Tifa

Pameran 72 Tokoh Indonesia

Ahad, 20 August 2017 09:13 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

Pengunjung sedang memperhatikan pameran tunggal Sohieb Toyaroja bertajuk 72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI yang dihelat di Epiwalk Epicentrum Jakarta pada 11-17 Agustus 2017. -- MI/Abdillah M Marzuqi

PERNAHKAH membayangkan tujuh Presiden RI bertemu dalam satu peristiwa? Mereka bercakap dan berbagi senyum. Dari mulai Presiden Pertama RI Soekarno, hingga Presiden ke-7 Joko Widodo, semua tampak akrab guyup dan rukun.

Mungkin bayangan itu tidak dapat terjadi di dunia nyata saat ini. Namun, setidaknya itu terjadi dalam goresan ­Sohieb Toyaroja. Ketujuh tokoh bangsa Indonesia itu hadir dalam sebuah peristiwa di atas kanvas. Itulah judul lukisan Obrolan 7 Presiden. Karya itu punya dimensi yang lumayan besar dengan ukuran 300 x 500cm. Lukisan itu menjadi simbol dari pameran tunggal Sohieb Toyaroja bertajuk 72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI yang dihelat di Epiwalk Epicentrum Jakarta pada ­11-17 Agustus 2017. Pameran ini dikuratori Merwan Yusuf. Sebanyak 80 lukisan dipamerkan dalam helatan yang digelar Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (UHAMKA) bekerja sama dengan Rajata Kreatif Nusantara.

Seluruh lukisan itu merupakan karya Sohieb Toyaroja. Menariknya, setiap lukisan dilengkapi dengan kisah istimewa tokohnya, ditulis Roso Daras, yang kemudian dikemas menjadi buku setebal 953 halaman yang diberi judul Perjuangan Menjadi Indonesia bukan Darah Sia-Sia.

Hampir semua lukisan yang dipamerkan punya ukuran yang lumayan besar, paling kecil berukuran 140 x 160 cm. Oleh karena itu, tata letak lukisan harus berpadu dengan ruang yang berukuran cukup besar.

“Ada kepentingan era per era harus terlihat jelas. Misalnya mulai antikolonialisme sampai dengan reformasi. Itu harus mengalir,” terang Ketua Pelaksana Pameran Ali Akbar.

Itulah sebabnya membaca pameran itu selayaknya melakukan penziarahan atau perjalanan melintas waktu. Berlawanan jarum jam, tata karya itu dibuat untuk mengenang balik dari hitungan waktu. Pertama, pengunjung akan diajak mengenal wajah dari para pemimpin bangsa Indonesia dari presiden pertama hingga presiden ketujuh. Lalu mengenal para tokoh antikolonialisme, kemudian bergeser ke era kebangkit­an nasional, tokoh sumpah pemuda, tokoh pergerakan, dan tokoh BPUPKI. Barulah masuk ke era kemerdekaan yang dilanjutkan dengan era pemerintahan Orde Baru dan era reformasi.

Mengenalkan tokoh bangsa
Unjuk karya ala Sohieb justru diperuntukkan kalangan yang sebelumnya tidak kenal atau tidak terlalu akrab dengan seni lukis. Sohieb punya misi dalam pameran itu, yakni mengenalkan tokoh bangsa Indonesia kepada kalangan generasi milenial.

“Generasi sekarang kan hampir terlupakan sama tokoh-­tokoh. Makanya aku terinspirasi untuk melukis tokoh-tokoh,” ujar Sohieb.

Berbincang tentang proses kreatif, Sohieb mengaku telah jauh menyiapkan pameran ini dari tahun lalu. “Kalau proses untuk mikir konsep ya satu setengah tahun. Untuk proses pembuatan lukisan itu enam bulan,” ujar Sohieb.

Enam bulan untuk 80 lukisan bukan waktu yang main-main. Apalagi dengan ukuran karya yang melebihi satu meter. Namun, setidaknya, keterangan dari kuratorial pameran itu bisa memberi penjelasan. ­Sohieb dikenal sebagai pelukis yang memakai teknik seni lukis cepat dan ekspresif.

Merwan Yusuf dalam kuratorialnya menjelaskan Sohieb lebih suka menyapukan catnya dengan menggunakan pisau palet ketika melukis lalu meng­hunjamkannya ke bidang kanvas.

“Dalam lukisannya ia sangat minim menggunakan garis dan lebih banyak menggunakan sapuan-sapuan untuk mengisi bentuk dan meninggalkan juga bidang-bidang putih, kosong, seperti Affandi,” jelas Merwan Yusuf. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar