MI Muda

Dari Medan ke Kanada dan Roma

Ahad, 20 August 2017 00:16 WIB Penulis: Grace Kolin/M-1

DOK PRIBADI

NAROSU Siregar alias Rosy eksis di berbagai program yang telah mengantarnya eksis di berbagai kegiatan global. Nyatanya, pintu buat mengikuti jejak Rosy terbuka lebar. Kuncinya keterampilan berbahasa Inggris dan komitmen mengikuti berbagai persyaratan yang ditetapkan. Yuk, simak obrolan Muda dengan Rosy!

Ceritakan dong tentang Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN)?

Pada 2013, awal mulanya aku penasaran dengan kemampuan diri karena aku belum pernah ikut seleksi semacam itu sebelumnya. Jadi kayak aku modal memberanikan diri.

Ternyata aku lolos mengikuti program pertukaran Indonesia-Kanada. Kegiatan ini benar-benar membuka wawasan buat anak-anak muda Indonesia. Jadi, perwakilan setiap provinsi dikumpulkan, kemudian ikut kegiatan bareng bersama pemuda-pemuda dari Kanada. Jadi kita dibawa ke Kanada untuk merasakan langsung cross culture, belajar bekerja sama, dan bikin project bareng-bareng.

Kegiatan yang paling seru selama di Kanada?

Ada tiga yang paling berkesan. Pertama, waktu volunteer, aku jadi sukarelawan di sebuah women shelter, kayak rumah singgah buat perempuan. Terus yang kedua, ketika bergabung sama pemuda-pemuda Kanada untuk membahas suatu topik selama satu hari penuh. Kami belajar bareng tentang topik internasional. Ketiga, belajar lagu-lagu dan tari-tari Indonesia sekaligus Kanada. Kami belajar kultur negeri sendiri juga orang lain.

Di penghujung program, kami bikin semacam pergelaran budaya.

Kutipan yang paling kamu suka dari Kanada?

Je reviens a Montreal, atau Aku kembali ke Montreal, judul lagunya d'Arianne Moffat.

Pembelajaran dari PPAN di Kanada?

Kami punya kesempatan membuka wawasan, beda banget apa yang kita alami di Indonesia sama dengan di luar negeri. Yang paling bahagia itu, kami pulang dengan membawa persahabatan lintas budaya, dengan orang Kanada, kami masih kontak-kontakan hingga sekarang.

Kultur Indonesia apa yang kamu perkenalkan di sana?

Banyak banget, sewaktu bosan makan pasta, steak-steak, dan salad. Aku pergi belanja sama host family ke Asian Store, toko bahan masakan buat Asia gitu. Di sana, aku dapat semacam bihun, kecap, jamur, pokoknya yang gaya-gaya Asia. Aku masak bihun spesial pake bawang goreng. Lalu, aku dan keluarga angkat ku nonton semacam reality show Amazing Race, pas syutingnya di Jawa Barat. Jadi sambil nonton, aku sambil ngejelasin gitu.

Aku juga bawa video-video promosi dari dinas pariwisata Sumatra Utara. Aku jelasin, di sini tempat aku berasal. Waktu sudah akhir program.

Lalu, bagaimana dengan perjalanan kamu selama mengikuti kompetisi Model United Nations (MUN) di Roma, Italia 2017?

Kalau PPAN kan kegiatan di luar akademik, sementara di Roma, sejalan dengan kegiatan belajar. Ini salah satu program Djarum Beasiswa Plus yang aku ikuti. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia terpilih dan lolos seleksi dapat beasiswa dari Djarum Foundation, semester lima dan enam kami dapat lima pelatihan.

Pelatihan terakhir, kami dapat International Exposure, kami berkunjung ke luar negeri, ikut kompetisi simulasi sidang PBB, model united nations di Kota Roma, Italia.

Skill yang perlu dikuasai agar bisa eksis meraih berbagai kesempatan seperti yang telah kamu capai?

Tergantung ke luar negerinya dari jalur apa, kalau dari jalur PPAN Kemenpora, yang paling pertama harus dikuasai itu bahasa Inggris. Lalu, isu-isu nasional dan internasional akan banyak ditanyakan selama seleksi. Jadi kita harus lebih tanggap dan aware sama apa yang terjadi saat ini. Setelah itu, kita harus bisa menguasai kebudayaan khas provinsi kita masing-masing.

Di situ, selain kita jadi duta pemuda, kita juga membawakan budaya Indonesia. Itu bakalan jadi modal banget pas seleksi.

Grace Kolin

Jurusan Ilmu Komunikasi,

Universitas Sumatra Utara

Komentar