Tifa

Panggung Cahaya untuk Tiga Penyair

Sabtu, 5 August 2017 23:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

MI/Panca Syurkani

TIBA-TIBA panggung gelap, setelah sebelumnya dipenuhi dengan cahaya benderang yang seolah menelan semua yang ada didalamnya. Properti yang tadinya berkilauan diterpa lampu tiba-tiba tak terlihat. Berikutnya ketika lampu menyala, properti telah berubah. Tidak didapati properti sebelumnya. Pergantian set panggung begitu cepat. Seolah dalam gelap, mereka mencoba memberi waktu pada penonton untuk menebak kejutan yang bakal didapati ketika panggung kembali benderang.

Itulah sekelumit pengalaman yang dihadirkan Teater Kosong dalam pentas bertajuk Indonesia dalam 3 di Ciputra Artpreuneur Jakarta (30/7). Sebelumnya, Teater Kosong mementaskan pembacaan puisi teatrikal Manusia Istana karya Radhar Panca Dahana di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta (28/1).

Berbeda dengan pentas sebelumnya yang menghadirkan para pembaca puisi dari kalangan artis ternama, pementasan kali ini diisi Radhar Panca Dahana bersama dua penyair A Mustofa Bisri (Gus Mus), dan D Zawawi Imron. Dalam pentas ini juga tampil Renny Djajoesman yang juga akan membawakan sebuah lagu-puisi.

Pentas Teater Kosong kali ini menyuarakan keheningan dan kebeningan puisi dalam meneropong kenyataan mutakhir Indonesia hingga ke bagian terdalamnya. Tiga penyair itu membawakan sejumlah puisi ciptaanya yang bertemakan dinamika sosial budaya Indonesia di atas panggung.
Ketiga penyair itu masing-masing membawakan enam puisi yang dipilih dari 10 puisi.

Menurut produser pementasan Olivia Zalianty, bukan hal mudah untuk memilih karya-karya itu. Sebab, ketiganya telah dikenal sebagai penyair dengan karya-karya yang bermutu. Karya-karya itu memotret banyak isu sosial, budaya, dan politik kekinian. “Suatu perjuangan yang berat sekali menyatukan orang-orang ini di atas panggung. Orang-orang besar semua,” terang Olivia seusai pementasan.

Kegaduhan sosial

Bukan rahasia lagi, situasi kegaduhan sosial sangat terasa. Setidaknya sejak kampanye Pemilu Presiden 2014 lalu hingga pemilihan Gubernur DKI beberapa saat lalu. Kondisi itu memunculkan banyak rasa yang dialami masyarakat seperti takut, cemas, ataupun gamang. Mereka yang berada dalam kebingungan membutuhkan sebuah pencerahan pikiran dan ketentraman jiwa. Upaya itu tentu selayaknya dilakukan dengan cara yang sejuk dan damai.

“Acara semacam ini sangat peting bagaimana kita bisa merefleksikan di tengah-tengah kisruh yang dihadapi negara kita. Bagaimana kemarin isu-isu Pancasila, ketuhanan dibawa ke ranah politik,” terusnya.

Sejak awal pementasan, aksi mereka begitu memukau dengan tata panggung yang elok. Berbincang tentang artistik panggung, seluruh properti panggung dihadirkan dengan pas baik secara komposisi ruang maupun bentuk.

Cahaya tidak hanya berfungsi memberi penerangan untuk tubuh. Lebih dari itu, tata cahaya mampu lebih memberi makna lain bagi benda-benda yang muncul di atas panggung dan berpaduan dengan alur gambar-gambar digital.

Keberadaan tata cahaya dapat menenggelamkan keberadaan para penyair itu dalam satu waktu. Mereka seolah masuk ruang cahaya. Gambar video mapping suatu waktu lebih mendominasi keberadaannya hingga penonton lebih terkesan pada yang tervisualkan dan bukan apa yang teralami.
Melalui pementasan itu pula, Olivia mengajak masyarakat untuk hening sejenak di tengah-tengah kisruh politik yang saat ini sedang alami. Ia menyeru agar masyarakat bisa berhening dan merefleksikan diri untuk mengetahui letak diri dan memahami diri. “Supaya kita ikut tercerahkan atau mungkin terjernih­kan dengan kedalaman ­puisi-puisi Indonesia dalam 3; ­Hening Negeri Dalam Negeri,” pungkasnya. (­Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar