Features

Garuda di Dadaku, Macan di Perutku

Jum'at, 18 August 2017 10:28 WIB Penulis: Yanurisa Ananta

ANTARA/M RUSMAN

KAPAL-KAPAL kayu beragam warna bersandar di sungai belakang rumah milik Hasidah, 54, warga perbatasan Indonesia-Malaysia di Dusun Abadi RT 02, Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Kapal tersebut biasa mengangkut warga yang hendak menuju Tawau, Sabah, Malaysia dengan ongkos 30 Ringgit Malaysia (RM) atau setara dengan Rp100.000 dalam waktu 15 menit.

Hasidah bisa saja tidak mengeluarkan kocek sebesar itu untuk sekali belanja bahan pangan ke Tawau jika di dalam kawasan Indonesia harga pangan murah. Maklum, harga kebutuhan pangan yang dikirim dari Surabaya atau Sulawesi sudah memakan biaya operasional tinggi mengakibatkan harga tinggi di pasaran.

“Ya, dengan harga segitu akhirnya kami harus beli bahan pangan ke Tawau. Tidak sering. Sekali beli langsung banyak karena bahan pangan yang dikirim dari Surabaya atau Sulawesi terlalu mahal,” kata Hasidah di kediamannya di RT 02, Dusun Abadi, Kamis (17/8).

Terutama gas, Hasidah lebih menyenangi gas seberat 3 kilogram dari Petronas ketimbang gas dari dalam negeri. Pasalnya, gas seberat 3 kg dari Malaysia sudah disubsidi oleh pemerintah Malaysia sehingga lebih murah. Hasidah pun berharap anak laki-lakinya bisa segera bekerja, namun sayangnya pilihan pekerjaan minim.

“Kebanyakan di sini bekerja sebagai buruh bangunan. Tapi kan tidak selalu ada pembangunan di sini. Kami mohon kepada pemerintah untuk menyediakan lebih banyak lapangan pekerjaan di sini,” pinta Hasidah yang juga mengeluhkan soal ketersediaan air di Dusun Abadi.

Hasidah adalah salah satu dari beberapa rumah warga yang terbangun di atas tanah Indonesia dan Malaysia. Rumah Hasidah yang berukuran 8x10 meter memiliki ruang tamu di Indonesia dan ruang dapur di Malaysia. Hasidah lebih beruntung karena sudah mengantongi sertifikat hak milik dari pemilik lahan.

Berbeda dengan Berti, salah seorang pemilik warung tak jauh dari rumah Hasidah, yang tidak memiliki sertifikat rumah yang setengah berada di Indonesia dan setengah wilayah Malaysia. Berti menuturkan, tanah miliknya adalah sumbangan dari Kerajaan Malaysia yang sewaktu-waktu bisa saja digusur.

Soal kebutuhan pangan, Berti melontarkan hal senada. Untuk kebutuhan sehari-hari ia harus membeli dari Tawau, Malaysia. Di warung miliknya saja dijual beberapa kudapan merek Malaysia. Bahkan, transaksi yang dilakukan terkadang menggunakan mata uang Ringgit Malaysia. Warung Berti juga menjual kaus-kaus bertuliskan ‘I Love Tawau’.

“Barang-barang di sana lebih murah dari pada yang dari sini (Indonesia). Beberapa barang yang dijual kami bawa dari Tawau,” ujar Berti yang datang dari Goa, Sulawesi.

Berti menjelaskan, untuk pergi belanja penumpang kapal perempuan lebih mudah. Sebab, pos keamanan perbatasan Malaysia kerap mencurigai penumpang kapal laki-laki. Kadang penumpang yang ingin benar-benar berbelanja pun harus urung karena dinilai punya niat jahat.

“Begitu lah, laki-laki perempuan semua bisa berbelanja. Hanya lebih mudah perempuan karena mereka lebih kasihan melihat perempuan,” ujarnya.

Berti juga bercerita untuk memasuki kawasan pasar di luar Kantor Imigrasi di Tawau, Berti harus memperlihatkan passport miliknya. Dari dermaga Sei Pancang, Sebatik, bangunan tinggi sudah bisa terlihat. Asap yang membumbung dari kejauhan adalah sebuah pabrik. Pemandangan itu berbeda jauh dengan yang ada di perbatasan sisi Indonesia di mana hanya berisi permukiman warga yang minim aktivitas perdagangan.

Di kalangan warga pameo ‘Garuda di dadaku, Macan di perutku’ tersebar luas. Maksudnya, mereka tetap mencintai Indonesia sebagai tanah air namun untuk urusan perut mereka masih mengandalkan Malaysia yang memiliki lambang Negara macan. (OL-6)

Komentar