Jeda

Berkah Besar bagi Dunia Pariwisata Jember

Ahad, 13 August 2017 07:53 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

Pekerja membuat kostum Jember Fashion Carnaval (JFC) di Desa Tegalrejo, Mayang, Jember, Jawa Timur, Selasa (8/8). -- ANTARA FOTO/Seno

PANTAI Papuma Jember tampak ramai beberapa hari terakhir. Hal itu diakui satu pedagang di kawasan pantai itu. Bahkan, dia tidak tahu kala itu saat penyelenggaraan JFC 2017. “Beberapa hari ini ramai orang Jakarta Mas,” ujarnya saat berbincang dengan Media Indonesia.

Tak dapat dimungkiri JFC membawa berkah besar bagi dunia pariwisata Jember. Setidaknya tampak dari hotel yang tersewa penuh dari beberapa pekan sebelum penyelenggaraan acara. Selain itu, tiket pesawat sering habis. Bukan rahasia lagi, acara JFC mengundang banyak wisatawan untuk datang ke Jember. Namun, ternyata banyaknya wisatawan malah membawa masalah baru bagi daerah yang belum siap secara akomodasi.

Menteri Pariwisata pun berkomentar tentang masalah penginapan bagi para wisatawan yang ingin menikmati JFC. Jika dibanguni bangunan konvensional untuk penginapan, dikhawa­tirkan tempat itu akan sepi ketika acara JFC berakhir. Padahal JFC diadakan setahun sekali yang biasanya memakan waktu empat hari.

“Di Jember tidak ada lagi ajang sebesar ini (JFC). Jadi kalau kita bangun dikhawatirkan sepi,” terang Arief Yahya.

Arief Yahya lalu memberikan solusi untuk menyiasati kurangnya hunian saat acara besar, yakni dengan membuat hunian temporer. “Pikirkanlah temporary accomodation di sini. Jadi, untuk saat seperti ini kita buat semacam homestay,” ujarnya. “Jadi, harusnya pengelola kos bisa lebih kreatif. Kreativitas seperti itulah yang kita harapkan.”

Ikon Jember
Dalam sektor sosial budaya masyarakat Jember, JFC mampu mengubah paradigma orang tentang identitas Jember yang semula Jember sebagai Kota Religius beralih menjadi Jember Kota Mode/Efsyen. Setidaknya Jember mengalami tiga kali perubahan identitas budaya, yaitu Jember Kota Tembakau, Jember Kota Santri, dan terakhir Jember Kota Mode/Fesyen.

JFC telah berhasil menjadi identitas baru yang mengantarkan Kabupaten Jember untuk dikenal didunia internasional. JFC mampu menciptakan kesadaran, membangun citra, dan mempertinggi reputasi Indonesia di mata dunia. Hal itu berdampak signifikan terhadap ekonomi dan pariwisata.

Selain itu, paket-paket wisata destinasi dan produk unggulan di Jember harusnya bisa dipasarkan sehingga wisatawan datang ke Jember tidak hanya melihat JFC, tetapi juga ada alternatif liburan lainnya.

Siapa sangka JFC bisa menjadi sebuah ajang berkelas yang mempunyai nilai tinggi. Padahal, dulunya, ketika baru pertama menjalankan acara itu, keluarga besar Dinand rela menyiapkan JFC pertama kali hingga mereka diangggap gila oleh banyak orang. Mereka memang gila, gila untuk Indonesia. “Ternyata kita memang gila. Tapi gila untuk membawa nama besar Indonesia ke seluruh Indonesia,” ujar Dinand Faris saat jumpa pers, kemarin.

Bukan hal mudah untuk membesarkan JFC. Awal penyelenggaraan, JFC punya cerita unik tentang para peserta yang memakai make up seadanya, bahkan di antara mereka ada yang memakai lem untuk merias. Alhasil, setelah karnaval selesai, kulit mereka pun terkelupas.

“Di awal mereka pakai lem uhu, tema pertama kita meng­angkat tema punk, rambut ke atas,” jelasnya. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar