WAWANCARA

Benny Prawira Siauw - Saatnya Mendengar dan Membantu

Ahad, 13 August 2017 07:14 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

Koordinator Komunitas Into The Light, konseling masalah bunuh diri, Benny Prawira Siauw -- MI/Adam Dwi

FENOMENA bunuh diri di Indonesia cenderung meningkat belakangan. Bahkan ada yang menyiarkan langsung proses gantung diri di akun media sosialnya. Pelakunya pun beragam, dari orang dewasa hingga anak-anak. Masalah ekonomi atau korban perundungan menjadi alasan tindakan mereka.

Apa yang sedang terjadi di masyarakat kita saat ini? Mengapa mereka memilih bunuh diri sebagai solusi dari berbagai permasalahan? Berikut petikan wawancara Media Indonesia bersama Benny Prawira Siauw, Ketua Koordinator Komunitas Into the Light, sebuah komunitas yang fokus menangani pencegahan kasus-kasus bunuh diri di Jakarta, Kamis (3/8).

Sebenarnya apa itu Komunitas Into the Light?
Komunitas Into the Light Indonesia adalah komunitas yang dibentuk anak-anak muda yang digerakkan untuk pencegahan bunuh diri dan promosi kesehatan jiwa, terutama pada remaja dan populasi-populasi berisiko tinggi lainnya. Nilai-nilai kami berdasarkan bukti ilmiah dan HAM. Kami berdiri sejak 2013. Pada 2012 saya menemukan di berita online setidaknya ada 1-2 orang yang terkena kasus kematian bunuh diri dan diliput media online. Masalahnya dalam beberapa minggu selalu ada kasus kematian karena bunuh diri di Indonesia dan tersebar di berbagai daerah, hanya saja kejadian kasusnya tidak sebesar saat ini dan pemberitaannya tidak seviral saat ini.

Sejak komunitas berdiri pada 2013 sampai saat ini, orang-orang yang datang meminta bantuan konseling kebanyakan dari kalangan apa?
Karena kami berawal dari media sosial, jadinya lebih banyak digunakan orang-orang dari umur 15-29 tahun. Namun, kami juga dari usia dewasa menengah seperti 40-50 tahun. Sejak Juni 2013 sampai 6 Juli 2017 setidaknya terdapat 152 orang yang masuk ke e-mail ini. Akan tetapi, setelah kejadian bunuh diri 20 Juli 2017, e-mail yang masuk meningkat sangat drastis. Pada 26 Juli sampai 30 e-mail dalam sehari, bahkan beberapa hari kemudian sampai 100 e-mail dan kami belum bisa menanggapi semuanya.

Seperti apa konseling yang diberikan?
Pendampingan kami lakukan setiap Senin-Sabtu pukul 09.00-23.00 WIB. Itu adalah jam-jam kritis. Biasanya orang terganggu oleh pemikiran-pemikiran yang bertanya-tanya soal kehidupan, merasa begini-begini saja ataupun tekanan-tekanan lain dalam hidupnya.
Fokus utama kami dalam pendampingan ialah melakukan prediksi sejauh mana dan sudah seberapa lama seseorang memikirkan bunuh diri, sudah seberapa bahaya, karena ada tingkatan-tingkatannya. Kita bisa melihat seberapa jelas dia memiliki pemikiran untuk bunuh diri. Semakin jelas maka semakin berbahaya. Contohnya jika seseorang masih secara implisit membicarakan soal kematian, misalnya, "Saya ingin tidur dan tidak bangun-bangun lagi karena sudah capek dengan kehidupan saya," biasanya masih cukup aman dan dia tidak merencanakan secara mendetail. Namun, ketika seseorang sudah merencanakan detail dan bilang, "Saya ingin mati, saya ingin tabrakkan mobil saya dan saya mau lakukan itu besok malam." Ketika sudah sedetail itu dan dia punya akses ke mobil itu berbahaya dan ini harus segera kita tenangkan dan tanyakan alasannya.
Ini harus segera kita lakukan perujukan ke profesional karena kami tidak melakukan diagnosis apalagi orang ini bercerita melalui e-mail. Selama ini kami melakukan konseling via e-mail. Setelah dia bercerita via e-mail, kami lakukan deteksi dini sejauh mana kecenderungan bunuh dirinya dan kami ajarkan dia agar aman, menanyakan tujuan hidupnya, alasan hidupnya, dan kami akan cari tahu lokasi dia di mana sehingga kami merujuk ke psikolog atau psikiater terdekat dan dia mendapatkan pelayanan profesional untuk ditangani lebih lanjut.

