Ekonomi

Produksi Gula Tahun Ini Ditargetkan Naik 11 Persen

Sabtu, 12 August 2017 23:05 WIB Penulis: Gabriella Jessica Sihite

ANTARA/M Agung Rajasa

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI menargetkan produksi gula tahun ini bisa mencapai 316 ribu ton. Jumlah tersebut naik 11,6% dari realisasi produksi tahun lalu yang sebesar 283 ribu ton.

Direktur Utama RNI Didik Prasetyo mengatakan kenaikan produksi itu diperkirakan akan terjadi karena cuaca sudah mulai mendukung tanaman tebu. Rendemen (kelebihan) tebu RNI saat ini mencapai 7,76% atau naik dari tahun lalu yang hanya 6,4%.

"Jadi tahun lalu itu memang lebih rendah karena rendemen yang rendah. Cuaca tahun ini lebih mendukung lah, sehingga rendemen kami naik," ucap Didik kepada wartawan di Tarakan, Kalimantan Utara, Sabtu (12/8).

Selain karena cuaca, rendemen tebu RNI mengalami peningkatan lantaran adanya mesin penggiling baru di pabrik gula Rejo Agung Baru di Madiun. Pabrik gula itu milik PT PG Rajawali I, anak usaha RNI.

Didik menyebut, mesin baru di pabrik tersebut memiliki tingkat rendemen 7,9%.

"Karena itu juga rendemen kami bisa naik tahun ini," tukasnya.

Per 4 Agustus 2017, produksi gula RNI mencapai 102 ribu ton. Dengan begitu, perlu produksi 214 ribu ton untuk mencapai target. Didik optimistis target bisa terpenuhi lantaran saat ini masih sedang musim panen dan penggilingan tebu hingga Desember mendatang.

Namun, yang menjadi kendala saat ini bagi Didik, ialah menjual gula-gula tersebut. Kini, stok gula RNI ada sebanyak 30 ribu ton dan dinilai Didik termasuk berlebih.

"Ya normalnya stok kita mestinya habis terus. Makanya kami sekarang lagi gencar jualin lewat anak usaha, PT Rajawali Nusindo," papar Didik.

Adapun PT Rajawali Nusindo merupakan anak usaha RNI yang bergerak di bidang perdagangan dan distribusi. Beberapa daerah wilayah operasional Nusindo dinilai sudah mulai menjual gula produksi RNI sejak sebulan lalu.

"Sudah mulai terlihat penjualannya di beberapa tempat, seperti Surabaya, Jogja, dan Sidoarjo. Yang paling sulit penyebarannya memang di Indonesia timur karena kebutuhannya sedikit, tapi biaya logistiknya mahal," imbuh Didik. (OL-2)

Komentar