Tifa

Gunawan Pamerkan Seni Cukil Hardboard

Sabtu, 12 August 2017 23:46 WIB Penulis: Agus Utantoro/M-2

MI/Agus Utantoro

PELAKU seni grafis asal Yogyakarta, B Gunawan, akan menggelar pamer­an tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta, 12-20 Agustus mendatang. Ia akan memamerkan sejumlah karya yang merupakan hasil seni grafis print making termasuk yang berukuran raksasa.

Pameran bertajuk Re-Public: Reminding of Existence ini ­menurut rencana akan dibuka kurator ­Galeri Nasional Indonesia Suwarno ­Wisetrotomo. Di sela-sela persiapan pameran tunggalnya, B Gunawan mengakui seni yang digeluti saat ini termasuk seni yang langka. Bahkan, di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, seni grafis ini pernah akan ditutup. Apalagi, kini bermunculan media lain yang mudah dicapai.

Ia menyebutkan seni grafis memerlukan ketekunan, teknik yang rumit, kesabaran, dan banyak persyaratan lainnya. B Gunawan sebelumnya sempat bekerja di bidang lain. Namun, ia tak dapat menyangkal kerinduannya terhadap seni yang lama digelutinya itu. “Saya memang lama bekerja di bidang lain di luar seni grafis ini. Namun, kerinduan membawa saya untuk menekuni seni ini,” kata dia.

Bahkan Gunawan mengaku ada rasa khawatir seni ini akan punah. Seni yang sempat berkembang pada awal abad ke-13 hingga ke-14 ini berangsur-angsur dijauhi setelah teknik-teknik pencetakan ­modern berkembang diawali dengan ditemukannya mesin cetak.

Cabang seni yang ditekuni ini biasa disebut cukil hardboard. Gunawan menghasilkan karya-karya yang cukup menawan. Karya-karya bonaventura Gunawan ini banyak bertutur tentang sekitarnya, tentang politik dan kekuasaan, dan sebagainya. Misalnya Operasi Tangkap Tangan (140 x 120 cm; 2016); Political Battle (488 x 210 cm; 2017); Makaria (165 x 120 cm; 2017); Orgasme (120 x 80 cm; 2016), atau EGP (80 x 60 cm; 2016).

Figur-figur yang dihadirkan pada bidang gambar itu seolah segera bisa dikenali, setidaknya peran dan nasib mereka. Sosok-sosok yang perkasa, kuasa, mereka yang oportunistis, mereka yang tertatih mempertahankan hidup dan kehidupannya, serta mereka yang ringsek menjadi korban. Karya seni grafis Gunawan dinilai sebagai ‘cukilan lanskap sosial’.

Badut-badut politik

Karya Political Battle (2017), misalnya, menjadi alegori lanskap sosial yang penuh drama. Kita dapat menyigi dan menandai, yang mana aktor intelektual, yang mana hero, yang mana badut-badut politik, yang mana si oportunis, dan yang mana sang korban. Mana sang pemangsa dan mana yang dimangsa. Keculasan, kemunafikan, kesedihan, diramu menjadi drama getir.

Karya yang hampir mirip muatan dan pesannya adalah Makaria 2017 (pesta pora makar?) yang juga tampak dramatik dan satire.

Memperhatikan tema, ukuran, dan teknik, bagi saya merupakan modal penting bagi Gunawan untuk dapat dipercakapkan serta dipertimbangkan dalam peta seni rupa Indonesia. Meski karya-karya Gunawan terlihat monokrom, sesunggguhnya karya-karya itu berlapis-lapis warna, yang dicapai dengan teknik reduksi (sebuah teknik yang bertumpu pada satu lembar hardboard sebagai klise, yang dicukil dan dicetak sesuai dengan kebutuhan warna yang diinginkan, hingga klise terakhir hanya menyisakan bentuk yang terakhir. Semakin banyak warna yang diinginkan, klise akan semakin rusak).

Karya Gunawan rata-rata menggunakan 23 warna, yang berarti dicetak 23 kali. Sebuah proses yang, seperti saya katakan di awal catatan ini, hanya mungkin dilakoni jika di­sertai kenikmatan dan kesenangan.

Pameran tunggal Gunawan kali ini merupakan upaya yang demikian serius untuk meraih tempat dalam seni rupa Indonesia. Gunawan menunjukkan proses dan pencapaian karya yang pantas dipercakapkan sekaligus mengisi celah kosong perupa grafis di Indonesia. Meski tema sosial itu bukan persoalan baru, Gunawan berhasil mencukilnya dengan penuh daya. (Agus Utantoro/M-2)

Komentar