Pesona

Yang Bersinar dari Dua Negara

Ahad, 6 August 2017 11:31 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Adam Dwi

SEJUMPUT potongan blazer, sejumput potongan kamisol, serta sejumput potongan kemeja maskulin. Setelah diracik menjadi satu, semuanya dihidangkan dengan tambahan vest panjang modern serta celana selutut dengan teknik jahit rumit yang membentuk lipatan serta cut out.

Begitulah salah satu tampilan koleksi milik Amanda Rahardjo yang diperagakan di acara Rising Fashion di Galeries Lafayatte, Selasa(1/8). Koleksi Amanda cukup menarik perhatian karena kerumitan potongan dan teknik jahit yang diterapkan, tapi tetap berwujud busana kasual yang elegan dan modern.

Contohnya busana dengan sentuhan blazer, kamisol, serta kemeja. Paduan-paduan itu berwujud atasan yang mengekspos bagian bahu. Namun, tali spageti yang seksi di bagian bahu kontras dengan potongan yang smart dari blazer di bagian badan. Kesan busana itu juga maskulin dengan tangan berkancing manset.

Koleksi Amanda ini sekaligus menjadi salah satu wakil yang pas dari tajuk acara itu. Dengan keunikan desainnya, tidak mengherankan jika karya-karya desainer muda ini sudah cukup dikenal kalangan pecinta mode Ibu Kota. Dari situ pula, koleksinya memang layak menjadi wakil Indonesia di acara yang merupakan bentuk diplomasi di bidang fesyen ini. Nama Rising dipilih untuk merepresentasikan Indonesia (RI) dan Singapura (Sing).

"Sebagai fashion diplomacy, nantinya enggak hanya memiliki manfaat pertukaran ide, perluasan pasar, tetapi juga menghasilkan proye kolaborasi dalam dunia fesyen yang berkontribusi dan memperkuat masyarakat ekonomi ASEAN. Bukan tidak mungkin bisa menguasai pasar ASEAN yang dihuni sekitar Rp600 juta penduduk," kata Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Ngurah Swajaya, seusai konferensi pers di Galeries Lafayatte, Selasa(1/8).

Dari Indonesia, selain karya Amanda, ditampilkan pula koleksi label Calla Atelier yang digawangi Olivia Lazuardy dan Kris Hartanto. Label ini menampilkan gaya perempuan kuat nan feminin menjadi jiwa dari setiap rancangannya, seperti pada paduan jump suit berbahan denim dengan potongan cut bray dipadukan dalaman cropped top bermotif tartan merah putih dengan detail kerut di bagian lengan.

Selain koleksi itu, ada koleksi Sav Lavin dan Natalia Kiantoro. Sementara itu, tampilan menarik dari desainer Singapura, di antaranya terlihat di koleksi label Our Second Nature. Motif abstrak dalam latar material berwarna putih itu dijadikan sebagai jump suit sebatas bawah lutut, yang dipadukan dengan dalaman warna hitam tanpa lengan berkerah bulat. Koleksi lainnya hadir sebagai luaran berpotongan asimetris yang menambah kesan segar pada gaun polos hitam berpotongan lurus.

Tujuh label Singapura lainnya yang ikut ambil bagian, yaitu collate the label, salient label, island shop, queenmark, state property, chainless brain, dan the mindful company.

Acara ini menjadi salah satu perayaan dari hubungan bilateral kedua negara yang sudah memasuki angka 50. Karena itu, koleksi 12 desainer ini akan dipamerkan pada gerai Galeries Lafayatte Pasific Place selama sekitar satu bulan. Perayaan memang tak melulu harus dengan hajatan besar dan acara formal. Lini industri kreatif sengaja dipilih karena perkembangan desainer dari kedua negara ini sangat pesat.

Dukungan untuk cara ini juga datang dari pihak Digital Fashion Week serta Asosiasi resmi untuk mode dan tekstil Singapura (TaFF). Pada pameran Rising 50, pengunjung bisa melihat-lihat koleksi ready to wear dari setiap desainer pun dengan aksesori yang dikeluarkan dua desainer asal Singapura, State Property dan Chainless Brain. (M-3)

Komentar