MI Anak

Kenal Lebih Dekat dengan Harimau Sumatra

Ahad, 6 August 2017 04:46 WIB Penulis: Suryani Wandari

ANTARA/Wahdi Septiawan

TUBUH berukuran besar mencapai lebih dari 2 meter itu berwarna jingga, pada bulu tubuhnya terdapat garis loreng hitam yang cukup rapat. Dia mampu bertahan di daerah hutan, rawa-rawa, sungai, hingga pegunungan dan lahan gambut dengan memangsa rusa, babi hutan, dan lainnya.

Hewan ini biasanya dipanggil pula sebagai kucing besar karena bentuk tubuhnya menyerupai kucing. Ada yang tahu hewan apa yang Medi maksud?

Ya, harimau. Kamu pasti pernah melihatnya di kebun binatang, taman safari, ataupun di televisi. Akan tetapi, pernahkah kamu melihatnya secara langsung di alam? Tentu sudah sulit sekali kan. Itu disebabkan setiap tahunnya harimau kian berkurang. Bahkan sekarang saja Indonesia telah kehilangan habitat harimau di dua pulau, yakni Jawa dan Bali lo. Masih penasaran dengan harimau, yuk simak Medi!

Si pemalu yang pandai berenang

Dalam beberapa kisah fiksi seperti novel ataupun film, harimau selalu dikaitkan dan dipercaya sebagai sosok yang bisa berubah menjadi manusia. Apalagi di Sumatra, khusunya masyarakat Riau, harimau ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

"Di Riau, harimau pun dihormati, masyarakat sekitar menyebutnya dengan panggilan nenek atau inyek. Harimau sumatra adalah satu-satunya jenis harimau yang dimiliki Indonesia saat ini," kata Pak Rizal Malik, CEO WWF Indonesia, dalam dialog publik #time4tiger di @america, Pasific Place, Rabu (2/8).

Dalam peringatan Hari Harimau Sedunia yang jatuh pada 29 Juli itu, sejumlah lembaga berbagi informasi dan cerita menarik mereka tentang harimau sumatra dan upaya pelestariannya lo.

Berbeda dengan harimau yang ada di Jawa dan Bali, harimau di Sumatra ini memiliki warna dasar kulit lebih gelap disertai dengan garis loreng yang rapat, memiliki rambut panjang di sekitar wajahnya, dan terdapat selaput khusus membuatnya bisa berenang hingga 8 km lo. Namun siapa sangka, harimau yang terlihat menyeramkan, berkarisma, dan gagah itu sebenarnya sosok pemalu juga lo sobat. Dalam berburu, misalnya, harimau biasanya akan mengendap-ngendap, bersembunyi di balik semak lo. Ya, bukan seperti cheetah yang memburu dengan keahlian larinya yang cukup cepat. Dalam sekali makan, harimau sumatra ini akan menghabiskan 5-6 kg daging rusa, babi hutan, kerbau atau lainnya lo.

Pemburuan

Sobat, kita boleh berbangga lo karena Indonesia merupakan salah satu dari 13 negara yang memiliki harimau. Jenis harimau sumatra merupakan habitat satu-satunya di Indonesia yang masih ada. Namun, tahukah sobat, kondisinya kini memprihatinkan lo, terlebih karena banyaknya pemburuan terhadap harimau.

"Dalam 6 bulan terakhir ada 19 kasus perdagangan harimau. Ditemukan 3 ekor harimau hidup, 31 lembar kulit, dan 60 bagian tubuh lainnya seperti taring dan kumis," kata Ibu Indra Eksploitasia, Dirjen Penegakan Hukum, Pencegahan, dan Penanganan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Berdasarkan data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatra Utara (BBKSDA Sumut) pada 2017, sudah tiga harimau sumatra mati. Dua harimau diduga diracun pemburu di kawasan Sosopan Padang Lawas, sedangkan satu lagi mati dibunuh dengan cara ditombak di Kabupaten Labuhan Batu Utara. Tak hanya itu, konflik antara manusia seperti masuk ke permukiman warga dan memakan ternak warga menjadi alasan harimau ini dibunuh lo. "Di seluruh dunia ada sekitar 3.200 ekor harimau, yang ada di Sumatra hanya ada 371 yang tersisa," ungkap Pak Rizal.

Upaya pelestarian

Kini sejumlah ahli pun sedang merancang untuk pelestarian hewan ini agar bisa hidup berdampingan dengan masyarakat. Ada Forum Harimau Kita yang mengawasi dan menindaklanjuti kasus penjualan harimau. Ada pula Wildlife Conservation Society yang membuat pagar pembatas antara habitat harimau dan manusia termasuk juga kandang ternak warga yang diberi pelindung.

"Sebanyak 195 pagar pengaman antiharimau sudah dipasang di 112 titik di bentang alam Gunung Lauser, Sumatra. Ini pun terus disosialisasikan ke desa-desa agar masyarakat lebih mandiri menghadapi harimau," kata Kak Tisna Nando dari Wildlife Conservation Society.

Nah sobat, kita juga enggak mau kehilangan hewan kebanggaan Indonesia. Yuk mulai sekarang lakukan dari hal kecil seperti jangan buang sampah sembarangan, termasuk di gunung saat mendaki. Kita juga harus mengurangi penggunaan kertas dan tisu agar tempat tinggal mereka aman tanpa ada penebangan pohon. (Suryani Wandari/M-1)

Komentar