Jendela Buku

Langgam Kisah Pertarungan Hidup

Sabtu, 12 August 2017 03:01 WIB Penulis: (*/M-2)

Dok MI

SEBELUM hari kemerdekaan itu tiba, negara tentunya sudah berkali-kali terhenyak oleh konflik baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil seperti intoleransi, persekusi, dan terorisme. Rupa-rupanya, konflik telah menodai tapak tilas perjalanan bangsa yang sebentar lagi akan genap berusia 72 tahun. Sebagai makhluk sosial, manusia tak henti-hentinya bersinggungan dengan konflik. Entah itu konflik remeh-temeh yang menyangkut soal ‘perut’, keyakinan, hingga kepentingan kelompok yang berkecamuk di mana-mana.

Lewat sastra, Okky Madasari mengupas konflik menjadi 19 rentetan kisah yang sarat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui buku Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, ia mencoba mengelaborasi konflik dalam isu sosial yang ia tangkap selama satu dekade belakangan ini. Yang Bertahan dan Binasa Perlahan merupakan salah satu cerita pendek dalam buku ini yang dihantarkan menjadi cerita sentral sekaligus cerita pembuka. Dalam setiap paragrafnya, pembaca diajak untuk berpikir sambil merasakan pengalaman hidup seorang tokoh bernama Bandiman.

Bandiman adalah wong nggunung (orang gunung). Selama bertahun-tahun, ia terkungkung dalam pemikiran pragmatis masyarakat Giriharjo yang enggan mengubah nasibnya. Hingga, kekhilafannya menyutubuhi Utami mengantarkannya pada suatu pilihan untuk mencari pengha­rap­an hidup yang lebih baik. Namun, pilihan untuk keluar dari kepasrahan hidup itu ternyata harus merenggut nyawa anak bungsunya, Ambarwati, di tengah perjalanan lintas pulau. Sesampainya di sana, ia dan tujuh keluarga lainnya kembali membangun harapan di tengah pupusnya janji petugas pemerintah yang pernah menawarkan indahnya masa depan di pulau seberang.

Persediaan makanan yang kian menipis membuat Bandiman dan kepala keluarga lainnya terpaksa memutar otak. Mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup di tengah alam. Cerita bertajuk Yang Bertahan dan Binasa Perlahan ini melukiskan suka duka transmigran yang terkatung-katung di tanah perantauan dan menelan kenyataan pahit bahwa mereka harus berpisah dari tanah dan keluarga yang telah membesarkannya.

Di samping menceritakan pertarungan dan daya tahan manusia, Okky membawa pembaca untuk menyelami isu sosial yang terjadi 10 tahun belakangan ini. Isu sosial itu dibingkai dalam empat subtema, yakni terorisme, pemilu, intoleransi, dan korupsi. Isu terorisme tertuang dalam cerita Laki-Laki di Televisi dan Dua Pengantin, pemilu pada Partai Pengasih, intoleransi dalam Patung Dewa, Dua Lelaki, Saat Ribuan Manusia Berbaris di Kotaku, dan korupsi dalam Di Ruang Sidang.

“Laki-laki itu bukan sahid. Aku bukan ibu teroris,” ujar seorang tokoh ibu dalam cerita Laki-Laki di Televisi. Itu membuat kita tercenung dengan gerakan radikalisme yang saat ini mewabah di Tanah Air. Sederet kisah terorisme yang lumayan menggelitik dan bikin bergidik juga tertuang dalam cerita Dua Pengantin. Kedua tokoh utama, Rozi dan Badrun, meninggalkan rumah demi menunaikan misi meledakkan diri di depan mal.

Membongkar intoleransi
Isu intoleransi mendapat porsi cerita yang lebih banyak dalam buku ini. Meski sensitif, Okky tak segan-segan membongkar isu ini secara gamblang lewat tiga cerita yang ia suguhkan. Misalnya, aksi bela Islam di tengah-tengah ajang pemilihan Gubernur DKI 2017 yang dilukiskan lewat cerita Saat Ribuan Manusia Berbaris di Kotaku. Berlatar di tengah ruang keluarga, seorang bapak yang terkena stroke yang sedang menonton televisi mengomel pada anak-anaknya. Ia kesal pada anaknya yang tidak ikut turun di atas jalan melakukan aksi jihad menentang pemimpin kafir. Akhirnya, anak-anaknya terpaksa keluar dari rumah untuk menghindari perdebatan yang semakin meruncing.

Cerita ini menjadi penutup dari kumpulan cerita pertama Okky Madasari. Cerita dengan sekelumit kisah pertarungan manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya, yang menjadi kegelisahan utama generasi zaman ini. (*/M-2)

Komentar