HUT RI

Membangun Karakter Manusia Merdeka dengan Revolusi Mental Berbasis Pancasila

Rabu, 16 August 2017 11:42 WIB Penulis: Puput Mutiara

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Chandra Surapaty---Dok. BKKBN

GERAKAN Revolusi Mental yang digaungkan dalam masa Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla merupakan strategi pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter.

Hal tersebut bertujuan menciptakan generasi masa depan berkualitas, terutama bila dikaitkan dengan bonus demografi yang akan diraih Indonesia pada periode 2020-2030. Bonus demografi merupakan satu negara akan didominasi angkatan kerja produktif dengan usia 15-64 tahun.

Pada masa itu, bila tidak diantisipasi, bonus demografi yang mestinya sebagai anugerah bisa menjadi bencana. Karena itu, sejak sekarang pemerintah mempersiapkan generasi tersebut menjadi SDM berkualitas.

Untuk itulah, salah satu Nawa Cita Presiden Jokowi ialah melakukan gerakan Revolusi Mental melalui mengubah nilai-nilai (values), keyakinan (belief), pola pikir (mindset), tingkah laku (behaviour), dan budaya yang didasari atas ideologi Pancasila.

“Revolusi Mental di dunia selalu berbasis ideologi. Indonesia punya ideologi Pancasila, paradigmanya manusia mempengaruhi materi dengan kekuatan karakter yang berintegritas, etos kerja tinggi, serta memiliki semangat gotong royong,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ketiga karakter tersebut sejatinya merupakan tujuan Revolusi Mental yang digalakkan Bung Karno sejak 1957. Namun, apa yang telah dicita-citakan para ‘pendiri bangsa’ untuk menjadikan manusia Indonesia kuat secara karakter tidak tercapai sehingga kualitas hidup masyarakat rendah.

Secara definisi, Revolusi Mental, menurut Bung Karno, ialah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati ‘putih’, berkemauan baja, bersemangat bak ‘elang rajawali’, serta berjiwa api yang menyala-nyala.

Surya berpendapat gerakan tersebut harus dimulai dari lingkungan keluarga. Sebabnya, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan asah, asih, dan asuh bagi seorang anak.

Keluarga juga merupakan komunitas pertama tempat anak belajar konsep baik dan buruk sekaligus menjadi wahana pembentukan karakter.

“Di dalam keluarga, orangtua harus menjadi panutan bagi anaknya. Dengan begitu, diharapkan akan terbentuk generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari,” tutur Surya.

Namun, di era globalisasi seperti sekarang ini, keluarga Indonesia menghadapi tantangan yang sangat berat. Derasnya arus informasi dan budaya buruk dari luar seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan banyak kejadian luar biasa, seperti kekerasan yang disebabkan pergeseran nilai dan budaya.

Untuk itu, diperlukan pemahaman dan pelaksanaan gerakan Revolusi Mental dimulai dari keluarga dan diri sendiri. “Pada keluargalah sebenarnya pendidikan karakter dan mental anak dibentuk, bahkan sejak masih berada dalam kandungan lewat pemberian gizi yang cukup dan seimbang serta kasih sayang nan melimpah. Keluarga Indonesia harus menjadi ‘tiang’ negeri yang kuat dan kokoh menuju Indonesia maju dan sejahtera,” tegasnya.

Dukungan program
Ia mengemukakan kampanye atau sosialisasi gerakan Revolusi Mental terus dilakukan dengan melibatkan pihak terkait, termasuk pemerintah selaku pemangku kepentingan, lembaga pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi, serta seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.

BKKBN, sesuai mandat, ikut berperan menyukseskan Nawa Cita ke-5 tersebut. Yakni, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dan ikut berkontribusi dalam dimensi pembangunan manusia bidang kesehatan dan karakter atau yang disebut Revolusi Mental.

“Hal itu dibuktikan melalui implementasi berbagai program yang menyentuh masyarakat langsung terutama keluarga,” terang Surya.
Program-program yang dicanangkan untuk mendukung gerakan Revolusi Mental berorientasi pada kemajuan dan modern sehingga Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang besar serta sanggup berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, utamanya dalam pembangunan manusia berkarakter. (S1-25)

Komentar