Hiburan

Adaptasi yang Terlambat

Ahad, 6 August 2017 04:31 WIB Penulis: Hera Khaerani/M-4

DOK. AP/STX ENTERTAINMENT

BEBERAPA dekade terakhir, sebuah pangkalan angkasa luar bernama Alpha dihuni manusia bumi dan serangkaian spesies dari berbagai planet. Seiring dengan waktu, pangkalan itu bertumbuh dengan banyaknya pesawat yang datang dari planet lain yang bergabung. Saking besarnya, itu hampir mendekati atmosfer bumi dan mengancam keselamatan bumi. Keputusan melepas diri dari atmosfer bumi pun dilaksanakan dan Alpha berkelana di galaksi dengan misi perdamaian bagi seluruh antariksa.

Sayangnya, kedamaian di Alpha mulai terusik oleh infeksi misterius di dalam pangkalan tersebut. Komandan Arun Filitt (Clive Owen) menyatakan infeksi itu bisa menyebar cepat dalam hitungan minggu. Sejumlah pasukan telah dikerahkan untuk mencari tahu sumber masalahnya. Namun, semua tewas, tidak ada yang kembali.

Saat penyelidikan tengah berlangsung, Mayor Valerian (Dane DeHaan) dan Sersan Laureline (Cara Delevingne) baru kembali dari misi menggagalkan jual beli hewan yang disebut ‘konver­ter’. Hewan yang bisa memperbanyak benda-benda itu menjadi makhluk yang sangat dilindungi karena bukan hanya langka, dia merupakan satu-satunya yang tersisa di antariksa.

Valerian dan Laureline yang dikenal tidak pernah gagal dalam misi itu mendapat tugas melindungi Komandan Filitt. Federasi di Alpha yang mewakili seluruh makhluk di antariksa itu bersidang untuk menentukan langkah yang perlu diambil terkait dengan ancaman infeksi misterius di dalam pangkal­an tersebut. Namun, saat sidang berlangsung, ada sekum­pulan makhluk tidak teridentifikasi yang masuk dan menyerang. Serangan mereka tidak mematikan, tetapi Komandan Filitt mereka culik. Ternyata para penyerang itu sebenarnya bukan berniat membunuh, mereka hanya ingin mengambil konverter, hewan langka yang berasal dari Planet Mul.

Dalam upaya penyelamatan itu, Valerian dan Laureline justru menemukan banyak hal mencurigakan. Itulah sekelumit kisah dalam film Valerian and the City of a Thousand Planets garapan sutradara Luc Besson.

Komik

Film ini merupakan adaptasi dari komik Prancis berjudul Valerian and Laureline. Komik serial yang diterbitkan sejak November 1967 hingga Januari 2010 itu dianggap menjadi landmark bagi komik Eropa dan budaya pop. Tak hanya itu, komik yang ditulis Pierre Christin, illustrator Jean-Claude Mezieres, dan colorist Evelyn Tran-Le itu juga banyak memenga­ruhi berbagai media lain seperti film. Konsepnya, jalan cerita, juga desainnya, bisa ditemukan dalam film Star Wars.

Bukanlah rahasia jika Luc Besson sangat terinspirasi oleh komik Valerian and Laureline. Karyanya yang terdahulu, The Fifth Element (1997), juga dipengaruhi komik tersebut. Bahkan kala itu, sang ilustrator Jean-Claude Mezieres dilibatkan dalan produksi desain di filmnya.

Sayangnya, Luc Besson justru baru membuat adaptasi film dari komik itu sekarang. Alhasil bagi yang tidak pernah membaca dan tidak tahu betapa berpengaruhnya komik Valerian and Laureline, mungkin akan terkesan ada banyak ide yang diambil dari film-film fiksi ilmiah lain seperti Star Wars. Padahal sebaliknya, komik itulah yang ada lebih dulu.

Beberapa hal yang sebenarnya futuristis jadi kehilangan kesan karena kemajuan teknologinya sudah ada. Seperti adegan misi duo Valerian dan Laureline di Planet Kyrian yang menggunakan setting ‘dunia lain’ dan hanya dapat dilihat bila pengunjung menggunakan helm khusus. Meski tidak persis, teknologi ini serupa dengan virtual reality (VR). Andai film ini dihadirkan sebelum VR terkenal, pasti lebih feno­menal karena nilai futuristisnya.

Film ini menyajikan visual yang lumayan kaya dan patut diacungi jempol. Luc Besson mengajak penonton mengandaikan berbagai spesies dan cara hidupnya yang mungkin saja ada di luar sana. Detailnya sungguh memesona. Lalu pesan moral yang diangkat juga masih representatif untuk kehidupan masa kini. Betapa hak atas sebagian kalangan superior tidak sepantasnya mengabaikan hak golong­an yang lain. (M-4)

Komentar