Tifa

Tari Saman dan 10.001 Penari Pukau Dunia

Ahad, 20 August 2017 09:13 WIB Penulis: Ferdian Ananda Majni

Penampilan gladi menjelang pemecahan rekor MURI tari saman 10.001 penari di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Aceh, Sabtu (12/8). -- MI/Ferdian Ananda Majni

SEJAK pukul 06.30 WIB dengan menggunakan berbagai jenis mobil bak terbuka, ribuan masyarakat Aceh memadati Stadion Bukit Seribu, Blangkejeren, Minggu (13/8). Mereka datang tak hanya dari kabupaten/kota terdekat, terlihat juga sejumlah turis asing yang ingin menyaksikan langsung tarian Saman.

Kedatangan mereka untuk menyaksikan penampilan 10.001 penari Saman sekaligus upaya pemecahan rekor Muri. Rekor sebelumnya ialah 5.057 penari pada 2014.

Penonton histeris tatkala gerakan demi gerakan tari Saman dimainkan secara bersama-sama dan serentak oleh para pemain yang menggunakan kostum seragam lengkap dengan motif kerawang gayo dan teleng atau ikat kepala khas Gayo. Mereka bergerak mengikuti irama musik di hadapan ribuan penonton di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.

Penonton yang hadir menyaksikan tarian Saman dari berbagai daerah itu larut dalam setiap gerakan yang dimainkan penari Saman itu.

Tangan-tangan mereka dengan cekatan memukul dada, pun demikian kepala mereka menggeleng-geleng beraturan ke kiri dan kanan.

Teriknya matahari tidak menghentikan semangat mereka untuk terus memberikan penampilan terbaik kepada seluruh penonton yang hadir ke stadion Seribu Bukit Gayo Lues.

Para penari yang memperlihatkan kebolehan di hadapan ribuan penonton tersebut berasal dari 145 gampong di Gayo Lues, Satuan kerja perangkat kabupaten, TNI/polri, dan juga dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tengah, serta Aceh Tenggara.

Pergelaran tarian massal Saman dibuka langsung oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Bupati Gayo Lues Ibnu Hasim, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, Kadisbudpar Aceh Reza Fahlevi, dan sejumlah anggota DPR asal Aceh.

Salah seorang warga Kuta Cane, Aceh Tenggara, Syahrul, mengaku antusias menyaksikan setiap pergelaran Saman, apalagi penampilan tarian Saman kali ini, mendapatkan perhatian sejumlah kalangan. “Iya, saya sangat menyukai penampilan tarian Saman, gerakannya itu sangat menarik, apalagi kan sudah mendunia,” katanya.

Ia menambahkan, kehadirannya juga upaya memberikan motivasi kepada seluruh penari Saman yang tetap mempertahankan tarian leluhur hingga bisa dimainkan segala usia. “Ini juga dukungan untuk mereka penari Saman, mereka tetap mempertahankan dan menjaga tarian leluhur, pemerintah juga ikut memberikan dukungan,” jelasnya.

Syahrul mengakui, meski tarian Saman terlihat cepat dan atraktif, ia yakin semua kalangan mampu mengikuti dan mempelajari tarian Saman. Bahkan, pada pementasan Saman nanti, berbagai kalangan dan usia akan berbaur demi menampilkan tarian Saman yang memukau.

“Memang tarian Saman terlihat cepat dan unik, tetapi saya yakin semua orang bisa memainkannya. Jadi, tarian Saman bisa menggambarkan dunia bahawa Aceh punya budaya dan tradisi yang sangat kuat dan fenomenal,” lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan warga, Nisyahrial, yang datang bersama keluarganya guna menyaksikan penampilan Saman, bahkan mereka membawa serta makanan dan makan pagi di lokasi.

“Kami menempuh perjalanan 1 jam ke sini. Karena itu, kami juga bawa nasi sendiri, ini ada 20 orang yang datang bersama rombongan kami,” katanya.

Daya tarik wisata
Bupati Kabupaten Gayo Lues Ibnu Hasyim menyebutkan pergelaran tari Saman dengan 10.001 penari menjadi daya tarik wisata dan budaya ke daerah setempat. Bahkan, antusiasme masyarakat hingga peserta tarian melebihi target, yaitu 12.268 orang.

“Ini upaya dan komitmen Pemerintah Kabupaten Gayo Lues bersama pemerintah Aceh dalam rangka melestarikan, memelihara, dan mempromosikan tari Saman sebagai identitas daerah serta meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap tarian Saman yang telah mendunia,” sebutnya.

Selain menyaksikan penyelenggaraan tarian Saman massal, masyarakat atau wisatawan yang hadir ke Gayo Lues bisa lebih dekat mengenal keindahan alam, kopi, serta berbagai produk unggulan yang dihasilkan warga setempat. “Gayo Lues juga dikenal dengan destinasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sehingga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk mengunjungi dataran tinggi tersebut. Jadi, upaya tarian massal juga bagian promosi kami ke dunia,” tuturnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, menjelaskan atraksi Saman 10.001 penari yang sudah menjadi bagian dari Calendar of Event (CoE) Aceh mampu menggugah masyarakat luas, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara.

“Ini akan menjadi kesempatan untuk mempromosikan pariwisata Kabupaten Gayo Lues. Apalagi, tari Saman sudah menjadi bagian dari Calendar of Event (CoE) Aceh,” sebutnya.

Momen Saman tersebut bisa menjadi kesempatan luas dalam mempromosikan dan mengenalkan Gayo Lues sebagai daya tarik kunjungan wisatawan secara besar-besaran termasuk lewat media sosial.

“Kehadiran wisatawan nusantara atau wismancanegara ke Gayo Lues untuk melihat langsung tari Saman ini, juga harus dikemas semenarik mungkin sehingga mereka tidak hanya mengenal dan belajar langsung gerakan tarian Saman dengan masyarakat lokal, tapi dapat memahami filosofi setiap gerakan tari Saman yang penuh makna, tentunya sambil menikmati alam serta kuliner daerah,” terangnya. (M-2)

Komentar