Tifa

Lakon Baru Tampilan Baru

Ahad, 13 August 2017 00:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

LAYAR panggung dibuka dengan tampilan yang unik di dalamnya. Beberapa set meja dan kursi berdiam kukuh di depan latar sebuah instalasi mirip gedung. Di situ banyak orang yang tampak tua sedang beraktivitas. Mereka menggerak-gerakkan tubuh layaknya olahraga.

Seolah menjadi kekhasan Teater Koma, panggung penuh dengan berbagai macam properti berukuran besar. Tata artistik memaksa decak kagum. Belum lagi dengan tata rias dan tata busana dalam pentas itu. Semua bersatu menyajikan visual yang menimbulkan kesan tentang manusia lanjut usia. Tidak tampak kesan muda dari setiap pelakon. Apalagi ditambah dengan kemampuan lakonan dari para pemain yang tidak perlu diragukan kualitasnya.

Ini merupakan pentas pertama setelah Teater Koma merayakan ulang tahun ke-40 dengan pementasan lakon Opera Ikan Asin (2/3). Teater Koma menyajikan lakon Warisan di Gedung Kesenian Jakarta. Masih didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, naskah baru karya N Riantiarno ini diselenggarakan mulai dari tanggal 10 hingga 20 Agustus 2017.

Ada yang beda dengan pementasan Teater Koma kali ini. Meski tetap dengan karakter pentas ala Koma, lakon berjudul Warisan kali ini tampak berbeda, di antaranya karena tidak adanya nyanyian, musik, ataupun koreografer sepanjang pentas berlangsung. Padahal aksi panggung seperti itu merupakan salah satu kekhasan Teater Koma. Belum lagi soalan gestur para pemain saat berdialog dan sikap tubuh mereka dalam merespons ruang. Semua tampak berbeda dengan kelaziman pentas Teater Koma, bahkan hingga pentas sebelumnya.

Lakon Warisan merupakan naskah yang baru pertama dipentaskan. Pentas ini berkisah tentang sebuah rumah jompo yang terkenal dan menjadi kebanggaan kota. Orangtua telantar ditampung di panti tersebut. Banyak pula orang yang menyumbang sukarela ke rumah jompo tersebut.

Delapan tahun kemudian, rumah jompo itu berubah. Mereka mulai menampung orang-orang kaya yang mampu membayar mahal. Rumah jompo pun dibagi dua, untuk orang-orang kaya dan untuk orang-orang miskin. Sebuah tembok tinggi memisahkan kedua tempat itu tanpa ada pintu yang menghubungkan.

Di tempat orang kaya, ada Miranti dan Munan yang kemudian saling berhubungan, mungkin juga berpacaran. Juga ada pula sosok lain yang mungkin pula ingin mengulang masa muda. Ada pula Sakiro dan Subrat yang selalu membahas partai politik, korupsi, dan utang. Masalah itu ada di negeri bernama Hindanasasa yang riwayat sejarah negerinya sama dengan riwayat negeri Sakiro dan Subrat.

Di tempat yang sama, ada penulis bernama Kirjdomuldjono atau Samana Sama. Dia merasa terganggu oleh Munan yang selalu berteriak kepada anak sulungnya. Munan selalu berteriak-teriak ketika anak sulungnya datang dalam bayangan. Munan tidak terima anaknya melakukan korupsi.
“Jangan ambil yang bukan milikmu,” begitu sepatah kata Munan (Budi Ross) ketika bayangan anak sulungnya yang korupsi muncul di benak Munan.
Ironisnya, Munan berada di tempat mahal itu dengan biaya dari anak sulungnya. Teriakan itulah yang membuat Kirdjomuldjono merasa terganggu dan ingin membunuh Munan. Tapi, dia tidak berani melakukan upaya pembunuhan.

Di sisi lain tembok, orang miskin sangat tidak terawat. Ada yang pindah ke panti wreda lain, beberapa masih tetap tinggal disana karena tak mampu pindah. Mereka hanya bisa pasrah. Biaya makin tinggi, area untuk orang miskin semakin sempit. Semua harus membayar, tentu saja membayar dengan harga yang sangat mahal. Masih adakah tempat bagi mereka yang tidak mampu membayar? Itukah warisan? Korupsi dan utang? Pertanyaan itulah yang menjadi cermin dari lakon Teater Koma kali ini.

Mencerdaskan penonton

Berbincang Teater Koma, komunitas seniman panggung itu dikenal dengan pertunjukan yang sangat menghibur. Mereka tak berfokus pada hiburan semata. Lebih jauh, mereka juga berturut dalam mencerdaskan penontonnya dengan menyuguhkan realitas panggung yang bisa menjadi semacam cerminan kondisi nyata saat ini.

Pementasan Warisan dapat digelar berkat dukungan yang diberikan dari semua pihak, mulai dari para pelaku hingga para penonton. Selama 40 tahun berkarya, beragam pula generasi penonton. Para orangtua mewariskan kecintaan mereka terhadap Teater Koma kepada generasi muda. “Kami berharap pementasan ini juga sama seperti pementasan kami sebelumnya, dapat menjadi cermin bagi kita semua, membuat kita melihat diri kita sendiri dan kemudian mengajak orang lain untuk becermin. Semoga warisan kami ini, bisa menjadi warisan kita semua,” ujar Ratna Riantirano, Pimpinan Produksi Teater Koma.

Proses pementasan ini pun cukup panjang. Naskah lakon Warisan dibagikan kepada pemain dan pendukung pada April. Lalu mereka menerima tugas pertama yakni mempelajari kondisi tubuh manula. Mereka harus mengamati manusia di atas 65 tahun. Para pemain mengunjungi sejumlah panti wreda dengan berbagai kondisi, tertata rapi atau berantakan. Ada panti yang dikelola yayasan ataupun pemerintah. Motivasi berdirinya panti juga berbeda, ada yang bermotif sosial, ada pula yang berlandaskan kepentingan bisnis. Ada panti yang menerima dengan tangan terbuka, ada pula yang melarang pengunjung mana pun untuk berkeliaran.

Beberapa pemain bahkan tidak hanya sekali dua kali berkunjung. bahkan ada yang sudah dianggap anak sendiri oleh penghuni salah satu panti wreda. Para pemain lalu menggali kemudian mempresentasikan tokoh yang mereka mainkan.

Demi kepentingan artistik pula, sejumlah pemain dan pekerja bahkan mengunjungi panti sampai luar kota. Ada beberapa panti wreda yang sudah berdiri sejak lama dengan bangunan arsitektur kuno. Salah satunya lalu dijadikan referensi untuk tampilan artistik panti wreda dalam lakon Warisan.

Eksplorasi artistik, penggalian karakter, dan presentasi pemain tersebut akhirnya bersatu di atas panggung. Semua menjadi cermin bagi penonton untuk bisa melihat kondisi panggung, bahkan bisa jadi kondisi negara ini. (M-2)

Komentar