Foto

Pahlawan 1.000 Jembatan

Sabtu, 19 August 2017 23:01 WIB Penulis: Sumaryanto Bronto

MI/Sumaryanto Bronto

DENGAN berseragam ­overalls merah lengkap dengan harness dan helm putih, seke­lompok pria itu tampak siap untuk misi penyelamatan. Meski bukan penyelamatan nyawa secara langsung, aksi mereka tidak kalah penting, bahkan menjadi tumpuan harapan banyak orang.

Para pria tersebut tergabung dalam Vertical Rescue Indonesia. ­Mereka merupakan sekumpulan anak muda yang mencurahkan tenaga untuk menolong pembuatan atau perbaikan akses lalu lintas ­manusia di daerah pelosok. Kini mereka tengah menjalankan program 1.000 Jembatan Gantung untuk Indonesia.

Pertengahan Mei lalu, jembatan gantung di aliran Sungai Cikandang di Kampung Cirinu, Kecamatan Pakenjeng, Garut, Jawa Barat, menjadi sasaran aksi mereka. Struktur ­jembatan itu diperkuat dari kondisi sebelumnya, karena jembatan ­tersebut menjadi akses ­utama bagi kampung yang memang belum mendapat fasilitas jembatan permanen dari pemerintah.

“Bermula pada 15 Oktober tahun lalu, kami mendeklarasikan Tim ­Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung untuk Indonesia dan langsung ber­gerak ke Kecamatan Pakenjeng, ­Kabupaten Garut, karena ada jembatan yang perlu diperbaiki mengingat kondisinya yang sangat membahayakan. Dalam waktu empat hari Tim Ekspedisi 1.000 Jembatan bahu-membahu bersama masyarakat berhasil menyelesaikan perbaikan,” ujar Tedi Ixdiana, motor Vertical Rescue Indonesia.

Keterlibatan Tedi dan teman-­temannya dalam 1.000 jembatan berawal dari pendataan dan pembukaan jalur pemanjatan tebing di seluruh Indonesia. Beberapa tebing yang telah dibuka Tedi kini menjadi destinasi wisata. Salah satu yang paling diminati ialah tebing suing di Gunung Kidul. Tak hanya membuka destinasi wisata, mereka juga melatih warga setempat menjadi pemandu dan pelatih vertical rescue.

Saat pendataan itu, Tedi dan vertical rescue sempat terlibat pembuatan jembatan di puncak Cartenz, Papua, pada 2015. Jembatan yang menjadi bagian rute pendakian ke puncak itu memiliki panjang 25 meter di ketinggian 4.884 mdpl.

Tim menghubungkan antartebing itu dengan jembatan tali tiga selebar 1 meter, yang wujudnya gampang dikenali dalam permainan outbound. Mereka mampu menyelesaikannya dalam tempo 2 jam, termasuk menaklukkan beban material dan logistik dengan berat lebih dari 2 ton. Waktu penuntasannya berbanding terbalik dengan waktu yang dibutuhkan guna keseluruhan ekspedisi itu, yakni selama 14 hari.

Hingga kini, 31 jembatan telah dibuat Tedi dan teman-temannya di seluruh Indonesia. Dana pembuatan jembatan diperoleh Tedi dari donatur. Ia memprioritaskan pembangunan jembatan yang di­butuhkan warga. Di samping itu, setiap pembangunan jembatan melibatkan warga sehingga warga bisa merawat jembatan gantung yang terbuat dari kawat baja dan beralaskan bambu atau kayu.

Tedi mengaku bahagia saat jembatan karyanya selesai dan digunakan masyarakat. Kehadiran jembatan itu dapat meningkatkan kesejahtera­an dan tidak ada lagi korban jiwa akibat hanyut arus sungai. (M-3)

Komentar