Tifa

Wajah Indonesia dari Koleksi Lukisan Istana

Sabtu, 5 August 2017 23:16 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

MEMASUKI ruang pertama galeri pamer, lukisan Basoeki Abdullah akan langsung menyapa para pengunjung. Lukisan berjudul Pantai Flores (1942) itu seolah membuka percakapan dengan pengunjung tentang tema pameran itu.

Lukisan itu semula merupakan karya Bung Karno yang dilukis di atas kertas dengan cat air. Lalu Bung Karno meminta Basoeki Abdullah untuk menyalin dalam lukisan cat minyak di atas kanvas. Potret pemandangan Flores yang indah itu direkam Bung Karno semasa menjalani hukuman pengasingan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Belum cukup terpukau oleh lukisan Basoeki, pengunjung akan dipukau lagi dengan karya Wakidi berjudul Senja di Dataran Mahat (1954). Lukisan itu menghadirkan suasana alam berbukit-bukit. Lukisan naturalis itu berusaha merekam suasana dan pemandang­an alam seperti aslinya. Masih ada lukisan Harimau Minum (1863) karya Raden Saleh yang menampilkan suasana alam yang dramatis dengan warna cenderung redup.

Itu beberapa karya yang berada dalam tema keragaman alam. Salah satu tema yang diusung dalam Pa­meran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan bertajuk Senandung Ibu Pertiwi yang berlangsung selama 1-30 Agustus 2017 di Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini dikuratori Asikin Hasan, Amir Sidharta, Mikke Susanto, dan Sally Texania.

Pameran itu dilaksanakan Kementerian Sekretariat Negara sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Kemerdekaan HUT Ke-72 RI 2017. Pameran kali ini merupakan pameran lukisan kedua Istana Kepresidenan setelah kesuksesan penyelenggaraan pertama tahun lalu. Jika dibandingkan dengan tahun lalu yang memamerkan 28 lukisan dari 21 pelukis, pameran lukisan kali ini akan menampilkan lebih banyak lukisan.
Ibu Pertiwi merupakan gambar bijak bestari bangsa yang dihidupkan sebagai sosok, sebuah imajinasi dan metafora femininitas penuh kasih, penjaga, dan pelindung bagi semua.

“Ibu Pertiwi ini kan metafora, pengertian lainnya tanah air sebenarnya. Jadi dia sebenarnya dia menjadi metafora gambaran pemersatu. Dia itu menjadi pusaran kebaikan,” terang Asikin Hasan.

Pameran ini menyajikan 48 karya dari 44 perupa dengan pelbagai irisan tematik antara keragaman alam, keseharian, tradisi, mitologi, dan religi. Empat tema itu menjadi perwujudan dari konsep utama yakni Ibu Pertiwi. Sebaliknya, Ibu Pertiwi menjadi semacam benang merah yang menghubungkan semua karya yang dimpamerkan sekaligus menjadi payung konsep dari setiapnya. “Dia itu metafora, semua bisa bertemu di situ,” tegas Asikin.

Sudut pandang berbeda

Pada tema keragaman alam, para pelukis tidak hanya meng­ambil sudut pandang berbeda, tapi juga merekam objek dari tempat berbeda-beda seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Mereka merekam pemandangan alam seperti nyiur di pinggir pantai, ombak yang ber­gulung-gulung, pepohonan rindang di antara jalan, gunung tinggi, lembah curam, dan sawah luas dengan padi menguning.

Lukisan dengan ciri seperti itu dikenali sebagai gaya mooi indie. Kecenderungan melukis yang gejalanya tampak sekitar abad ke-19 diawali pelukis-pelukis Eropa yang berkarya dan menetap di Hindia Belanda. Belakangan itu dikembangkan pelukis Raden Saleh, kemudian Abdullah Suriosubroto, Wakidi, dan Basoeki Abdullah.

Tema berikutnya juga menyambung dari keragaman alam. Kegiatan sehari-hari tak terlepas dari bingkai keindahan alam dengan objek pantai, ombak, gunung, dan sawah. Lukisan Keluarga Nelayan (1950) karya Cristiano Renato menampilkan cerita keluarga nelayan yang bersiap-siap menuju ke suatu tempat atau barang kali justru baru tiba dari sesuatu tempat penangkapan ikan. Sebuah gambaran berulang dari kehidupan sehari-hari yang bergantung pada berkah dan kekayaan laut. Ruang-ruang yang membandingkan antara manusia dan alam tampak pada lukisan ­Be­kerja di Sawah di Bali (1954) karya Rudolf Bonnet. Ia menggambarkan alam yang luas dengan menempatkan manusia atau petani hanya sepotong objek kecil di dalamnya.

Tema ketiga yakni tradisi dan identitas. Bagian ini memotret identitas yang merupakan hal penting bagi bangsa dan negara seperti identitas busana. Koleksi Istana Kepresidenan memiliki lebih 50 lukisan bertema kebaya dan ragamnya. Pada pamer­an ini ditampilkan beberapa di antaranya dalam pelbagai pose. Lukisan Potret Sumilah (Mimpi) (1950) karya Soedibio, misalnya, menggambarkan perempuan berkebaya duduk bersila dengan latar pemandangan yang tampak surealistik, alam rekaan yang tak hadir dalam kehidupan nyata.

Terakhir sebelum meninggalkan ruang pamer. Tepat sebelum pintu keluar terdapat lukisan berjudul Djika Tuhan Murka (1949-1950) karya Basoeki Abdullah.

Lukisan ini menyampaikan pesan moral yang dapat menjadi contoh bagi manusia agar selalu menghormati Ibu Pertiwi, menjaga keseimbangan lingkungan, menghindari peperangan, dan konflik yang akan membawa bencana.

Hidup di atas tanah indah yang terberi, maka selayaknya juga harus memberi. Itulah keseimbangan. “Harusnya begitu, ada timbal balik. Apa yang kita beri? Ya berkarya,” pungkas Asikin. (M-2)

Komentar