Jeda

Menerjemahkan Budaya dalam Kostum JFC

Ahad, 13 August 2017 07:53 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

GRAFIS/Caksono

SIANG itu arena pusat Kota Jember tidak seperti biasanya. Ribuan orang telah menyemut mengerubungi jalanan di sekitar tempat penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval 2017. Mereka tampak tidak sabar untuk menunggu rombongan para peraga yang bakal melintas di depan mereka dengan busana yang memelekkan mata dan mengundang decak kagum.

Mereka berdiri di belakang pembatas pagar besi yang dijadikan sebagai pembatas antara penonton dan peraga. Banyak di antara penonton yang terkejut dan kagum dengan peragaan busana yang sangat bergantung pada daya kreativitas itu.

Berbincang tentang rasa kagum atas busana yang dikenakan para peraga JFC. Ada cerita menarik dari seorang yang saat ini telah berdiri di barisan peraga JFC. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, ia hanya menonton di belakang garis batas.

“Awalnya itu dari darah seni saya yang suka hal yang unik. Kok bisa bikin mahkota se­tinggi itu dari apa? Penasaran saya,” terang Fian, 27.

Fian saat itu sedang bersiap di belakang panggung JFC. Fian ialah salah satu yang peraga yang bakal menyapa para pengunjung JFC 2017. Ia mengenakan kostum yang tidak biasa. Ia memakai baju besar dengan hiasan meriah. Bagian kepala dihiasi dengan paruh burung. Bagian belakang dari kostum yang dikenakannya pun punya sayap yang berukuran sekitar satu setengah meter.

Fian kala itu mengenakan kostum dengan tema Borneo. Ia lalu menerjemahkan tema itu menjadi busana berkonsep burung. Meski itu dengan bentuk megah, penonton akan mudah me­ngenali konsep tersebut dengan berbagai pernak-pernik dan atribut busana khas Borneo. Ia mengaku kostum itu lahir dari kreativitas dan didukung pendidikan dan pelatihan di Dinand Fariz Center. “Terus mengasah kreativitas saja. Soalnya kan ide itu enggak bisa habis,” ujar Fian.

Beda Fian, beda pula Della. Awalnya Della tidak berpikir untuk ikut dalam JFC. Saat Della melihat karnaval JFC, dia berpikir itu adalah hal berat yang dilakoni. Namun, dengan sedikit dorongan dari keluarganya dan keinginan untuk menjadi pusat perhatian, Della memberanikan diri untuk ikut dalam JFC. “Soalnya mikirnya, wah berat ini. Soalnya badan saya kan enggak terlalu besar,” ujar Della.

Dari situlah Della mulai mengikuti latihan di Dynand Fariz Center. Ternyata ia betah dan merasa sangat diterima dalam komunitas itu. Begitu pun ia juga mulai banyak belajar tentang dunia fesyen, mulai desain, berjalan, hingga dansa di atas catwalk.

“Terus ikut mulai dari latih­annya ternyata seru juga. Meskipun rumahnya jauh kan jadinya ingin lagi ke Dinand Fariz (Center). Ya akhirnya belajar-belajar. Masih betah,” tambah Della yang saat itu memakai kostum konsep Kerajaan Yogyakarta.

Meski demikian, Della mengaku menadapati kesulitan dalam proses pembuatan kostum. Kerangka baju yang dikenakan Della memakai kerangka besi. Gadis yang baru akan duduk di semester pertama perguruan tinggi ini tidak paham tentang las listrik. Jadilah ia meminta bantuan ayahnya untuk membuat idenya menjadi nyata. Beruntung Della punya orangtua yang sangat mendukung minatnya di dunia fesyen. “Desainnya gampang, tapi untuk munculin benar-benar seperti gambar itu susah,” tandasnya.

Orangtua Della, Didik Hardiyanto, mengaku akan mendukung minat anaknya itu. Bahkan ia pun rela berpanas-panas mendampingi Della yang tengah menunggu giliran untuk berjalan di atas catwalk aspal sepanjang 3,6 km.

“Ya di-support terus,” ujar Dodik.

Jembatan karier
Ada harapan besar dari para pendukung JFC, baik peserta maupun penonton. Salah satunya adalah Della ingin agar JFC bisa menjadi jembatan bagi anak muda untuk meniti karier di dunia fesyen profesional.

“Dengan adanya JFC, mungkin kalangan yang biasa bisa gitu lo jadi desainer yang profesional,” pungkas Della.

Jember Fashion Carnaval (JFC) dihelat pada 9-13 Agustus 2017 di Alun-Alun Jember, Jawa Timur. Perhelatan berskala internasional itu memasuki tahun ke-16 dengan mengusung tema Victory yang artinya kemenangan. Alasan diangkatnya tema ini tidak lain karena di umur 16 tahun, telah menorehkan banyak kemenangan di tingkat dunia.

“Banyak sekali yang sudah kami raih, kurang lebih ada sekitar 12-13 penghargaan dan itu semua dari yang terbaik kami ambil jadi tema untuk inspirasi tahun ini,” ujar Dynand saat ditemui di sela-sela acara, Jumat (11/8).

Tema besar Victory juga berisi 10 tema unik yang mempresentasikan perjalanan JFC dalam meraih prestasi di level dunia dalam kategori national costume, yakni Srivijaya Empire, Bali, King of Papua, Mystical Toraja, Siger Crown Lampung, Borneo, Chronicle of Borobudur, Mythical Toraja, Worderful of Betawi, dan Unity in Diversity.

JFC telah meraih banyak penghargaan seperti Best National Costume Miss International 2014 di Tokyo, Jepang; Best National Costume Miss Supranational 2014 di Warsawa, Polandia; Best National Costume Miss Universe 2014 di Florida, Amerika Serikat; Best National Costume Miss Supranational 2015 di Warsawa, Polandia; Best National Costume Miss Grand International 2016 di Las Vegas, Amerika Serikat; dan Best National Costume Miss Tourism International 2016 di Malaysia.

Yang membuat berbeda, JFC 2017 tidak diperagakan model profesional seperti ajang fesyen internasional lainnya, yakni Jakarta Fashion Week atau Indonesia Fashion Week. Para peraga yang tampil adalah ratusan murid dari berbagai tingkatan dan komunitas di Jember.

Satu misi dari JFC 2017, yakni agar ketika melihat show JFC 2017, wisatawan yang datang seperti melihat etalase Indonesia. JFC tidak hanya milik Jember, tetapi juga milik Indonesia. (M-2)

Komentar