PIGURA

Becik Ketitik Ala Ketara

Sabtu, 5 August 2017 23:31 WIB Penulis: Ono Sarwono

JAGAT politik di parlemen negeri ini ibarat seluas bak papan catur. Kelihatannya dinamis, taktis, penuh gereget, dan menguras banyak energi, tetapi sesungguhnya kinerja mereka hanya berputar-putar di situ-situ saja. Gersang langkah dan karya-karya nan agung.

Ini tergambar dari setiap agenda politik yang mereka perdebatkan dan perjuangkan dari waktu ke waktu masih terpolarisasi oleh buruan pragmatis masing-masing. Perangainya, bila targetnya kandas, mereka ngalor-ngidul meracau dengan mengatasnamakan rakyat.

Muruahnya, politik bukan sekadar ajang menggenggam kekuasaan, melainkan medan pengabdian. Roh pengabdian ialah pengorbanan. Laku mulia inilah yang masih terus menandus dalam jiwa para elite.

Inilah kiranya kenapa demokrasi yang digadang-gadang sebagai tool menggapai percepatan kemakmuran bangsa akhirnya belum membuahkan hasil. Elite sepertinya tidak pernah bangkit naik kelas, kering bersemainya jiwa-jiwa pengorban.

Penakut dan pengecut

Dalam konteks ini, ada kisah tokoh dalam cerita wayang yang bisa dijadikan diskursus. Dia adalah Karna, elite Astina pada rezim Prabu Duryudana. Pamornya bahkan sampai menginspirasi jagat raya.

Bagi Karna, politik tidak semata untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Lebih penting dari itu, berpolitik harus berlandaskan nilai-nilai keutamaan. Itulah yang ia pegang teguh sampai raganya rubuh.

Diceritakan, Karna adalah putra Kunti dari benih Bathara Surya. Ia lahir di Negara Mandura. Namun, sejak kecil Karna diasuh Adirata, sais Kerajaan Astina pada era Prabu Kresnadwipayana dan Pandu Dewanata.

Kodratnya Karna mengabdi di Astina pada rezim Kurawa yang zalim. Meski demikian, ia kalis dari lumpur kezaliman. Jiwa kesatrianya kukuh membaja, tidak tergempil sedikit pun atau luntur karenanya.

Ia sering bertentangan dengan mayoritas elite Astina dalam rapat-rapat paripurna. Tidak jarang Karna berdiri sendiri mempertahankan sikapnya sekaligus mengecam ‘rekan-rekannya’ ketika menginjak-injak nilai-nilai kesatria dalam memutuskan langkah-langkah politik.

Faktanya, Karna memang selalu kalah memperjuangkan ‘politik putihnya’. Akan tetapi, ia tidak pernah walk-out, tinggal glanggang colong playu, lari dari tanggung jawab. Bilamana keputusan sudah diambil mayoritas dan disetujui raja, ia dengan besar hati melaksanakannya.

Karna tidak mengutak-utik keputusan yang sudah diketuk. Pun tidak mengumpat ke sana-ke mari lantaran yang diperjuangkan mentok. Ia juga absen mencari dukungan jalanan guna membenarkan pendiriannya.

Misalnya dalam lakon Bima Suci. Atas perintah raja, paranpara Durna menyusun sejumlah skenario untuk membunuh Bima atau Bratasena (Pandawa) dengan tipu muslihat. Ini bagian dari upaya besar Kurawa melenyapkan Pandawa demi melanggengkan kekuasaan.

Cara licik itu ditentang keras Karna. Itu dinilai bukan cara kesatria. Menurutnya, kalau ingin menyirnakan Bratasena mesti langsung ditantang berperang. Dalam bahasanya, ‘Ini dadaku, mana dadamu?’. Bukan menikam dari belakang yang dianggap sebagai perilaku penakut dan pengecut.

Namun, manakala cara tidak beradab itu sah menjadi keputusan, Karna tidak lari memunggunginya. Sebagai senapati, ia memimpin pasukan Kurawa untuk mengawal dan melaksanakannya dengan baik.

Menjadi urub-urub

Watak Karna yang ngugemi (memegang teguh) jiwa kesatria itu tidak pernah terdengar hingga keluar istana. Pun para keluarga Pandawa, bahkan ibunya sekalipun.

Jiwanya seminaunya itu baru terkuak dunia luar menjelang pecahnya Bharatayuda. Botoh Pandawa, Kresna, menjadi saksi saat ia menemui Karna agar bergabung dengan Pandawa (Puntadewa, Bratasena, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) yang merupakan adik kandungnya sendiri lain ayah.

Karna menolak. Ia tegaskan tetap berada di pihak Kurawa karena menjunjung sumpahnya. Di sisi lain, ia menyebut Kurawa tanpa dirinya akan gamang menghadapi Pandawa. Bila itu yang terjadi, Bharatayuda bakal gagal. Kalau demikian, kezaliman tidak akan lenyap.

Menurutnya, kezaliman mesti hilang bersamaan dengan yang menyandangnya, yaitu Kurawa. Maka ia rela menjadi urub-urub (pembakar semangat) Kurawa agar berani melawan Pandawa.

Di depan Kresna, Karna menyatakan bahwa adik-adiknya (Pandawa) bakal unggul dalam perang antartrah Resi Abiyasa. Ia pun menyadari bakal hancur di tangan Arjuna. Inilah kodrat yang mesti ia lakoni tanpa mesti diratapi. Ia pun legawa gugur demi terwujudkan keadilan jagat.

Kresna tidak menyangka Karna bersikap seperti itu. Walaupun dalam Kitab Jitabsara yang berada dalam genggamannya telah menarasikan secara lengkap peperangan Arjuna melawan Karna, Kresna tidak menduga tentang prasetya (janji kesetiaan) kesatria Awangga yang mengguncang dunia tersebut.

Dengan demikian, pada hakikatnya yang dibela Karna bukan Kurawa yang zalim, melainkan menegakkan nilai-nilai keutamaan. Perjuangannya memang tidak gampang karena ia seorang diri berada di tengah-tengah rezim yang pragmatis dan hedonis.

Maka, Bharatayuda menjadi panggung pembuktian kualitasnya. Ia tidak takut jadi abu, apalagi sekadar kehilangan kedudukan atau kekuasaan. Ia ikhlas mempersembahkan jiwa raganya demi tertibnya marcapada.

Serat Tripama

Poin dari kisah Karna ini ialah ia bukan tipe politikus yang memburu kenikmatan duniawi. Yang ia perjuangkan ialah norma-norma keadaban. Dunia mesti dibangun dengan keutamaan.

Bila hanya ingin hidup selamat dan nikmat, Karna bisa saja bergabung dengan Pandawa seperti yang disarankan Kresna. Namun, itu bukan pilihannya. Inilah pengorbanan terbesar Karna bagi buana.

Dalam kearifan lokal, ada ungkapan bijak yang terkait dengan kisah Karna tersebut, yakni ‘Becik ketitik ala ketara’. Maknanya, kebaikan akan diketahui, keburukan pasti kelihatan. Karna adalah ‘mutiara jagat’ yang tetap bersinar meski berkubang dalam rezim yang penuh kesewenang-wenangan.

Moral dan dedikasi Karna inilah yang menginspirasi KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881) untuk menulis Serat Tripama. Ini buku tentang tiga kesatria yang pantas diteladani. Satu di antaranya Suryaputra alias, ya, Karna itu. (M-4)

Komentar