WAWANCARA

Mabrur, Sehat, dan Selamat

Ahad, 6 August 2017 09:10 WIB Penulis: Riz/M-1

Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) yang juga Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam -- MI/Adam Dwi

DUA kali menunaikan ibadah haji sekaligus menjadi petugas, menjadi kepala rombongan (karom), dan selanjutnya berada dalam Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nur Syam memahami benar karakter khas jemaah haji Indonesia.

“Saat jadi karom, saya membawahkan 50 jemaah. Lazimnya warga Indonesia, selalu tergoda mengambil hal-hal yang utama. Kalau melempar jumrah maunya di waktu yang uta­ma, beribadah inginnya berkali-kali, tanpa memperhitungkan kesehatan. Ini yang akan selalu kita hadapi di lapangan,” jelas pria kelahiran Tuban, 7 Agustus 1958 itu.

Namun, ketika ia beribadah sekaligus bertugas pada periode 2000-an itu, jumlah jemaah belum sebanyak sekarang sehingga ia memberikan peluang bagi jemaahnya yang memaksa ingin mengambil waktu-waktu afdal.

Masakan Indonesia
Lain lagi ceritanya ketika ia tergabung dalam TPIHI pada 2003. Saat itu jemaah dijamu katering dari Arab Saudi dan disuguhi makanan Arab yang tentu tidak sesuai dengan lidah Indonesia.

“Itu yang membuat jemaah 2000 sampai 2010 itu tersiksa karena faktor makanan. Karena itu, di tahun-tahun terakhir, kita usahakan makanan khas Indonesia. Yang katering Arab, makanannya benar-benar tidak termakan,” imbuhnya.

Nur Syam pun membagi kiat tetap sehat selagi beribadah, yakni selalu membawa air minum ke mana pun mereka pergi guna mencegah dehidrasi karena ia pun pernah mengalaminya.

“Ini penting karena tawaf itu di tempat yang panas, saat cuaca terik. Saya pernah punya pengalaman, tidak bawa air dan dehidrasi karena panasnya luar biasa, lalu minum air dingin, itulah yang menyebabkan radang tenggorokan. Jangan takut minum sebanyak-banyaknya untuk menghindari dehidrasi supaya badan tetap sehat,” pungkas Nur Syam. (Riz/M-1)

Komentar