Jeda

Asin tapi Minim Yodium

Ahad, 6 August 2017 09:34 WIB Penulis: Riz

Garam briket beryodium atau bata di pabrik garam di Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. -- M(/Nurul Hidayah

BANYAK garam lokal juga belum mengandung yodium. Padahal, target secara nasional ataupun internasional seharusnya 90% rumah tangga di Indonesia sudah mengonsumsi garam beryodium yang cukup.

“Jadi memang target konsumsi garam untuk semua itu seharusnya 90%, tapi garam di Indonesia belum sampai di situ, masih jauh dari 90% untuk garam beryodium,” ujar Direktur Micronutient Initiative Indonesia Elvina Karyadi kepada Media Indonesia, di Jakarta (4/8).

Elvina menjelaskan secara alamiah garam memang mengandung yodium tetapi hanya berkisar 2-3 ppm. Sementara itu, kandungan yang semestinya dikonsumsi adalah 30 ppm. Peraturan soal kandungan yodium diatur dalam Keppres No 69/1994 tentang Pengadaan Garam Beriodium. Namun, berdasarkan survei Kementerian Kesehatan, pada 2013 baru 54% rumah tangga Indonesia yang mengonsumsi garam beryodium.

National Program Officer Micronutrient Initiative Indonesia Rozy Afril Jafar menjelaskan proses penambahan yodium baru dilakukan setelah garam dari petani menjalani pencucian untuk menghilangkan logam berat dan kotoran-kotoran. Proses penambahan yodium ini dilakukan di tingkat industri.

“Yang bermasalah ini yang justru industri yang kecil dan menengah. Mereka mengabaikan pemberian yodium, bahkan di Bima dan Lombok, di sana tidak ada sama sekali industri garamnya, jadi dulu waktu kita masuk itu garam dari petani langsung dijual ke masyarakat tanpa ada proses pemberian yodium terlebih dahulu,” imbuh Rozy.

Untuk membedakan garam yang beryodium cukup mudah. Masyarakat tinggal meneteskan air perasan parutan singkong ke garam. Garam yang mengandung yodium akan berubah warna menjadi ungu.

Kekurangan yodium tidak hanya menyebabkan gondok ataupau cretine (cebol) seperti yang umumnya diketahui masyarakat, tetapi juga mengganggu tingkat kecerdasan. (Riz/M-3)

Komentar