Menurut Anda, fenomena apa yang sebenarnya sedang terjadi di masyarakat kita?
Pertama, bunuh diri itu tidak bisa disebabkan faktor tunggal, jadi bukan masalah masyarakat kita saja, ada kecenderungan biologis dari setiap orang yang berbeda. Dalam kesehatan masyarakat itu WHO sudah memprediksi pada 2020, depresi akan menjadi penyakit tertinggi. Kita tinggal 2,5 tahun lagi menuju 2020 dan ini sudah peringatan. Jika kita tidak segera mengatasi masalah depresi, bunuh diri, yang ditakutkan akan lebih banyak korban berjatuhan. Di 2030, WHO memprediksi depresi akan menjadi nomor 1 (faktor pembunuh).

Bagaimana tren bunuh diri di Indonesia?
Trennya kita kurang tahu karena tidak punya data. Indonesia tidak punya sistem pencatatan kematian akibat bunuh diri maupun pendataan terkait dengan gangguan jiwa secara mendetail. Kita (Indonesia) hanya ada riset kesehatan dasar, namanya untuk gangguan emosional, tapi tidak spesifik karena apa. Kalau ada kecenderungan peningkatan permintaan tolong itu karena exposure (maksudnya mereka mulai tahu bahwa ada komunitas yang peduli dengan bunuh diri).

Jika ada teman atau anggota keluarga kita yang ingin bunuh diri, kita sebagai orang terdekat harus melakukan apa?
Pertama kita harus tahan segala asumsi yang ada di dalam kepala kita. Lalu kita harus mendengarkan dia, tapi mendengarkan bukan hanya sebatas kata-katanya, melainkan juga menyimak, mendengarkan untuk mengerti. Jadi kita harus melihat di balik kata-kata itu, gestur tubuhnya seperti apa, apakah terlihat cemas, atau terlihat takut, sedih, dan itu harus kita baca.
Kita harus merefleksikan emosinya dia. Setelah merefleksikan emosinya itu akan terlihat bahwa kita berusaha mengerti dia, izinkan dia bicara dan melimpahkan isi hatinya hingga dia merasa lebih lega. Itu yang harus kita hargai, kadang-kadang ekspresi orang juga akan berbeda-beda, ada yang marah karena memang ketika orang yang sudah ingin bunuh diri, pemikiran mengenai orang sekitarnya itu terkunci.

Bagaimana jika rasa ingin bunuh diri itu muncul di dalam diri kita? Apa yang harus dilakukan?
Jauhkan diri dari sumber bahaya, terutama kalau sudah memiliki pemikiran perencanaan. Harus melawan dengan mendekatkan diri ke orang-orang lain, sibukkan diri dengan kegiatan lainnya, itu yang akan membuat kita berpikir kita punya rencana untuk hari esok, setidaknya ada pemikiran seperti itu dan menahan kita. Ada salah satu penyintas yang bilang, dia bilang saya ingin mati tapi saya tunda. Dalam jeda waktu itu dia bertemu dengan hal-hal yang menyenangkan. Jadi ada banyak cara untuk setiap orang mengatasi rasa keinginan untuk bunuh diri. Akan tetapi, jika keinginan bunuh diri itu sudah berkepanjangan, sudah terlampau jelas dan berbahaya, segera hubungi psikolog atau psikiater. Psikolog itu ditanggung BPJS Kesehatan.

Jika dibandingkan dengan orang-orang yang hidup di negara-negara maju, yang sudah makmur yang ternyata angka bunuh dirinya cukup tinggi. Kalau di Indonesia alasan ekonomi dijadikan salah satu alasan untuk bunuh diri. Bagaimana Anda melihatnya? Mengapa orang yang tinggal di negara maju dan makmur tingkat depresinya juga tinggi?
Berdasarkan data WHO 75% angka kematian global disumbang negara-negara berpendapatan rendah-menengah. Jadi negara-negara yang pendapatannya tinggi dan angka bunuh dirinya juga tinggi, itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang berasal dari negara berpendapatan rendah-menengah. Hanya, coverage media (di negara maju) karena sudah aware dengan mental healthy issues, mereka juga mengangkat suara itu sehingga terlihat lebih banyak di sana (di negara-negara maju). Di kita justru sangat rendah sekali coverage-nya, datanya pun tidak ada.
Kedua ialah masalah biopsikososial. Jadi ketika masalah kondisi sosial sudah terkover dari ekonominya bahkan mampu membayar jasa penyembuhan mental illness, tapi ada masalah-masalah biologi yang tidak kita ketahui dari setiap orang. Ada genetika yang memiliki kecenderungan mental illness, ini yang masih banyak menjadi tanda tanya karena faktor-faktor ini terlampau rumit untuk berinterksi satu sama lain sehingga cukup sulit bagi kita untuk memastikan latar belakang tindakannya.

