MI Muda

Sorodot Gaplok Bisnis dan Ekspedisi

Ahad, 6 August 2017 02:01 WIB Penulis: Hilda Julaika, Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Dok. Pribadi

Keripik singkong Sorodot Gaplok ini tetap eksis di antara ketatnya bisnis camilan ala kekinian. Lebih dari sekedar produksi, pengemasan, dan strategi pemasaran, Sam meluaskan pengembangan keripiknya sebagai peranti pengungkit kehidupan bagi orang-orang di sekitarnya.
Mari simak kisah sang pendirinya, Sidik Amin Mubarok (Sam).

Kenapa pilih bisnis keripik?

Karena bisnis makanan itu tidak akan pernah habis, karena kan itu kebutuhan pokok. Nah, pilih kripik karena pada 2013, saat saya mulai, sedang booming keripik.

Saya sedari kecil sudah harus berusaha menghidupi kehidupan sendiri sehingga ketika ada teman yang memberikan tantangan, memesan 44 bungkus keripik, langsung saja iyakan.

Padahal saat itu, produk keripiknya belum ada. Tantangannya, order pukul 08.00 pagi, harus beres pukul 02.00 dini hari.
Jujur saya bingung karena belum tahu mulai dari mana. Tapi, ya sudah yang penting mau nunjukin, bisa melakukan tantangan tersebut. Dari sanalah Sorodot Gaplok berawal.

Namanya unik juga ya, artinya apa?

Nama ini datang dari obrolan dengan teman saya, Dimas. Ia bilang, keripik buatan saya ini banyak yang suka, tapi sayangnya belum memiliki ciri khas, terutama dari nama dan variasi rasanya.

Lalu obrolan kami mulai masuk ke persoalan anak-anak zaman sekarang yang sangat gemar bermain gadget dan melupakan permainan tradisional. Akhirnya kami menyebut nama permainan tradi­sional Sunda satu per satu, mulai uucingan, bancakan, gorobak sodor, dan terakhir sorodot gaplok.
Saya berpikir nama sorodot gaplok enak didengar, sekaligus produk saya bisa jadi brand ambassador untuk melestarikan kebudayaan daerah. Setelah sekitar sebulan memenuhi tantangan teman saya, langsung deh ada pesanan 1.000 bungkus, alhamdulillah.

Bagaimana peluang bisnis makanan saat ini?

Khususnya kripik singkong, memang dari tahun ke tahun semakin tumbuh kompetitor yang mungkin lebih unik dan inovatif. Tapi, kalau kita tetap mempertahankan ide dan identitas, seperti bumbu dengan cita rasa rempah-rempahnya dan strategi promosi, ya bisa eksis. Saya buat jingle, tantangan tertentu, hingga program donasi.

Bisnis singkong akan terus bertahan, selagi jumlah remaja di Indonesia terus meningkat. Saya juga sudah ditawarkan masuk ke Persatuan Mahasiswa di Mesir. Hasil negosiasi, kalau di sini saya jual Rp15.000 per bungkus, di sana sekitar 40 real atau setara Rp45.000-Rp50.000 per bungkus.

Omset yang berhasil kamu bukukan?

Setelah 4 tahun, alhamdulillah sempat mencapai penjualan 4.000 bungkus per bulan. Itu artinya Rp60 juta per bulan.

Strategi yang kamu terapkan agar terus eksis?

Saya lebih menekankan pendekatan personal, karena bisnis ini benar-benar mengandalkan relasi, merekalah yang mempromosikan, juga menjadi reseller.

Kita juga harus bisa melihat tren dan masalah kekinian, contohnya, produk di media sosial, seperti Instagram, sudah tidak efektif lagi. Lalu harus berpikir, gimana caranya, orang melihat sesuatu, langsung teringat produk kita. Akhirnya, saya menggunakan strategi membuat jingle, berjudul Sorgap, kependekan dari Sorodot Gaplok.

