Jeda

Lebih Bijak Memilih

Ahad, 20 August 2017 06:05 WIB Penulis: Rio/M-4

Sejumlah korban kasus penipuan dana Umroh First Travel melakukan audiensi kepada perwakilan Komisi VIII dan Fraksi PPP di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (18/8). -- ANTARA FOTO/Reno Esnir

IMPIAN Donny bertamu ke rumah Allah pertengahan tahun ini kandas. Dana Rp28 juta yang sudah dibayarkan untuk paket promo umrah bersama istrinya masih menanti kepastian pencairan. “Saya daftar sekitar awal Februari 2016. Karena ini paket promo, pihak travel menjanjikan akan diberangkatkan satu tahun ke depan, sekitar Maret sampai Mei 2017,” tutur Donny ketika dijumpai di kantornya di bilangan Jakarta Barat, Selasa (15/8).

Setelah menanti hampir satu tahun, awal 2017, Donny mulai menanyakan jadwal keberangkatan kepada agen yang juga temannya. Pada 8 Maret 2017, agen itu menginformasikan Donny dan istri akan berangkat 20 April 2017. Layaknya calon jemaah umrah kebanyakan, antusiasme dan persiapan mulai terasa. “Biasanya setelah mendapat kepastian tanggal keberangkatan, satu minggu sebelumnya pasti akan di-follow up lagi soal detail keberangkatannya. Detail itu tidak saya dapatkan dan justru yang di­da­pat jadwal keberangkat­an yang mundur hingga Mei 2017,” ungkap Donny.

Penjadwalan ulang tidak hanya sekali, tapi empat kali. Jika penjadwalan sudah lima kali diundur, calon jemaah berhak mengajukan pengembalian dana penuh atau membawa ke ranah hukum. “Karena informasinya seperti itu, ya, saya tunggu. Apalagi teman saya baru saja diberangkatkan Desember 2016, jadi saya optimistis,” kata dia.

Saat penjadwalan diundur keem­pat kalinya, Donny pun memutuskan untuk membatalkan keberangkatan dan meminta pengembalian dana. Keputusannya dinilai tepat, saat Donny mendengar izin PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel) dicabut Kementerian Agama (Kemenag). Ia menjadi salah satu korban dari ribuan jemaah lain yang gagal diberangkatkan.

Kasus Donny bukan kali pertama. Wakil Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) Muharom Ahmad menyebut kasus First Travel hanya sebagian kecil kasus yang terungkap, masih banyak kasus serupa tetapi tak terlihat. Kementerian Agama berupaya meningkatkan pengawasan dan sosialisasi pada penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) dan masyarakat.

Masyarakat diminta memastikan kredibilitas agen perjalanan melalui situs Kementerian Agama dan tidak tergiur oleh biaya umrah murah yang ditawarkan sehingga tidak ada lagi calon jemaah yang tertipu. (Rio/M-4)

Komentar