Selebritas

Dian Sastrowardoyo Jatuh Hati pada Sumba Timur

Kamis, 10 August 2017 04:31 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

AKTRIS Dian Sastrowardoyo, 35, berupaya mempromosikan lebih luas kain tenun ikat Sumba Timur yang berasal dari Nusa Tenggara Timur kepada masyarakat, khususnya anak muda. Selain secara pribadi, Dian mengaku memiliki kecintaan dan minat yang besar terhadap kain tradisional. Menurutnya, para perajin tenun tradisional sudah selayaknya mendapatkan apresiasi dengan mengangkat kain tenun Sumba Timur sebagai salah satu wastra terbaik Indonesia.

"Sehelai kain tenun adalah hasil dari ketekunan dan keterampilan pembuatnya yang dibuat selama berbulan bulan, bahkan bertahun-tahun," tutur Dian di Jakarta, Selasa (8/8). Keindahan hasil-hasil tenunan itu dapat dilihat dalam pameran foto, video, dan instalasi kain tenun dengan tajuk Lakumba Nduma Luri atau Benang yang Memberi Ruh, Kain yang Memberi Hidup, di Plaza Indonesia, Jakarta, pada 6-31 Agustus 2017. Pameran tersebut diselenggarakan Yayasan Dian Sastrowardoyo yang merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai pihak.

"Untuk bisa berdayakan para perajin tenun di Sumba Timur, kita bisa menggunakan kain sumba sebanyak-banyaknya dan menjadikan kain sumba sebagai bagian dari cara saya berbusana sehari-hari supaya semakin banyak anak-anak muda di Jakarta ini ingin mengapresiasi Sumba," sambungnya. Bukan tanpa alasan Dian tertarik mempromosikan kain tenun khas Sumba Timur. Dia bercerita dari pengalamannya mengunjungi Sumba. Walaupun masyarakat di sana mampu menghasilkan produk kain berkualitas, kehidupan mereka masih memprihatinkan.

"Sangat ironis mereka yang tinggal di Sumba Timur tidak terlalu memiliki kehidupan yang layak. Seperti misalnya akses terhadap air bersih saja mereka susah sekali," ujar pemeran Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta itu. Istri Maulana Indraguna Sutowo itu juga menuturkan daerah Sumba Timur merupakan salah satu destinasi wisata yang kaya akan budaya, keindahan alam, serta kain tenun.

Galang dana
Melalui Yayasan miliknya, Dian melakukan penggalangan dana melalui penjualan kain tenun koleksi kelompok penenun Lukamba Nduma Luri di Sumba Timur. Keuntungan penjualan akan digunakan untuk pengadaan air bersih di Wairinding, salah satu daerah di sana yang masyarakatnya kesulitan mendapatkan akses air bersih. "Wairinding ialah salah satu landmark di Sumba Timur, tetapi akses air bersih di sana sulit. Masyarakat harus berjalan jauh sekali untuk mendapatkan air," tutur Dian.

Selain untuk pengadaan akses air bersih, hasil penjualan akan digunakan untuk renovasi rumah adat Prainatang di Sumba Timur. "Bangunannya sudah ratusan tahun dan kita berharap jangan sampai rusak. Kondisi saat ini hampir roboh, padahal itu warisan budaya," pungkas ibu Ishana Ariandra Nariratana Sutowo dan Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo itu. (H-5)

Komentar