Jeda

Panen dalam Hitungan Hari

Ahad, 6 August 2017 09:10 WIB Penulis: M Yakub

Grafis/Caksono

SEBAGAIMANA petani garam lain, Arifin Jamian bergantung pada air laut untuk menjalankan tambaknya. Meski begitu, penampungan air laut yang ia lakukan tidak tanggung-tanggung.

Ribuan meter kubik air laut ia simpan di kolam-kolam yang ia sebut bungker yang berada di lahan seluas 1,5 hektare di Desa Sedayulawas, Lamongan. Pengisian kolam seluas 5.000 meter persegi itu bukan hanya hitungan hari, melainkan terus diisi selama tujuh bulan sejak Januari.

Sebelum masuk bungker, air laut pun telah melalui proses pemisahan senyawanya dalam berbagai tahap. Rangkaian proses ini merupakan cara Arifin mengamankan ketersediaan bahan baku. Dengan begitu, pengkristalan garam bisa dilakukan setiap waktu.

Bahkan pada Juli hingga Agustus, tujuh unit meja kristalnya mampu memproduksi garam hingga 3 ton per hari. Jumlah itu terus bertambah hingga dalam setahun rata-rata produksinya mencapai 400 ton per hektare. Dengan begitu, hitungan umum panen garam membutuhkan waktu 14 hari tidak lagi berlaku.

Inovasi yang dibuat pria keturunan petani garam ini dikatakan lahir dari pencarian autodidak. Setelah bertani garam dengan cara konvensional pada 2011, pria yang tidak lulus perguruan tinggi ini menjajal metode geoisolator atau penggunaan media terpal plastik khusus untuk mempercepat pembutiran garam.

Meski caranya kemudian ditiru banyak petani lain, Arifin tidak cukup puas. Kendala cuaca tidak dapat diatasi hanya dengan penggunaan membran tersebut.

Arifin mencoba membuat rumah prisma ukuran 10 x 10 m2 dengan penutup mika plastik. Biaya pembuatan rumah prisma itu mencapai Rp5 juta per unit. Modal tersebut dapat kembali dalam dua kali masa panen dengan harga garam Rp3.500/kg seperti sekarang ini. Dari berbagai kegagalan, Arifin kemudian memilih plastik jenis geoprotect yang cocok untuk rumah prisma yang melengkapi metode penampungan air di bungker.

Kini, rumah prismanya menjadi tempat riset berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Daerah Tuban, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, hingga pejabat negara Thailand dan Malaysia. Pemprov Jatim dan Universitas Brawijaya memberikan apresiasi dengan memberi bantuan unit rumah prisma.

Skala besar
Konsep penampungan air laut, tetapi dalam skala jauh lebih besar, kini diajukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengatasi kelangkaan garam. Konsep itu disebut sebagai teknologi integrasi lahan.

Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Eniya Listiani Dewi menjelaskan integrasi lahan dilakukan dengan penampungan dan pengentalan air laut dalam waduk besar dan parit-parit.

“Jadi petani tidak lagi mengambil bahan bakunya dari laut, tapi dari waduk tadi yang air lautnya sudah jenuh, jadi dia hanya perlu maksimal lima hari untuk panen tidak lagi butuh waktu 14 hari seperti umumnya,” tutur Eniya, Rabu (2/8).

Namun, konsep ini membutuhkan lahan yang sangat luas (sekitar 400 hektare). Eniya mengatakan cara ini telah dilakukan PT Garam. Setelah masa persiapan selama dua tahun, kini lahan yang berada di Nusa Tenggara Timur itu mulai panen.

Impor
Upaya meningkatkan produksi garam juga dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Brahmanthya Satyamurti Poerwadi menjelaskan KKP membagikan media geomembran (geosiolator) kepada para petani hingga program pembangunan sejumlah gudang garam. Meski begitu, ia mengakui hambatan cuaca masih sulit diatasi.

Lebih lanjut, Brahmantya menjelaskan, untuk mengatasi kelangkaan garam, pemerintah akan mengimpor bahan baku garam konsumsi melalui PT Garam.
Impor sebesar 75 ribu ton itu diharapkan sudah masuk ke Indonesia sebelum 10 Agustus melalui tiga pelabuhan, yaitu Pelabuhan Ciwandan di Banten, Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, dan Pelabuhan Belawan di Medan.

“Garam bahan baku yang diimpor memiliki kadar natrium klorida (NaCL) paling sedikit 97%. Garam bahan baku ini akan dijual ke industri kecil dan menengah (IKM) yang memproduksi garam konsumsi,” jelasnya.

Dari berbagai studi di beberapa daerah sentra garam, seperti Pati, Rembang, dan Jepara, garam krosok yang dihasilkan petani memang memiliki kadar NaCl rendah bahkan ada yang kurang dari 85%. (Riz/M-3)

Komentar