Polemik

Mutakhirkan Teknologi untuk Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Senin, 7 August 2017 08:13 WIB Penulis: Dro/P-4

CEO Telegram Pavel Durov -- ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Komitmen untuk memberantas konten radikal?
Sekarang kami bisa berhubungan langsung dengan kementerian dalam kaitan menghentikan potensi digunakannya kanal publik Telegram untuk propaganda teroris. Alasan saya di sini ialah membicarakan modernisasi dan identifikasi dalam menutup konten publik ataupun kanal yang ada terkait dengan terorisme.

Apa yang akan dilakukan ­Telegram?
Kami sebagai perusahaan dan organisasi berkomitmen untuk mengurangi waktu reaksi untuk menutup kanal publik yang ada yang diindikasikan berisi konten propaganda ISIS dan terorisme.
Dulu mungkin dibutuhkan waktu 24 jam atau 26 jam, tetapi sekarang kita rasa kita sudah mampu menutup kanal tersebut secara lebih efisien dengan hanya beberapa jam karena kita sudah memiliki anggota yang sudah mampu berbicara bahasa Indonesia.

Kerja sama dengan otoritas di Indonesia?
Kami memiliki dan sudah membuat kanal langsung yang memungkinkan tim dan Menteri Komunikasi menyampaikan konten yang dianggap berbahaya secara langsung kepada tim kami, dan itu akan sangat mengurangi waktu reaksi kami secara signifikan.

Telegram bersedia membuka akses dalam upaya memberantas teroris?
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Telegram adalah alat komunikasi privat, dan di atas itu juga menjadi jaringan komunikasi sosial bahwa kita memiliki banyak komunikasi publik yang tersedia dan juga konten. Kita memiliki kanal dan juga chat publik dan hal hal semacam itu.
Sebagai alat komunikasi pribadi, tidak akan ada perubahan. Kita memiliki aturan privasi yang ketat. Kita kita tidak memberikan data kepada pihak ketiga termasuk kepada pemerintah dan kami tetap berpegang pada hal itu.

Apa kesepakatan antara Telegram dan pemerintah ke depannya dalam upaya penanganan terorisme ?
Satu-satu nya hal yang berubah dalam hubungan antara Telegram dan pemerintah Indonesia ialah efisiensi waktu dari apa yang kita lakukan seperti biasa (menutup kanal publik) dengan harapan bisa meningkatkan waktu reaksi untuk menutup kanal dan akurasi dari apa yang bisa kita identifikasi sebagai konten yang berkaitan dengan terorisme atau konten yang berindikasi ISIS.
Ini adalah hal yang sangat perlu dipahami secara jelas dari semua hal yang kami diskusikan. Kami umumkan bahwa pengawasan ini hanya diterapkan pada kanal publik atau bagian social networking dari Telegram dan bukan bagian dari percakapan privat di Telegram.
Persoalan besar yang ada saat ini ialah penyebaran propaganda di ruang publik atau chanel publik karena mereka, ISIS, bisa me­rekrut member baru dan mereka bisa membahasnya secara privat. Tetapi mereka juga bisa menggunakan alat komunikasi media apapun secara privat dengan aplikasi media lainnya. (Dro/P-4)

Komentar