Saya langsung merekrut orang-orang yang hobi menyanyi. Setidaknya di Unpad ada 20 ribu orang. Saya menggaet orang-orang yang suka menyanyi dan punya followers yang banyak. Ini mempermudah untuk bisa dikenal di kalangan mahasiswa.

Kamu pernah jatuh saat berbisnis, bagaimana cara bangkitnya?

Tentu pernah, pertama saat proses awal merintis, ketika saya pertama kali masuk kuliah. Produk dilempar ke muka saya oleh senior, katanya untuk apa saya beli, karena dulu bungkusnya memang masih plastik. Menurutnya, pengemasan seperti itu tidak cocok dipasarkan.

Kalau orang yang mudah memasukan ke hati, pasti langsung merasa terjatuh. Karena dia bilang di depan orang banyak, tegas sekaligus sinis.
Tapi, kalau kita mikir dari segi wirausaha, ini sebagai acuan untuk bangkit dan mengubah kemasan.

Saya langsung mengubah pengemasan. Coba kalau tidak diperlakukan seperti itu.

Kedua, karena saya berpikir Sorgap ini penunjang dan penopang hidup, sempat merasa enggak mampu melanjutkan kuliah dan bisnis sekaligus.
Tapi alhamdulillah, banyak yang mendukung.

Kemarin, setelah KKN, uang tabungan saya tinggal Rp6 juta, lalu saya cerita dengan ketua Karang Taruna di desa tempat KKN.

Saat itu ada tiga pilihan yang ia susulkan, mengandalkan Rp6 juta untuk keberlangsungan hidup, membuka usaha makanan lain dengan membeli gerobak, namun dengan proyeksi penghasilan Rp1,5 juta per bulan, atau meneruskan Sorgap dengan harapan ada perkembangan.

Akhirnya saya memilih melanjutkan Sorgap, benar saja, ada yang memesan Sorgap 10 ribu bungkus. Saya membeli singkong dan memesan kemasan dengan modal Rp6 juta, dan pinjaman Rp17 juta.

Namun, orang yang memesan tersebut tiba-tiba meng-cancel. Saya jadi menanggung utang Rp17 juta. Saya benar-benar bingung, memberanikan meminjam ke bank, namun ditolak.

Akhirnya saya ketemu langsung dengan pemilik percetakan dan mengatakan saya pasti akan melunasi utang tersebut, namun belum bisa memastikan kapan. Akhirnya bapak pemilik percetakan itu justru mengatakan menghargai kejujuran saya.

Setelah itu, saya dapet pesenan 4 ribu bungkus, kemudian 5 ribu, dan selanjutnya 3 ribu.

Menurutmu kenapa kita perlu berbisnis sejak dini?

Kacamata pebisnis, pasti memikirkan akan ada posisi jatuh suatu saat nanti. Untuk menanggulanginya, harus memupuk jiwa kewirausahaan sedari dini. Ini bisa jadi pemacu hidup untuk terus memperbaiki kualitas diri.

Katanya sedang buat proyek ekspedisi, ceritakan dong?

Ini diusung saya sendiri, namanya Ekspedisi Kami Kembali, Saatnya Berbagi, dengan cara bertahan hidup dan akses transportasi dengan Rp0.
Misinya, pendidikan yakni edukasi seputar impian anak anak di daerah tertinggal serta langkah perwujudan mimpinya, membantu make over strategi penjualan pedagang kecil di setiap kota yang disinggahi serta edukasi kebinekaan.

Selain itu pesan yang mau disampaikan, jangan pernah takut untuk menikmati keindahan Indonesia, perbedaan, serta kekayaan alamnya, biaya bukanlah alasan untuk tidak mencicipi keramahtamahan Indonesia. Jangan sampai kita hanya bisa bahagia dan sukses sendiri, tapi harus membagikannya ke orang lain! (M-1)

Komentar