Lingkungan

Tambling Wildlife Raih Penghargaan Konservasi dari KLHK

Kamis, 10 August 2017 22:05 WIB Penulis: Micom

Kanan-kiri Koordinator Konservasi Alam Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Ardi Bayu menerima penghargaan yang diserahkan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution didampingi Menteri KLHK Siti Nurbaya di Situbondo, Kamis (10/8/). Foto Istimewa

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI memberikan penghargaan, plakat dan dana pembinaan kepada 10 warga/swasta yang peduli lingkungan hidup. Penyerahan dalam kaitan dengan Hari Konservasi Alam Nasional 2017 digelar di Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur.

Salah satu lembaga yang menerima penghargaan ialah Artha Graha Peduli (AGP) Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung. Penghargaan itu diberikan kepada TWNC sebagai pemegang izin lembaga konservasi khusus terbaik.

"Kami bersyukur atas penghargaan yang diserahkan Menko Perekonomian Bapak Darmin Nasution didampingi Menteri KLH Ibu Siti Nurbaya," sebut Ardi Bayu, Koordinator Konservasi Alam TWNC seusai menerima penghargaan, Kamis (10/8) di di Situbondo.

Ardi menuturkan, PT Adhiniaga Kreasinusa yang mengelola TWNC dinilai komit pada rehabilitasi harimau sumatra dan pengendalian spesies invasif. Pemerintah menilai penerima penghargaan itu baik secara individu, perusahaan atau masyarakat terbukti melakukan kegiatan yang menunjang kelestarian lingkungan hidup dan kehutanan khususnya dalam bidang konservasi sumberdaya alam dan ekosistem.

Sebagai informasi, TWNC bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang dibentuk atas kerja sama berbagai pihak, seperti Yayasan Artha Graha Peduli (AGP), TNBBS, BKSDA Bengkulu serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sejak 2007, TWNC yang berada di bawah AGP dibantu oleh Taman Safari Indonesia, menaruh perhatian penuh terhadap populasi harimau sumatra yang berada di ambang kepunahan dengan mendirikan Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS). Didirikannya PRS ini bertujuan untuk menyelamatkan dan memulihkan harimau sumatera yang mengalami konflik dengan manusia.

Pada pertengahan 2008, lima ekor harimau sumatra yang berkonflik dengan manusia direlokasi ke PRS TWNC dan satu ekor buaya langsung dilepasliarkan di Kawasan Tambling. Setelah direhabilitasi, dua ekor harimau sumatra tersebut dilepasliarkan pada 22 Juli 2008. Sedangkan yang lainnya masih membutuhkan perawatan di PRS TWNC.

Setahun kemudian, tepatnya pada 15 Oktober 2009, PRS TWNC diresmikan sebagai Lembaga Konservasi Satwa oleh Menteri Kehutanan pada saat itu, Zulkifli Hasan. Total, sampai saat ini TWNC telah empat kali melepasliarkan tujuh ekor Harimau Sumatra, serta satwa-satwa langka lainnya seperti kukang, buaya muara, penyu, dan burung elang.

Pelepasliaran Harimau Sumatera di TWNC pertama kali dilakukan oleh Menteri Kehutanan MS Kaban pada 22 Juli 2008. Lalu pelespasliaran kedua oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada 22 Januari 2010. Kemudian ketiga oleh Menteri KHLK Siti Nurbaya dan Menteri KKP Sri Pudjiastuti pada 3 Maret 2015.

"Pelepasliaran yang terakhir dilakukan pada 10 Juni 2017 oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, seekor Harimau Sumatra, Muli yang tidak berkonflik dengan manusia, tetapi ditinggalkan induknya dalam kondisi luka parah di bagian perutnya di dekat Pos Penjagaan TWNC. Pada saat yang bersamaan Panglima TNI juga melepasliarkan puluhan penyu dan ratusan burung ke alam liar," jelas Ardi. (RO/X-12)

Komentar