KICK ANDY

Nani Kurniasari Move On Bersama Selai dan Sambal

Sabtu, 12 August 2017 01:01 WIB Penulis: Suryani Wandari Putri

MI/SUMARYANTO BRONTO

MINUM serasa duri, makan serasa lilin. Tidur tak lena, mandi tak basah. Itulah peribahasa yang menggambarkan Nani Kurniasari, seorang pengusaha selai karamel Move On dan sambal Janda kala dirinya terpuruk. Tahun 2013 menjadi tahun terberat yang harus dilalui Nani dalam hidupnya. Usaha katering yang dijalankannya selama tujuh tahun sejak 2003 bangkrut. Tak hanya bangkrut, ia harus menanggung utang sebesar Rp2 miliar karena bagian keuangannya menutup utang dengan utang.

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, penderitaan ibu empat anak itu bertambah dengan perceraian dengan suaminya. Tanpa penghasilan dan menjadi ibu tunggal, Nani hampir mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. "Saya bahkan hampir bunuh diri, jedotin kepala ke tembok saking merasa enggak ada harapan lagi," kata Nani. Namun, rupanya titik terendah hidupnya itu mengantarkan ia menjadi seorang pengusaha sukses.

Bangkit
Semangatnya yang besar untuk kembali bangkit tidak lepas dari orang-orang di sekitarnya. Salah satunya Irma Rahayu, seorang mentor life coach yang dikenalnya melalui media sosial. Setelah mengikuti life coach dan self healing pada 2015, Nani menjadi lebih mantap menjalani hidupnya. "Saya ibarat rumah yang dihancurkan habis kemudian dibangun lagi fondasinya agar kuat," kata dia. Tak hanya teman, Irma juga menjadi pemodal untuk usaha selai karamel yang dibuat Nani.

Irma yang menjadi salah satu rekannya itu membantu Nani memproduksi selai karamel yang berlabel selai Move On dan sambal Janda. Menurutnya, hasil kreasinya itu memiliki histori masing-masing yang berkaitan dengan kegundahan hatinya selama ini. Ia pun menambahkan keunikan selainya itu ada pada layanan curahan hati (curhat). "Kebanyakan yang beli selai dan sambal ini langsung curhat via telepon. Kita sharing pengalaman karena di luar sana pun banyak yang mengalami kondisi seperti saya," kata Nani.

Dengan modal awalnya hanya Rp200 ribu, ia mampu membangun usahanya. Satu stoples selai dijualnya Rp40 ribu untuk 120 mg. Bahkan penjualan selainya pun sudah sampai ke luar negeri.
Ia mengaku, jika ramai pesanan, pemasukannya bisa sampai Rp50 juta dalam sebulan. Untuk sambal Janda, Nani menyediakan beberapa varian rasa seperti sambal Janda jambal, sambal Janda bawang bangka, sambal Janda jengkol, dan sambal Janda cumi petai.

Tak sampai di situ, Nani pun melebarkan sayapnya di bidang clothing hijab syari dengan brand NK, yang diambil dari namanya sendiri. Sistem penjualannya, Nani memercayakan kepada puluhan reseller yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dan melalui berbagai media sosial. Di samping itu, Nani juga berhasil melunasi utangnya dengan cara dicicil dari keuntungan penjualan selai dan sambal. (M-4)

Komentar