Surat Pembaca

Tren Wisata Foto Mulai Menggeser Wisata Edukasi

Sabtu, 12 August 2017 12:15 WIB Penulis: Koni Armandani Mahasiswi USU Medan, Sumatra Utara

ANTARA/RENO ESNIR

Warga Jakarta pastilah tak asing lagi dengan Museum Fatahillah. Tempat itu terletak pada kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Arsitektur bangunan tua yang klasik, cat dinding yang didominasi oleh warna putih gading, serta barang-barang peninggalan zaman pemerintah Hindia Belanda. Seperti lukisan Jenderal Van der Parra yang sudah berumur lebih dari lima abad. Tak ayal jika kegiatan berswafoto menjadi aktivitas menarik bagi para pengunjung yang mendatangi Museum Fatahillah.

Tujuan utama didirikannya museum ini ialah untuk memberikan informasi kepada pengunjung mengenai sejarah pemerintahan Hindia Belanda pada saat itu. Banyak sejarah menarik yang bisa kita temukan jika berkunjung ke museum tersebut. Mulai hukuman gantung yang yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda hingga kejamnya penjara bawah tanah bagi para terpidana pada saat itu.

Namun, tampaknya hal tersebut bukanlah sesuatu yang menarik bagi pengunjung. Mayoritas dari mereka datang ke tempat itu hanya untuk berswafoto. Tongsis sebagai senjata andalan tak luput dibawa untuk ber-selfie. Pengunjung bergantian untuk dapat berfoto di setiap sudut ruangan Museum Fatahillah.

Dari puluhan pengunjung yang ada saat itu hanya terlihat sebagian kecil yang datang memang untuk mengetahui cerita sejarah. Selebihnya mereka asyik berswafoto dengan latar belakang benda-benda sejarah sampai terkadang melupakan larangan untuk menyentuh objek tersebut. Mereka juga enggan bertanya kepada pramuwisata museum mengenai kisah di balik objek-objek yang dipajang di dalam Museum Fatahillah.

Sungguh ironis sekali melihat hal tersebut. Esensi awal dari didirikannya museum ini hilang. Padahal, banyak sekali cerita sejarah yang dapat diketahui setelah mengunjungi Museum Fatahillah. Terlebih lagi bagi kaum muda yang sekarang lambat laun mulai tak acuh dengan sejarah Tanah Air.

Seperti kata bapak pendiri negeri ini, Soekarno, mengingatkan kita agar kita tidak melupakan sejarah. Pesan yang dikenal dengan ‘Jas Merah’ atau singkatan dari jangan sekali-kali meninggalkan sejarah itu memiliki makna agar kita tidak melupakan setiap catatan sejarah yang pernah dialami dan dibuat oleh bangsa ini sebagai landasan untuk masa depan.

Dengan mengingat sejarah, kita bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ber-selfie ataupun berfoto-foto sah-sah saja, tetapi mempelajari sejarah juga tak kalah pentingnya.

Komentar