Hiburan

Kehidupan Dalam Ponsel Pintar

Ahad, 13 August 2017 00:31 WIB Penulis: Her/M-4

DOK. SONY PICTURES

GENE (TJ Miller) tinggal di Textopolis, dunia di dalam ponsel pintar milik Alex (Jake T Austin). Sebagaimana ayah dan ibunya, Gene keturunan emoji ‘meh’. Kehidupan di kota itu, semua orang hanya bisa menunjukkan satu jenis ekspresi dan fungsi sesuai keturunannya. Para smiley hanya tersenyum, emoji cry hanya bisa menangis apa pun situasinya.

Namun, Gene berbeda. Dunia tampak begitu menarik baginya sehingga emoji ‘meh’ itu sering kali tidak dapat menahan diri untuk menampilkan raut emosi lainnya. Dia sering terdorong tersenyum, memunculkan gambar hati di matanya, juga ekspresi lainnya.

Ketidakmampuannya menjaga satu ekspresi itu berbuah bencana di hari pertama Gene masuk kerja. Alih-alih menampilkan wajah ‘meh’, dia malah panik dan tampil sebagai emoji dengan raut yang lain. Gene dianggap mengalami malfungsi dan harus dihapus dari Textopolis.

Upayanya menyelamatkan diri mempertemukan Gene dengan Hi-5 (James Corden), emoji berbentuk tos, yang tersingkir karena tidak lagi populer. Tingkat popularitas di Textopolis ditentukan seberapa sering Alex memilih emoji itu. Semakin jarang digunakan, maka emoji itu pun akan tersingkir dan diasingkan teman-teman sesama emoji.

Mengetahui masalah Gene, Hi-5 mengusulkan agar mereka mencari peretas yang bisa mengubah kodenya sehingga Gene bisa menjadi ‘normal’ dan berfungsi selayaknya ‘meh’. Mereka pun bertemu dengan Jailbreak (Anna Faris) yang membawa mereka keluar dari Textopolis, bertualang ke cloud untuk meretas ulang kode emoji tersebut. Petulangan mereka menyusuri berbagai aplikasi di ponsel Alex membuat sang pemilik mengira gawai­nya itu rusak dan perlu diservis untuk direset ulang. Ketiganya pun berkejaran dengan waktu untuk membuat Gene hanya bisa menampilkan ekspresi ‘meh’ sembari kabur dari kejaran antivirus yang dikirim untuk menghapusnya.

The Emoji Movie yang sudah bisa dinikmati sejak kemarin sebenarnya cukup deskriptif dalam menghidupkan imajinasi di dalam ponsel pintar.
Penonton diajak menyelami wallpaper ponsel yang menampilkan banyak aplikasi, bahkan terjun ke ‘trash’ tempat berkas yang tidak diinginkan. Cara kerja virus, spam, juga antivirus, juga dihidupkan lewat karakter. Dengan cara penggambaran yang penuh warna, animasi Sony Pictures Animation ini bisa jadi media pembelajaran soal teknologi.

Sayangnya kalau bicara naskah dan alur cerita, film ini cenderung datar. Jika Anda pernah menonton film Inside Out bertema sentral soal emosi, hampir dapat dipastikan Anda tidak akan merasakan kepuasan yang sama setelah menonton The Emoji Movie. Keduanya memiliki dua tema yang sama, yakni soal emosi dan pergulatan batin seorang remaja. Bedanya, yang satu mampu mengaduk emosi penonton, sedangkan satunya lagi serba tanggung dan hambar.

Di sisi lain, meski dinyatakan untuk semua umur, nyatanya film tersebut mengandung humor yang tidak terlalu pantas untuk kategori anak-anak. Salah satu contohnya adegan-adegan terkait emoji berbentuk kotoran (Patrick Stewart).

Pada akhirnya, kesuksesan paling besar dari The Emoji Movie garapan sutradara Tony Leondis ini ialah kemampuan mengiklankan berbagai aplikasi ponsel pintar. Mulai Candy Crush, Dropbox, hingga Youtube tampil di film ini dengan sangat kentara.

Alhasil, film animasi komedi itu justru terkesan dibuat sebagai media iklan model baru, alih-alih sebentuk hiburan. (Her/M-4)

Komentar