Megapolitan

Menuai Hasil Tani dari Lahan Bekas Sampah

Sabtu, 12 August 2017 16:45 WIB Penulis:

MI/KONI ARMANDANI

KELUARGA berencana sudah jauh dari memori. Anjuran dua anak cukup semakin terlupa. Pertumbuhan penduduk Ibu Kota pun terus merangkak naik, tetapi luas wilayah tak juga bertambah.

Dengan tingkat kepadatan penduduk 15.052,84/km2 (BPS 2015), lahan terbuka semakin sedikit. Namun, di tengah krisis lahan yang dialami Jakarta, anggota Kelompok Tani Bantaran Kanal Barat (BKB) Petamburan, Jakarta Barat, justru eksis dalam bercocok tanam.

Asda, 52, dengan telatennya menyirami tanaman pare, Rabu (9/8). Dengan berbekal slang air sepanjang 5 meter, satu per satu pare disiram hingga basah. Setiap harinya ia bekerja di lahan itu pukul 07.00-11.00.

Dia tak sendiri bekerja di ladang tengah kota tersebut. Ada tiga temannya. Seorang tampak tengah memompa air untuk mengairi ladang ketimun yang berada di sebelah selatan. Lahan tersebut baru ditanami, tak tanggung-tanggung, sebanyak 4.800 bibit ketimun.

Kelompok Tani BKB Petamburan berjumlah 16 orang dengan latar belakang pekerjaan berbeda-beda. Ada yang berprofesi sebagai pedagang, sopir, tukang ojek, buruh dan pegawai negeri. Semuanya warga BKB Petamburan.

Lahan pertanian mereka tidak membentang di atas tanah sebagaimana ladang bercocok tanam pada umumnya. Posisinya berada pada bantaran sungai Ciliwung. Terdapat berbagai macam sayuran meliputi pare, ketimun, oyong, cabai, labu madu, kacang panjang, serta terong ungu.

Lahan seluas 3.000 meter persegi yang dahulunya tumpukan sampah itu telah terisi menjadi pertanian yang bermanfaat. Asda menuturkan, awalnya mereka cuma terganggu oleh aroma sampah di sepanjang bantaran sungai. Warga kemudian berinisiatif membersihkannya.

“Karena enggak tahan sama baunya lalu kami bersihkan. Begitu dibersihkan, rasanya kok sayang amat lahan kosong dibiarkan begitu saja. Dari situ kami mencoba tanam oyong, pare, dan lainnya. Eh rupanya ada hasilnya. Dulu cuma 10 meter, terus sekarang jadi semakin luas,” tutur Asda.

Bukan hanya kegiatan bercocok tanam dikembangkan. Ada juga dibuka peternakan budi daya lele yang sudah bisa dipanen setiap hari. Sebelumnya cuma 6.000 benih yang disebar ke dalam kolam.

Dari sayuran dan lele, Kelompok Tani BKB Petamburan mampu menghasilkan uang Rp1,5 juta per bulan. Pengasilan tersebut mereka gunakan untuk terus mengembangkan pertanian dengan membeli pompa air, membayar tagihan air dan listrik, serta keperluan lain.

Tak jarang mereka bagikan hasil panen kepada warga sekitar. Warga merespons positif dan mendukung pemanfaatan lahan. “Tadinya ada saja warga yang buang sampah ke pertanian. Namun, setelah melihat hasilnya, mereka membuang sampah rumah tangga ke tempat yang sudah disediakan,” cetusnya.

Asda dan teman-temannya merasa bangga, di tengah penuh sesaknya permukiman warga Kota Jakarta serta lahan-lahan kosong yang sudah berubah menjadi gedung pencakar langit, mereka tetap bisa bercocok tanam. Hasilnya bukan hanya bagi mereka, melainkan juga dirasakan warga sekitar BKB Petamburan. (Koni Armandani/J-2)

Komentar