Jeda

Bertahan dengan Garam Impor

Ahad, 6 August 2017 09:10 WIB Penulis: UL/M-3

Pekerja mengolah garam di pabrik yang terletak di Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Sekalipun tengah krisis garam, pabrik ini tetap beroperasi. -- MI/Nurul Hidayah

MESKI kondisi kelangkaan garam lokal melanda, pabrik garam milik Sanim di Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tetap beroperasi. Sayangnya ini bukan karena petani-petani garam di wilayah itu telah melakukan inovasi produksi, melainkan Sanim menggunakan garam impor.

“Kalau tidak terpaksa, saya tidak akan membeli garam dari Australia itu,” kata pria 67 tahun itu sambil menunjuk ke arah tumpukan garam impor.

erbicara kepada Media Indonesia di pabriknya, Kamis (4/8), mantan tukang becak yang kemudian sukses jadi pengusaha garam itu menjelaskan bahwa sepanjang 2016 tak ada panen garam. Stok di petani pun kosong. Bahkan, ladang garam milik Sanim seluas sekitar 7 hektare juga tidak menghasilkan garam.

Padahal membeli garam impor pun tidak mudah. Mereka harus membayar bilyet giro terlebih dahulu yang jumlahnya juga tidak sedikit. Kondisi itu yang akhirnya membuat banyak pabrik garam di Rawa Urip bangkrut, gulung tikar, serta merumahkan para pekerja.

Mulai memproduksi garam sejak 1982, Sanim mengawali menjual garam buatannya ke Pasar Plered, Kabupaten Cirebon. Dengan mengayuh sepeda, Sanim dan istrinya membawa garam sebanyak sekitar 1,5 kuintal untuk dijual ke pasar.

Di tengah krisis garam saat ini, pabrik pengolahan milik Sanim yang mengolah dua jenis garam, garam curah dan garam briket (bata), masih terus berproduksi.
Sigit Supriyanto, sang menantu, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal pabrik itu bisa memproduksi hingga 7 ton garam sehari. Namun, seiring dengan stok garam yang semakin menipis, produksi garam tinggal 3 ton per hari.

Pembelian garam impor, jelasnya, sudah dilakukan sejak awal puasa lalu seharga Rp1.900/kg. Pembelian terakhir itu, menurut Sigit, dilakukan sekitar dua minggu yang lalu dengan harga yang melejit Rp4.500/kg. Selama kelangkaan garam lokal, Sigit mengaku telah lima kali membeli garam impor dengan setiap pembelian sebesar 35 ton.

Saat ini, seiring dengan sudah berproduksinya petani garam lokal, Sigit pun mulai membeli garam-garam dari petani di sekitarnya.

Sigit dan Sanim mengaku memang sebenarnya lebih menyukai garam lokal karena rasanya lebih gurih. Yodium pun ditambahkan dalam proses penggilingan garam dan setelah pembakaran garam.

Garam yang dihasilkan dari pabrik itu tidaklah seputih garam yang dihasilkan dari garam impor. Sigit mengaku pabriknya bisa saja memproduksi garam lokal dengan kualitas yang seputih garam Australia, tapi proses yang dilakukan lebih rumit.

Di usia senjanya, kini Sanim lebih fokus untuk mengelola ladang garam yang dimilikinya. “Sama seperti petani garam lainnya, ladang garam saya tahun lalu juga tidak ada yang panen,” katanya. Kondisi itu, menurut Sanim, biasa terjadi sekitar 10 tahun sekali. Namun kini, seiring dengan panas yang semakin terik, Sanim sudah mengolah ladangnya untuk memproduksi garam.

“Tapi pekan lalu masih ada mendung dan gerimis kecil sehingga pengolahan ladang garam belumlah efektif,” tukasnya. (UL/M-3)

Komentar