Surat Pembaca

Penempatan Sampah di Tong Bercampur Aduk

Sabtu, 12 August 2017 11:45 WIB Penulis: Mahesa Kedoya Selatan

DI sepanjang trotoar di Jakarta, saya sering menjumpai tong sampah dengan tiga warna yang berbeda. Setiap tong sampah itu memiliki fungsi tersendiri.

Hal itu sesuai dengan Perda No 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Pasal 24 ayat 2 perda itu menyebutkan kriteria warna dan jenis sampah dalam pemilihan wadah sampah tersebut meliputi: wadah hijau untuk sampah organik, wadah kuning untuk sampah anorganik, wadah warna merah untuk sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun rumah tangga (B3).

Sampah organik ialah sampah yang bisa terurai, contoh dedaunan kering, sampah dapur, dan segala hal yang bisa membusuk dan terurai. Sementara itu, sampah anorganik ialah sampah yang tidak bisa terurai karena komponen sampah yang tidak bisa ditembus bakteri.

Namun, sayangnya banyak masyarakat yang tidak peduli dengan fungsi tiap-tiap tong sampah yang disediakan. Hal itu misalnya terjadi di daerah Kedoya, Jakarta Barat.

Ketika saya membuang sampah plastik, saya mendapati tong sampah warna hijau dan merah yang seharusnya berisi sampah organik dan B3 terisi oleh kategori sampah anorganik, contohnya seperti sampah plastik jajanan dan kertas.

Bahkan, pernah saya jumpai, ketika tong sampah kuning telah penuh, tong sampah di sebelahnya menjadi sasaran penampungan sampah berikutnya. Itu terjadi lantaran terbatasnya daya tampung tong sampah kuning. Seharusnya tong sampah hijau dan merah diisi oleh jenis sampah yang sesuai. Dengan demikian, petugas kebersihan yang memilah sampah akan lebih dimudahkan saat membawa sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Selain itu, petugas kebersihan harus lebih rutin mengangkut sampah anorganik yang sudah penuh untuk mencegah berpindahnya sampah-sampah anorganik itu ke tempat sampah hijau dan merah.

Komentar