Ekonomi

Pemerintah Cermati Geliat Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 8 August 2017 19:53 WIB Penulis: Tesa Oktiana Surbakti

MI/Ramdani

PEMERINTAH akan mencermati geliat pertumbuhan ekonomi lebih serius. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 sebesar 5,01% mengalami stagnasi lantaran sama persis dengan kuartal I 2017. Bahkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 lebih rendah dibandingkan kuartal II 2016 yang mencapai 5,18%.

"Pertumbuhan ekonomi kuartal II adalah hal yang positif, tapi ada hal yang tentu kita harus perhatikan secara serius. Dari sisi investasi dan ekspor, momentumnya harus tetap terjaga. Dan akan terus membaik pada kuartal III dan IV," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani saat ditemui di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (8/8).

Menyoroti pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 4,95% per kuartal II 2017, Sri mengatakan capaian positif tersebut perlu dijaga. Mengingat, komponen konsumsi rumah tangga memiliki andil besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah berharap penuh agar geliat konsumsi masyarakat bertumbuh lebih tinggi pada paruh akhir 2017. Meski tingkat inflasi sepanjang Januari-Juli 2017 sebesar 3,88% tergolong masih terkendali, namun nyatanya sempat menekan tingkat konsumsi masyarakat khususnya pada kuartal II 2017 yang diiringi momentum Lebaran.

"Tampaknya yang perlu kita perhatikan sesuai dengan tingkat inflasi yang terjadi. Inflasi kita sejauh ini masih di bawah 4%, namun sempat menekan konsumsi kita pada kuartal II. Makanya untuk konsumsi pemerintah berharap akan muncul lagi pada kuartal III dan IV," tambah Ani, sapaan akrabnya.

Upaya mengakselerasi tingkat konsumsi masyarakat, kata dia, dapat melalui implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) berikut penyaluran beras sejahtera (rastra). Walaupun penyaluran rastra sempat mengalami keterlambatan satu bulan, namun dia meyakini kebijakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat mampu mengurangi beban finansial.

"Program tersebut akan bisa meningkatkan kapasitas dari masyarakat terutama menengah ke bawah untuk bisa mendapatkan momentum peningkatan konsumsi," imbuhnya.

Adapun dari sisi kelas menengah, pemerintah berharap adanya optimisme untuk melakukan kegiatan investasi serta konsumsi.

Rendahnya belanja pemerintah (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN) nyatanya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, kontribusi belanja pemerintah terhadap struktur PDB mencapai 8,63%.

Sri menyatakan belanja pemerintah sebenarnya berkaitan erat dengan strategi eksekusi. Dalam hal ini, dia menekankan pemerintah tengah mempersiapkan dengan matang implementasi bantuan sosial sebagai bagian dari belanja pemerintah. Terutama PKH yang sasarannya naik menjadi 10 juta rumah tangga (RT) pada 2018.

"Kemudian dari sisi investasi juga kita tingkatkan (untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan). Berbagai hal seperti penurunan jumlah barang larangan dan terbatas (lartas), sehingga itu bisa mengurangi cost impostasi di dalam negeri. Kita juga lakukan kemudahan di bidang logistik dan akan terus diperbaiki. Sehingga pergerakan barang antar pulau akan semakin terakselerasi," tandas Sri. (OL-6)

Komentar