan Gathotkaca di Arga Kelasa tidak sendirian. Selain Wisanggeni, ia ditemani Antareja, Antasena, Setyaki, dan resi Mayangkara (Anoman) dari pertapaan Kendalisada.

Atas izin dari semua yang ada di tempat itu, Wisanggeni menemui para tamu dari Astina yang dipimpin Sengkuni. Setelah basa-basi, Sengkuni menegaskan bahwa Gathotkaca harus segera minggat dari Arga Kelasa karena itu wilayah kekuasaan Duryudana.

Menurut Sengkuni, secara de facto dan de jure, Gathotkaca salah. Berdasarkan aturan, semestinya putra Werkudara itu bukan hanya diharuskan pergi, melainkan mesti dijatuhi sanksi.

Wisanggeni menolak argumen itu. Ia menegaskan Gathotkaca tidak salah karena sesungguhnya Astina dan seluruh jajahannya merupakan milik Pandawa yang adalah orangtua Gathotkaca. Kurawa merampasnya negara Astina setelah ayah Pandawa, Prabu Pandudewanata meninggal.

Justru, lanjut Wisanggeni, Kurawa harus menyerahkan kekuasaannya kepada Pandawa, ahli waris sah Astina. Kurawa telah menginjak-injak paugeran (aturan) negara. Oleh karena itu, bukan Gathotkaca yang harus pergi, melainkan Kurawa yang mesti hengkang dari Astina.

Singkat cerita Sengkuni tak mampu mendebat Wisanggeni. Durna yang diminta menggantikannya sebagai juru bicara, langsung menyatakan menyerah. Tim utusan itu lalu menyerahkan langkah selanjutnya kepada Karna. Langkah itu adalah kekerasan, tapi upaya itu gagal.

Haus kekuasaan
Benang merah kisah itu kebenaran menjadi landasan sikap Wisanggeni. Keberanian dan perjuangannya tidak ampyak awur-awur (ngawur) alias tanpa dasar. Bukan seperti Kurawa yang sesukanya, dengan gampang mencap salah pihak lain (Gathotkaca).

Wisanggeni ini paradoks dengan sebagian elite dan politisi di negeri ini. Yang metode dan gaya politik mereka memburu simpati rakyat dengan terus-menerus mencari-cari kesalahan lawan politik dan kemudian menjelek-jelekkannya. Kepintarannya untuk memfitnah, kecerdasannya guna mengapitalisasi kebodohan sebagian rakyat.

Inilah sesungguhnya cermin elite atau politisi yang salah kedaden (belum atau tidak jadi). Dunia politik memang jagat persaingan. Tapi, semuanya harus dilandasi pada tujuan mulia dan lebih besar, yakni demi kejayaan bangsa dan negara. Jangan hanya karena ngiler kekuasaan lantas keblinger. (m-4)

Komentar