Surat Pembaca

Perhatikan Kursi Prioritas dan Kebersihan Trans-Jakarta

Kamis, 10 August 2017 12:15 WIB Penulis: Hilda Julaika Bandung, Jawa Barat

ANTARA/TERESIA MAY

MODA transportasi umum Trans-Jakarta merupakan upaya pemerintah untuk menekan kepadatan kendaraan di Jakarta. Sistem Trans-Jakarta ini didesain berdasarkan sistem Trans-Milenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Trans-Jakarta dirancang sebagai moda transportasi massal pendukung aktivitas Ibu Kota yang sangat padat. Trans-Jakarta dioperasikan PT Transportasi Jakarta. Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam operasional Trans-Jakarta mulai pramudi, petugas bus, petugas stasiun BRT, dan petugas kebersihan sekitar 6.000 orang. Namun sayangnya, jumlah petugas itu dalam melaksanakan tugasnya masih jauh dari harapan. Misalnya, di dalam Trans-Jakarta masih kita temui kondisi penumpang pria yang menggunakan area tempat duduk khusus perempuan. Padahal, kita sebagai penumpang perempuan ingin mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Hal itu tentu membuat kami kesal dan merasa terganggu.

Bukan hanya itu, kursi untuk manula dan disabilitas pun digunakan penumpang yang tidak berhak. Mereka yang bukan termasuk pada kategori disabilitas maupun manula dengan sadarnya menggunakan fasilitas tersebut. Tindakan itu membuat saya miris. Apalagi, petugas di dalam Trans-Jakarta juga tidak memberikan teguran. Alhasil, ketika ada manula atau disabilitas terpaksa ditempatkan pada kursi di bangku biru. Padahal, untuk manula dan disabilitas kursi yang digunakan ialah area kursi merah.

Peristiwa itu terlihat seperti sepele. Namun, tingginya mobilisasi warga Jakarta dalam beraktivitas membuat keadaan seperti ini mengganggu kenyamanan dan keamanan penumpang. Untuk itu, petugas harus lebih teliti lagi dalam mengatur penumpang. Selain itu, perlu juga untuk terus mengingatkan penumpang lain agar memperhatikan kursi prioritas bagi penumpang.

Selain soal kursi prioritas, yang perlu diperhatikan, baik oleh petugas maupun penumpang Trans-Jakarta ialah soal kebersihan lingkungan, terutama di area halte. Saya masih sering menjumpai banyak sampah di area tangga dan di dalam halte. Di sini dibutuhkan kerja sama penumpang untuk membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, perlu juga diperbanyak tempat pembuangan sampah.

Tempat sampah perlu disediakan di beberapa titik strategis agar penumpang dapat membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, untuk menyadarkan penumpang perlu dipasang stiker pelarangan buang sampah sembarangan.

Sebenarnya persoalan kursi prioritas dan menjaga kebersihan ialah sebagian dari pembenahan etika warga Jakarta, dalam hal ini penumpang dalam menggunakan fasilitas umum. Kita sudah mengetahui tujuan dari adanya fasilitas umum ini untuk meminimalkan kepadatan kendaraan yang ada di Ibu Kota. Namun, kita perlu juga menanamkan etika dalam menggunakan kendaraan umum, seperti menaati aturan kursi prioritas dan memperhatikan kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Hal kecil seperti ini hanya bisa dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Minimal kita sudah ikut membantu melalui hal kecil untuk fasilitas Trans-Jakarta yang lebih baik.

Komentar