Humaniora

Tambah Anggaran Konservasi

Sabtu, 12 August 2017 16:15 WIB Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani

ANTARA/FB ANGGORO

ANGGARAN untuk mengelola wilayah konservasi di Indonesia dinilai masih sangat minim. Dengan luas wilayah konservasi seluas total 17 juta hektare, setiap hektare wilayah rata-rata hanya menerima anggaran Rp50 ribu per tahun.

“Kita berharap bisa mendapatkan dukungan alokasi anggaran yang lebih besar,” ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR, Herman Khaeron, di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, kemarin.

Herman mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan DPR untuk mendorong hal tersebut ialah merevisi Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Revisi tersebut ditargetkan rampung tahun ini.

“Kami sudah melakukan konsultasi publik dengan para ahli, pakar, perguruan tinggi, serta setiap kementerian terkait dengan revisi UU tersebut. Kalau tidak ada hambatan, akan selesai tahun ini,” ujar Herman.

Dalam revisi tersebut, tugas dan fungsi setiap kementerian akan dibagi, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Kementerian Pertanian, dalam persoalan dan pengelolaan kawasan konservasi.

Herman mengatakan, konservasi dan sumber daya alam tidak boleh ditabrak undang-undang lain, seperti UU Tata Ruang. Salah satu contohnya, UU Tata Ruang selama ini kerap menjadi pedoman untuk alih fungsi kawasan hutan atau laut.

“Ini protected area. Ini kawasan yang harus dilindungi sehingga dalam revisi ini, kami mengikat UU Tata Ruang tidak boleh mengalahkan UU Konservasi nantinya,” ujar Herman.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, di kesempatan yang sama, mengatakan upaya pemaksimalan setiap kegiatan dan wilayah konservasi memang harus terus dilakukan. Ia mengatakan, sangat penting untuk ada aturan sebagai pedoman bagi setiap orang, khususnya pelaku konservasi dalam setiap tindakan yang dilakukan.

“Saya berterima kasih banyak dukungan, termasuk LSM juga. Atensi terhadap sumber daya genetik kita luar biasa. Dukungan dari lapisan pemerintah paling atas juga semakin baik. Kami kerja keras untuk itu dan saya percaya akan semakin banyak dukungannya,” tutur Siti.

Pelepasliaran satwa
Dalam kegiatan kemarin, pelepasliaran satwa yang dilindungi juga dilakukan. Ada 10 satwa yang dilepasliarkan, yakni 5 ekor merak hijau (Pavo muticus), 4 elang alap jambul (Nisaetus cirrhatus), dan 1 elang brontok (Accipiter trivirgatus).

“Ini bentuk upaya konservasi satwa yang dilindungi. Saya optimistis ini akan berjalan dengan baik dan mereka akan dapat bertahan hidup di alam liar,” tutur Siti.

Tetap patroli
Kendati tidak terdeteksi ada titik panas dan kebakaran, tim Satgas Karhutla Jambi tetap melakukan patroli dan latihan untuk meningkatkan keterampilan dan kekompakan dalam penanganan kebakaran.

“Alhamdulillah tidak ada terpantau lagi titik api di Jambi.Lokasi-lokasi yang terbakar sudah padam. Ini tidak terlepas dari kerja keras tim satgas dan terbantu turunnya hujan beberapa hari terakhir,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi Bachyuni Desliansyah, yang juga Wakil dan Satgas Karhutla Jambi, kemarin. (SL/BG/YK/BB/PO/H-1)

putri@mediaindonesia.com

Komentar