Pesona

Nasionalisme dalam Koleksi Busana

Ahad, 20 August 2017 06:46 WIB Penulis: Bintang Krisanti

MI/Arya Manggala

WARNA merah putih selalu lekat dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Nuansa warna itu pula yang dipilih Agnes L Budhisurya untuk koleksinya di peragaan bertajuk Puspa yang diselenggarakan New Playground Dept Store, Lippo Mall Kemang, Jakarta. Peragaan yang dihelat Selasa (15/8) ini mengangkat semangat kemerdekaan.

Meski begitu, Agnes bisa mengemas nuansa merah putih itu menjadi tidak biasa dan chic lewat tambahan penerapan warna hitam dan juga motif bunga. Contohnya gaun malam a-line asimetris dengan bunga sepatu merah besar di atas latar hitam putih. Latar monokrom itu terinspirasi oleh corak Poleng yang merupakan corak khas kain Bali.

Di gaun lainnya, Agnes yang memang terkenal dengan teknik lukisan menampilkan gambar bunga pada bagian rok ataupun cape. Agnes menjelaskan gambar bunga tersebut tidak menggunakan teknik lukis semata.

"Dalam desain untuk Fashion Show Puspa, saya menggunakan teknik bordir dengan detail tusukan jarum untuk menggambarkan serat-serat tulang pada kelopak mahkota bunganya," ujar desainer yang telah berkarier lebih dari 40 tahun ini. Untuk memberikan kesan kedalaman dan tidak datar, ia melakukan finishing dengan cat kuas lukis tekstil.

Agnes juga memadukan teknik tekuk yang membentuk kelopak bunga ditambah dengan goresan cat lukis yang menghasilkan efek tiga dimensi. Tak hanya itu, teknik cetak yang diolah dari lukisan kanvas juga diaplikasikan dalam berbagai gaun yang ditampilkan.

Serbabatik dan tenun

Selain Agnes, peragaan itu menampilkan koleksi dari jenama Batik Malam 200, Lumiere by Rasyid Salim dan Khanaan. Pada koleksi Batik Malam 200, motif batik parang tampak menjadi daya tarik utama.

Motif yang menyimbolkan status kebesaran dan filosofi tidak pernah menyerah itu diolah dalam busana-busana siap pakai. Selain itu terdapat juga motif seperti parang barong, janur kloso, parang kombinasi, wayang ceplo, ukel motif kupu-kupu dengan penerapan teknik cap.

Istimewanya, peraga Batik Malam 200 tidak hanya dari kalangan model-model muda, tapi juga kalangan ibu-ibu. Penggunaan model paruh baya ini sekaligus untuk menunjukkan busana yang dapat mengakomodasi ukuran tubuh yang tidak lagi seproporsional di kala muda.

Merek yang dimotori Sari Ramdani dan Mira Amahorseya ini juga memiliki misi untuk memberdayakan perajin batik lukis agar bisa bersaing dengan batik cap maupun cetak. Mereka membeli potongan kain langsung dari penghasil batik lukis diolah menjadi busana siap pakai dan dijual dengan harga di bawah Rp300 ribu, sesuai dengan namanya.

"Harga Batik Malam 200 termasuk produk fesyen batik dengan harga yang affordable," ujar Sari. Koleksi busana milik desainer kelahiran Pekalongan, Khanaan Shamlan, juga tak kalah nasionalis. Dengan tema lingir (pinggir dalam bahasa Jawa), Khanaan menggunakan motif pinggiran yang dikenal para perajin batik dengan istilah BOK. Motif ini sering digunakan sebagai finishing di tepian kain.

Sepuluh busana Khanaan didominasi dress dan tunik. "Sesuai dengan konsep asli Khanaan yaitu modest wear," tukas Khanaan yang baru saja mengikuti Arab Fashion Week 2017 bersama Bekraf. Sementara itu, desainer Rasyid Salim mengangkat tenun makassar dengan variasi motif unik dan warna yang lebih cerah. Ciri khas motif tenun zig-zag menyatu dengan potongan luaran dan jumpsuit yang klasik sekaligus elegan.

Untuk aksesori, Rasyid tak pernah absen memadukan ikat pinggang rumbai panjang dan kerincingan. Kedua aksesori itu melengkapi koleksi busana etnik yang menjadi ciri khas Rasyid. "Harapan saya melalui Fashion Show Puspa ini masyarakat bisa lebih mencintai hasil karya desainer dan perajin Indonesia sebagai bentuk nasionalis fesyen," pungkas Rasyid. (*/M-1)

Komentar