Ekonomi

Pola Konsumsi Publik semakin Efisien

Ahad, 13 August 2017 06:58 WIB Penulis: Andhika Prasetyo

Ekonomi UI, Faisal Basri -- MI/M. Irfan

BADAN Pusat Statistik (BPS) menyatakan terdapat perubahan pada pola konsumsi masyarakat, yaitu mereka semakin cerdas dan efisien dalam bertransaksi. Perubahan pola itu terlihat dari pembelian atau belanja lewat e-commerce, masyarakat cermat menabung, dan mereka juga mengalihkan dari industri ke arah padat modal.

“Jadi yang sejatinya terjadi ialah perubahan pola konsumsi masyarakat. Tidak ada itu penurunan daya beli. Terbukti daya beli masyarakat masih tinggi,” sebut Kepala BPS Suhariyanto saat ditemui dalam acara Forum Merdeka Barat, Jakarta, kemarin.

Ketjuk, begitu biasanya Suhariyanto disapa, menegaskan, berdasarkan data yang dihimpun dari BPS, mustahil bila daya beli masyarakat pada saat ini anjlok. Pasalnya, tingkat kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) masih dominan. Menurutnya, konsumsi masyarakat masih tumbuh kuat.

“Pengeluaran rumah tangga pada kuartal II itu 4,95%. Itu tumbuh kuat. Jadi, kalau ada yang bilang (konsumsi rumah tangga) turun, sangat tidak mungkin. Kalau dibanding triwulan I, itu 4,94%. Meskipun tipis, naik,” kata dia.

Kepala BPS menambahkan, saat ini konsumsi rumah tangga menyumbang 2,65% terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2017. Pertumbuhan ekonomi sendiri pada kuartal II 2017 tumbuh sekitar 5,01%.

Tak hanya itu, sektor food and beverages (F&B) juga mengalami pertumbuhan, yakni restoran dan hotel tumbuh 5,87%, sedangkan makanan dan minuman 5,24%.

“Restoran dan hotel ada indikasi bahwa gaya atau perilaku konsumsinya agak berubah. Orang lebih senang makan di luar di restoran dan hotel,” imbuh dia.

Selanjutnya, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga tercatat menguat, yaitu 5,36% (year on year/yoy) pada triwulan II 2017. Menurut Ketjuk, pertumbuhan ini didorong oleh investasi bangunan, kendaraan, dan peralatan lain.

“Realisasi belanja pemerintah untuk belanja modal juga tercatat meningkat jika dibanding triwulan kedua tahun lalu. Belanja modal pemerintah yang cukup bagus ini akan memberikan sinyal positif kepada swasta,” tandas dia.

Hanya isu
Senada juga disampaikan ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri. Menurut dia, tidak ada yang perlu dipersoalkan dengan daya beli masyarakat saat ini. Dikatakan, pergeseran pola konsumsi juga terjadi di kalangan masyarakat. Saat ini konsumsi leisure atau hiburan terus bertumbuh sehingga memengaruhi konsumsi primer.

“Lihat saja pariwisata. Tidak ada orang yang dari Jakarta ke Banyuwangi jalan kaki. Penumpang angkutan udara periode ini naik 10,2%. Penumpang kereta juga naik 8,53%. Itu kan tidak gratis. Itu belanja juga,” ucapnya.

Peningkatan juga terjadi pada belanja akomodasi yang pada kuartal pertama 2017 berada di angka 4,70% menjadi 4,84%.

Jadi, menurut dia, isu daya beli menurun yang dilontarkan saat ini hanya sebuah curahan perasaan beberapa pihak yang mengalami penurunan pendapatan.

“Pertumbuhan ritel itu tidak mengalami penurunan, tapi pertumbuhannya melambat, biasalah kalau omzetnya turun, pengusaha teriaknya kencang. Namun, kalau rezekinya bagus, enggak teriak karena nanti orang pajak datang,” tukas dia.

Indikasi lain yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tidak mengalami pelemahan ialah tarif pajak yang tidak ada kenaikan. “Namun, kalau pemerintah jadi menurunkan tingkat batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP), baru terasa.” (E-4)

Komentar