Humaniora

Pencegahan Narkoba Efektif melalui Pendekatan Rekan Sebaya

Sabtu, 12 August 2017 15:03 WIB Penulis: Thomas Harming Suwarta

ANTARA/Andika Wahyu

UPAYA pencegahan terhadap pemakaian narkoba dilakukan dengan banyak cara dan pendekatan, salah satunya melalui pendekatan rekan-rekan sebaya.

Hal tersebut juga yang mendorong Bank Rakyat Indonesia (BRI) bekerja sama dengan Badan Nasional Narkotika (BNN) mengumpulkan para guru dan pengurus OSIS SMU di Jabodetabek untuk diberikan pembekalan terkait ‘Sadar Bahaya Narkoba’ di BRI Corporate University, Jakarta, Sabtu (12/8).

Ditegaskan Direktur Utama BRI, Randi Anto, bahwa kegiatan pembekalan ini dilakukan karena bahaya narkoba terutama untuk anak-anak muda indonesia sudah pada taraf memperihatinkan. Ia tidak bisa membayangkan anak muda Indonesia yang menjadi harapan masa depan bangsa justru tengah terancam karena terpapar narkoba.

“Ini yang menjadi keprihatinan kami sebetulnya. Ketika anak muda yang jadi harapan bangsa justru terpuruk karena ancaman narkoba. Makanya kita lawan bersama, salah satunya melalui pembekalan ini yang serentak BRI lakukan juga di 17 provinsi di seluruh tanah air,” kata Randi.

Ia berharap, para pengurus OSIS dan para guru yang dikumpulkan ini akan menjadi duta-duta antinarkoba di sekolah mereka masing-masing.

“Kami yakin dengan pendekatan teman sebaya ink akan efektif. Apalagi adik-adik ini adalah pengurus OSIS yang tentu akan mudah didengar oleh teman siswa yang lain. Bahasa yang disampaikan juga mungkin akan lebih pas karena berkomunikasi antarsesama teman,” sambung Randi.

Direktur Advokasi Deputi bidang pencegahan BNN, Yuni Farida Oktoris menambahkan situasi darurat narkoba yang dialami indonesia saat ini harus menjadi kesempatan bagi semua pihak untuk sama-sama memeranginya.

“Bayangkan dari data kami sekitar 2,18% atau sekitar 5 juta penduduk indonesia usia 10-59 tahun terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Dan dari jumlah itu 20% ada di kalangan pelajar,” kata Yuni.

Maka itu, upaya pembekalan yang melibatkan para pengurus OSIS kata dia adalah sesuatu yang sangat positif.

“Apalagi saat ini kecenderungannya ada pada banyak anak SMU yang mulai mencoba-coba. Sehingga kami sangat berharap agar adik adik ini nanti bisa membawa pengaruh positif pada positif pada teman dan lingkungannya sampai kita semua imun terhadap narkoba,” ungkap Yuni.

Pada tempat yang sama, Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Purwadi, menjelaskan, upaya memerangi narkoba merupakan perhatian besar pemerintah terutama melalui dunia pendidikan menengah.

Salah satu hal yang juga mendorong pemerintah menerapkan sekolah 5 hari dan menambah jam anak berada di sekolah kata dja adalah utuk mencegah anak terlibat dalama pergaulan yang salah seperti penyalahgunaan narkoba.

“Apalagi di kota besar di mana orang tua sibuk bekerja sehingga anak-anak jarang diperhatikan. Makanya kami dorong sekolah 5 hari itu salah satunya untuk memberi waktu lebih lama bagi anak dalam pengawasan sekolah sebelum kembali ke rumah,” jelas Purwadi.

Menurut dia tidak dapat dipungkiri bahwa jam cepat pulang sekolah adalah waktu rawan bagi anak untuk terlibat dalam hal-hal negatif seperti narkoba.

“Ada jeda waktu cukup lama seorang anak selepas pulang sekolah sebelum tina di rumah, dan itu sangat rentan. Makanya selain mendorong full day school kami berharap agar sekolah benar benar menjadi garda terdepan perang terhadap narkoba,” pungkas Purwadi. (OL-2)

Komentar