Ekonomi

TPK Koja Layani Lima Kapal Besar

Sabtu, 12 August 2017 02:34 WIB Penulis: (Ant/E-3)

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

PENGELOLA Terminal Peti Kemas (TPK) Koja akhir pekan ini akan melayani lima kapal besar berturut-turut untuk tujuan ekspor-impor. Masuknya lima kapal besar itu akan dilayani di Dermaga Koja sepanjang 650 meter dan dermaga utara JICT yang dioperasikan TPK Koja sepanjang 720 meter dengan 15 quay cranes dan 34 RTG. Deputi General Manager TPK Koja Nurjadin mengatakan datangnya lima kapal besar pada akhir pekan ini jadi tantangan bagi TPK Koja pascakrisis mogok kerja untuk melayani kapal-kapal agar sesuai dengan standar kerja yang berlaku.

“Alhamdulillah, sejak krisis mogok kerja di JICT, secara bertahap TPK Koja sudah melayani kegiatan bongkar muat kapal-kapal di dermaga utara JICT secara optimal. Secara bertahap pula, ada tambahan sumber daya manusia yang diperoleh Koja untuk meng­operasikan peralatan termasuk tambahan lapangan penumpukan,” tutur Nurjadin, di Jakarta, Jumat (11/8). Seperti diketahui, mogok kerja dilakukan Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) pada 3-7 Agustus. Meski begitu, mogok kerja tidak berpengaruh banyak terhadap layanan bongkar muat dan arus barang pelanggan JICT.

Manajemen JICT berhasil menjalankan rencana darurat dengan mengalihkan layanan pelanggan JICT ke terminal di Tanjung Priok seperti NPTC1, MAL, Terminal 3, dan TPK Koja. Menurut Nurjadin, arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok tiap akhir pekan seperti biasanya akan meningkat. Itu disebabkan tingginya volume kegiatan bongkar muat untuk kegiatan ekspor. Ia menjamin situasi itu kembali normal di awal minggu berikutnya.

“Kami bersyukur proses pengoperasian dermaga utara JICT ini berjalan dengan baik. TPK Koja akan selalu mendukung upaya-upaya untuk memperlancar bongkar muat dan arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok,” pungkasnya. CEO PT Hutchison Port Indonesia (HPI) Rianti Ang menyampaikan Hutchinson Ports sebagai mitra Pelindo II yang berinvestasi di JICT mengapresiasi langkah cepat dari pemerintah, manajemen Pelindo II, dan JICT yang membuat aksi industrial tersebut tidak sampai menimbulkan gangguan signifikan. (Ant/E-3)

Komentar