KICK ANDY

Salini Rengganis Menari di Atas Ombak

Sabtu, 19 August 2017 04:00 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

twitter

KARENA kulit eksotisnya dan paras menawannya, banyak yang mengira perempuan bernama lengkap Salini Rengganis Iedewa seorang model. Namun, perempuan kelahiran Yogyakarta, 13 Agustus 1998 ini merupakan atlet selancar (surfing) asal Pacitan, Jawa Timur. Sejak berusia delapan tahun, remaja yang akrab disapa Sali itu mulai menjuarai ajang selancar. Di usia ke-17-nya, Sali telah menjuarai sejumlah kejuaraan selancar nasional dan internasional.

Sejak usia lima tahun, Sali sudah tertarik dengan olahraga air itu. Kala itu Sali dan ayahnya Widjanarko Sadmoko, biasa dipanggil Weid Dewa, tinggal dekat dengan Pantai Teleng Ria Pacitan, tepatnya 500 meter dari rumah. Ayahnya yang berharap putri semata wayangnya itu menjadi model akhirnya mengajarinya cara bermain papan air. "Saya mulai dikenalkan (berselancar) oleh ayah sejak umur 5 tahun", kata Salini.

Dalam perkembangannya, ia mulai mengikuti perlombaan di usia 7 tahun. Meski begitu, kariernya selaku atlet selancar tidak mulus. Sali sempat berhenti selama dua pekan karena ia hampir tenggelam akibat tidak bisa renang. "Perlombaan yang paling berkesan di Mentawai karena pada saat itu dilepas untuk pergi sendiri dan umur baru 13 tahun, meskipun hanya sampai semifinal karena pada saat itu kaki saya luka terkena karang dan mendapat lima jahitan," imbuhnya.

Namun, di Bali pada 2009, ia merasa bangga dan semakin memantapkan diri sebagai atlet selancar. Rangkaian prestasi manis itu mengantarkannya sebagai model merek pakaian selancar, yaitu The Surfer Girl.

Kebaya
Karier yang gemilang di dunia selancar juga membuat Sali tertarik melakukan hal-hal aneh sambil berlancar. Salah satu yang nekat ia lakukan ketika ia merayakan ulang tahun ke-17-nya. Kala itu ia memutuskan melakukan selancar selama 12 jam, pukul 06.00-18.00 WIB di Pantai Watukarung Pacitan, Jawa Timur. Ia pun berhasil melakukan selancar 12 jam tersebut. Sali bahkan berniat merayakan ulang tahun ke-20-nya dengan berselancar di malam hari.

Di samping itu, setiap 21 April, Sali selalu melakukan satu hal, yakni berselancar mengenakan kebaya. Berkebaya sambil berselancar dilakukannya sebagai bentuk penghormatan Sali kepada sosok pahlawan perempuan Indonesia, RA Kartini. "Susah berselancar pakai kebaya, kadang copot-copot bawahannya, bule-bule pun mungkin melihat saya aneh berselancar pakai kebaya," imbuhnya.

Sali tidak hanya ahli berdiri di atas ombak, Sali tidak lupa lingkungan sekitarnya. Sebagai peselancar internasional, Sali terpanggil berbagi ilmu dan pengalamannya kepada anak-anak di pantai.
Dua tahun terakhir, ia mengajarkan selancar kepada anak-anak usia kelas 4 SD. Ia berharap anak-anak perempuan di daerah itu bisa berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia di olahraga selancar. (M-4)

Komentar