Bagaimana jika dikaitkan dengan masalah keimanan seseorang?
Banyak orang yang mengatakan bahwa orang-orang yang bunuh diri itu karena imannya yang kurang kuat. Ketika kita berbicara mengenai tahapan-tahapan bunuh diri, ada sebuah teori. Di tahap keenam atau tahap terakhir ketika orang mau bunuh diri, semua pengetahuan ideologi, keyakinan, itu akan luntur karena rasa sakit (secara psikis) yang dia rasakan begitu dahsyat sehingga dia ingin lari dari rasa sakit itu. Kalau melihat hal ini dari faktor iman, itu sama saja mereduksi beragam masalah yang sangat kompleks ke dalam suatu penjelasan, dan saya rasa kurang tepat. Namun, memang jika kita melihatnya sebagai orang lain, itu kita akan cenderung menganggap orang yang bunuh diri itu kurang iman karena otak kita itu berusaha menghemat energi, kita tidak mungkin berusaha menampung segala informasi yang kompleks dalam waktu yang singkat.

Bagaimana seharusnya yang dilakukan pemerintah?
Sebenarnya langkah-langkah pemerintah sejauh ini sudah cukup baik untuk pencegahan bunuh diri. Kami sudah sering diajak bekerja sama oleh pihak Kementerian Kesehatan untuk seminar, sosialisasi, mengembangkan alat ukur terkait dengan perilaku bunuh diri. Yang kita butuhkan program-program jangka panjang seperti hotline dengan sistemnya yang sangat rapi, dimulai dari rekrutmen dan seleksi dari tenaga sukarelawan, biaya kompensasi, dan benefit untuk mereka.
Ini yang perlu diperhatikan karena training untuk hotline atau crisis center itu sudah ada standardisasi secara internasional dan tidak bisa sembarangan. Jadi kalau sudah terlatih, akan dapat melayani tanpa panik, tapi sulit sekali karena Indonesia sangat luas dengan jumlah masyarakat yang banyak, maka harus dipikirkan man power planning-nya seperti apa. Terkait dengan masalah sistem pencatatan kematian bunuh diri, untuk pilot project-nya saja bisa memakan waktu dua tahun dari pengalaman yang sudah diterapkan di berbagai negara. Jadi nanti kita tahu rentan umur pelakunya, area mana yang banyak kejadian, dll. Tentunya akan banyak tantangan karena kita harus mengintegrasikan data-data dari kepolisian dan rumah sakit, siapa orang yang bisa melakukan pencatatan ini, masih banyak sekali yang harus dibenahi dan dilakukan segera.

Bagaimana sikap yang harus diambil masyarakat terkait dengan fenomena bunuh diri ini?
Masyarakat harus diberdayakan, diperbanyak lagi komunitas-komunitas pencegahan bunuh diri, kita harus memperkaya kemampuan mereka untuk mendengarkan dan mencari bantuan. Sudah tidak zamannya lagi menstigma orang yang datang ke psikolog atau psikiater sebagai orang gila. Selain itu, masyarakat jangan memviralkan hal-hal mengenai orang yang sedang melukai dirinya, mencoba bunuh diri, dan harus langsung di-report. Dalam kondisi sehat jiwa saja itu dapat menimbulkan traumatik, lalu bagi keluarga yang ditinggalkan? Bayangkan mereka harus berduka dan rentan untuk melakukan bunuh diri berikutnya. Bagi orang-orang yang depresi ketika menonton konten yang diviralkan itu akan membuat mereka terinspirasi untuk bunuh diri, lalu komentar negatif dari netizen pada konten bunuh diri, itu membuat orang-orang yang depersi tadi enggan untuk mencari bantuan karena menganggap masyarakat akan membenci dia, menghakiminya, bahkan dianggap konyol.

Dari e-mail yang masuk terkait dengan permintaan tolong tentang bunuh diri tersebut, apakah hanya berasal dari kota-kota besar? Apakah fenomena bunuh diri di Indonesia sudah pada tingkatan yang mengkhawatirkan?
Kebanyakan dari kota-kota besar, tapi ada juga dari daerah NTT dan NTB. Kalau dilihat mengkhawatirkan, saya rasa satu kematian saja sudah sebuah tragedi apalagi kalau sudah banyak? Bahkan dalam sebuah kondisi banyak dalam satu minggu. Jadi iya ini (sudah mengkhawatirkan) dan ini menjadi sebuah tragedi yang seharusnya bisa dicegah secara bersama. (M-4)

Komentar