PIGURA

Nagapasa

Ahad, 13 August 2017 09:42 WIB Penulis: Ono Sarwono

KONSISTENSI TNI-AL memberikan nama-nama kapal selam tempur mereka dengan nama senjata dalam cerita wayang terasa unik, menarik, dan pantas diapresiasi. Tentu, selain bernuansa heroik, pemilihan nama itu punya filosofi sebagai senjata tempur nggegirisi (dahsyat).

Satu dari tiga buah kapal selam yang dipesan dari Korsel yang telah diserahterimakan baru-baru ini diberi nama KRI Nagapasa. Dua kapal selam TNI-AL sebelumnya juga diberi nama senjata dalam dunia wayang, yakni Nanggala (pusaka Baladewa) dan Cakra (Kresna).

Nagapasa ialah nama panah milik Indrajit alias Megananda, putra mahkota Negara Alengka. Bila panah itu dilepas, muncullah ular mahewu-hewu (tidak terbilang). Binatang berbisa itu lalu dengan ganas menyerang musuh. Siapa pun titah yang tergigit langsung lumpuh lalu koma dan kemudian secara perlahan akan mati mengenaskan.

Barisan kocar-kacir
Kisah yang menceritakan keampuhan Nagapasa tersua dalam lakon Brubuh Alengka. Ini cerita babak akhir ketika Alengka diserbu bala tentara kera anak buah Sugriwa yang mendukung Rama Wijaya dalam misi merebut kembali istrinya, Dewi Sinta, dari penguasaan Dasamuka.

Pada saat itu, pertahanan Alengka semakin merapuh. Demi menuruti nafsu memperistri Sinta, Dasamuka habis-habisan membendung gempuran lawan. Bukan hanya harta benda yang ludes, sebagian besar prajurit pilihan, senapati, dan orang-orang kepercayaan Alengka telah menjadi korban. Mereka, antara lain, patih Prahasta, Sarpakenaka, dan Kumbakarna. Sebelumnya, dua putra Kumbakarna, yakni Kumba-Kumba dan Aswani Kumba, juga telah mendahuluinya ke alam baka.

Putra Dasamuka, yaitu Trisirah, Trimuka, dan Trimurda, juga telah mati. Satu-satu anaknya yang masih hidup ialah Indrajit. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi Dasamuka untuk mempertaruhkan putra sulungnya terjun ke palagan melenyapkan klilip (musuh).

Dasamuka memastikan putranya mampu memungkasi peperangan dengan kemenangan. Keyakinan raja Alengka didasarkan pada kesaktian Indrajit yang memiliki pusaka sangat ampuh yang bernama Nagapasa.

Konon, pusaka ini pemberian dewa saat Indrajit membantu bapaknya menaklukkan Kahyangan. Ketika itu Dasamuka dan bala tentaranya bersedia meninggalkan Kahyangan dan kembali ke Alengka setelah dewa memberikan semua yang diminta.

Menurut sanggit pedalangan, setelah dilantik sebagai senapati, Indrajit bergegas maju perang dengan gagah berani. Ia menggasak musuh ke sana ke mari sehingga banyak bala wanara yang kalang kabut dan berkalang tanah. Sisanya mundur ketakutan.

Tanpa membuang waktu, Indrajit segera menyapu musuh, termasuk sasaran utama Rama dan adiknya, Leksmana Widagda. Panglima perang dari Kesatrian Bikukungpura itu melepaskan panah Nagapasa. Bagai kilat, panah melesat di langit yang mengeluarkan suara desing yang memiriskan. Pasukan wanara geger dibuatnya.

Begitu panah menghunjam tanah di kawasan musuh, terdengar suara menggelegar dan dalam sekejap muncullah ular menjijikkan yang sangat banyak. Ular-ular itu kemudian mengamuk menggigit semua yang berada di sekitarnya. Pasukan wanara kocar-kacir, lari tunggang langgang, sedangkan yang tergigit mati pelan-pelan.

Kembali ke asal
Ular-ular itu terus beringas menyerang. Rama dan Leksmana pun akhirnya terkepung sehingga keduanya tidak luput dari gigitan ular yang menyerang dari segala penjuru. Karena upasnya sangat ampuh, kedua pangeran dari Negara Ayodya tersebut demam dan akhirnya lunglai.

Gunawan Wibisana, adik Dasamuka, yang menggabdi kepada Rama, buru-buru berusaha menghentikan amukan Nagapasa. Ia melepaskan panah sakti ke langit dan dengan sekejap berubah menjadi ribuan burung serupa elang. Burung-burung itu mematoki ular-ular hingga habis.

Sesaat kemudian, Gunawan meminta Anoman mengambil tanaman Sandilata di Gunung Maliawan sebagai obat penawar racun yang menggerayangi nadi Rama dan Leksmana. Pun untuk menyembuhkan bala wanara yang tergigit.

Gunawan lalu bergegas menghampiri Indrajit yang merupakan keponakannya sendiri. Didatangi sang paman, Indrajit lalu menyembah. Suasana berubah menjadi hening. Ketegangan tiba-tiba menyeruak ketika Indrajit buka mulut dengan menuduh Gunawan sebagai pengkhianat.

Dengan sabar Gunawan mengatakan bahwa keputusannya hijrah ke Rama karena Dasamuka yang tidak bisa diluruskan dari keangkaramurkaannya. Didikan keutamaan orangtuanya, Resi Wisrawa-Dewi Sukesi, dicampakkannya hanya semata-mata demi memuaskan nafsunya.

Tidak ingin terjadi perdebatan, Gunawan lalu mengatakan bahwa saat inilah waktu untuk membeberkan rahasia yang selama ini ia pendam rapat. Ia katakan sejatinya Indrajit bukan anak Dasamuka. Indrajit ‘lahir’ dari gumpalan awan atas pemujaannya kepada dewa. Itulah yang melatarbelakangi namanya sejak lahir, Megananda.

Belum rampung Indrajit menata hati mendengar cerita membingungkannya tersebut, Gunawan menegaskan bahwa sikap membela Dasamuka merupakan kekeliruan besar. Kesatria yang sengaja ia ‘lahirkan’ itu semestinya tidak untuk mendukung keangkaramurkaan. Kesatria sejati kodratnya harus menegakkan kebenaran dan keadilan di jagat.

Kata-kata Gunawan itu menyadarkan Indrajit. Ia kemudian meminta maaf atas ketersesatannya. Seraya merajuk, ia memohon kepada sang paman untuk mengembalikan dirinya ke asal muasal. Gunawan segera bersemedi, Indrajit takzim mengikutinya. Tidak lama, keajaiban terjadi. Mendadak putra lelakinya yang semula digadang-gadang Dasamuka itu hilang tanpa bekas.

Senjata andalan
Itulah sekelumit kisah Indrajit, sang pemilik Nagapasa. Jika tidak ada peran Gunawan, bukanlah tidak mungkin ceritanya akan lain. Nyatanya, Rama dan Leksmana sempat menderita akibat keampuhan senjata tersebut.

Gunawan memang menjadi salah satu kunci kemenangan Rama karena semua rahasia Alengka seisinya berada dalam genggamannya, termasuk cara mengatasi keganasan Nagapasa.

Dalam konteks ini, Nagapasa yang digunakan sebagai nama kapal selam tentu dengan harapan dapat mempertebal mental dan semangat bertempur para awaknya. KRI Nagapasa juga dapat menjadi andalan TNI-AL dalam mengemban tugas mengamankan dan mempertahankan kedaulatan NKRI. Jalesveva jayamahe, di lautan kita jaya. (M-4)

Komentar