BIDASAN BAHASA

Salah Tempel

Sabtu, 12 August 2017 23:16 WIB Penulis: Suprianto Annaf/Redaktur Bahasa Media Indonesia

ANTARA/Puspa Perwitasari

Sebagai alat ekspresi diri, bahasa sangat dekat dengan isi hati penutur. Bahasa di­setir sedemikian rupa agar terkesan santun dalam bertutur. Tak jarang diksi-diksi verba ditempeli sikap pembicara yang seolah lentur. Penambahan sikap itulah disebut sebagai modalitas dalam gaya tutur.

Sikap itu dapat berupa pernyataan, kemungkinan, keinginan, atau keizinan. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut. ‘Nyatanya mengeluarkan anak pelaku perundungan dari sekolah bukanlah hal yang tepat. Dengan mengeluarkan siswa, memang sekolah telah menyelesaikan masalah (internalnya), tetapi tidak bagi siswa yang (kebetulan) menjadi pelaku’.

Dari contoh kalimat di atas, deret­an kata modalitas dengan mudah ditemukan, yakni nyatanya, memang, dan kebetulan. Ketiga kata itu merupakan sikap pribadi penulis (penutur) atas ujaran yang disampaikan. Penempelan kata nyatanya sebelum kata mengeluarkan merupakan posisi modalitas yang sebenarnya. Namun, menjadi tidak tepat bila kata modalitas memang berada sebelum kata sekolah, yang notabene tidak menempel pada unsur kata kerja (baca: predikat).

Dalam konteks modalitas memang seperti di atas, struktur dapat menjadi benar bila peletakan kata itu berada sebelum penanda waktu telah sehingga menjadi ‘Dengan mengeluarkan siswa, sekolah memang telah menyelesaikan masalah (internalnya)’.

Begitu pula pada kalimat ‘Bagi pelaku yang dikeluarkan, justru fase ini menyisakan permasalahan yang tidak selesai’. Modalitas justru tidak berada di depan kata fase, tetapi berada sebelum kata menyisakan, yang berfungsi sebagai predikat dalam kalimat itu.

Contoh ketiga, tampak pada kalimat ‘Tak mudah memang mengurai benang perundungan yang sudah telanjur rumit’. Gaya tutur yang berciri nyentrik sastra itu tidak dapat berterima dalam struktur kalimat efektif. Keberadaan kata memang seharusnya berada di awal laras itu: Memang tak mudah mengurai benang....’

Dari contoh di atas, dapat diberi catatan. Pertama, peletakan kata modalitas yang tidak tepat terjadi karena penutur bahasa menganggap modalitas sama dengan kata interjeksi, seperti wah, aduh, hai, dan amboi. Keradaaan kata-kata interjeksi ini memang berada di awal kalimat dan menjadi kata ekspresif statis dari penutur. Kita akan mudah menemukan pemakaian interjeksi dalam konteks, seperti ‘Hai, apa kabar’, ‘Wow, keren!, atau ‘Amboi, asyiknya! Padahal, sejatinya keduanya berbeda.

Kedua, kesalahtempatan modalitas terjadi karena penganggapan sama antara konstruksi aktif dan pasif. Penanda waktu seperti telah, sudah, akan, dan belum dianggap sama dengan modalitas. Misalnya dalam kalimat pasif, ‘Memang akan saya sampaikan pesan itu’.

Dalam struktur pasif ini, kata modalitas memang tidak berdekat­an dengan kata sampaikan. Hal itu semata-mata disebabkan predikat kalimat tersebut terdiri atas gabungan kata, yakni Memang akan saya sampaikan, bukan hanya kata sampaikan. Sebaliknya, dalam kalimat aktif, struktur akan menjadi ‘Saya memang akan menyampaikan pesan itu’. Yang notabene predikat kalimat itu hanya gabungan unsur kala (akan) dan unsur verba (menyampaikan).

Penganggapan itulah menjadi pangkal kekeliruan berulangnya penempelan modalitas dalam kalimat. Padahal, kalau kita runut secara struktur, penempelan kata modalitas haruslah berimpit dengan fungsi predikat, baik dalam ragam pasif maupun aktif.

Komentar