Eksplorasi

Otak Mini Sembuhkan Alzheimer

Sabtu, 12 August 2017 18:30 WIB Penulis: Ridha Kusuma Perdana

OTAK mini manusia yang dapat dikembangkan di laboratorium dapat memberikan harapan untuk penyembuhan alzheimer di masa mendatang.

TIM peneliti di Inggris, tepatnya di Universitas Aston, Birmingham, telah berhasil mengembangkan jaringan otak mini manusia. Mereka sukses mengikuti jejak peneliti di Austria dan Amerika dalam mengembangkan sel otak di luar tubuh.

Otak mini dapat menggantikan tikus percobaan yang selama ini digunakan. Sebabnya, penggunaan tikus untuk percobaan hanya menghasilkan perkiraan kasar karena otak manusia ialah organ paling kompleks.

Mereka menciptakan suatu keadaan agar sel-sel dapat berkembang dan menghasilkan jaringan neuron di dalamnya. Otak mini tersebut diciptakan dari sel kulit manusia yang berubah secara genetik, yang menyebabkan mereka kembali ke sel induk yang mampu berubah menjadi jenis sel apa pun.

Prosesnya ialah dengan melibatkan sel kulit yang akan bertransformasi menjadi neuron dan tercetak menjadi bentuk 3D dengan struktur yang hampir menyerupai otak normal.

Hingga saat ini ukuran yang dihasilkan memang masih jauh dari ukuran otak manusia pada umumnya. Struktur otak mini hanya dapat mencapai 2 mm (0,08 inci).

Mengembalikan ingatan
Akan tetapi, meski ukurannya masih sangat kecil, kesuksesan para peneliti dalam mengembangkan otak mini tetap memberikan harapan baru bagi dunia ilmu pengetahuan, khususnya kesehatan. Menurut mereka, ukuran bukanlah menjadi masalah.

Mereka percaya di masa mendatang dapat menumbuhkan jaringan baru untuk menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan penuaan, misalnya alzheimer. Penyembuhan ini dapat dilakukan jika bagian otak yang rusak dapat diangkat dan jaringan otak mini yang telah tumbuh ditransplantasikan ke dalamnya. Dengan begitu, kehilangan ingatan yang terjadi pada penderita alzheimer dapat kembali. Bahkan kerusakan yang lebih parah pun dapat dicegah.

Profesor Edik Ravalof dari Universitas Aston, Birmingham, mengatakan ini seperti fiksi ilmiah yang jadi kenyataan. "Kami mencoba membantu neuron untuk terhubung dan tumbuh bersama sehingga kita bisa mengganti bagian otak yang telah rusak oleh demensia. Jika bisa mengganti bagian ini, Anda bisa mengembalikan orang ke kehidupan normal."

Penelitian tersebut pun membuat berbagai kalangan merasa terkesan. Eric Hill, Direktur Program untuk Sel Induk dan Obat Regeneratif di Aston, Birmingham, mengatakan karya tersebut sangat menarik. "Kami membuat sesuatu yang bertindak seperti jaringan otak sebenarnya."

Di sisi lain, tantangan pun tidak sepele. Hill mengungkapkan, selain sulitnya menciptakan jaringan otak manusia, peneliti perlu menemukan cara untuk mempercepat proses penuaan pada otak yang berada di laboratorium itu. Kondisi penuaan diperlukan agar mereka memahami bagaimana penyakit bekerja.

Perkembangan penelitian yang dilakukan Edik Rafalov dan tim sangatlah menggembirakan karena alzheimer merupakan jenis demensia yang paling umum diderita. Lebih dari 40 juta orang di dunia menderita penyakit ini. Apalagi, sampai saat ini penyebab dan cara alzheimer berkembang masih belum diketahui secara pasti.

Di masa mendatang, dengan keberhasilan pengembangan tersebut, para peneliti tidak hanya dapat mencari informasi lebih lanjut soal alzheimer, tetapi juga dapat mencoba metode pengembangan obat baru. Penelitian itu juga tidak hanya bermanfaat untuk penderita alzheimer, tetapi juga penyakit lain yang berhubungan dengan otak, misalnya epilepsi, skizofrenia, dan autisme. Di masa depan, mereka berharap dapat menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di dalam otak ketika epilepsi sedang terjadi. (Dailymail/*/L-1/M-3)

litbang@mediaindonesia.com

Komentar