Jeda

Produksi Garam Tak Terbatas di Rumah Prisma

Sabtu, 5 August 2017 13:46 WIB Penulis: M Yakub

ANTARA/Umarul Faruq

BELASAN bangunan berbentuk prisma dan limas berdiri berjajar. Dari ujung utara hingga selatan sepanjang pinggir kali. Kerangka bangunan terbuat dari bambu. Atapnya ditutup dengan plastik. Pada bagian dalam, dibuat kolam dengan alas bawah terpal plastik.

Pada sela bangunan, dibuat pematang yang memanjang. Ya, berupa kolam serupa. Namun dibuat terbuka dan berjajar. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan.

Pada kolam terbuka, dasarnya juga dialasi terpal plastik. Kedalaman kolam juga variatif, antara 20 sentimeter 2 meter.

Itulah pemandangan pada lahan tambak garam milik Arifin Jamian, warga Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Tentu pemandangan itu kurang wajar. Tak seperti lahan tambak garam pada umumnya. Tapi justru itu, inovasi tambak garam di pesisir pantura Lamongan. Tambak garam yang dikelola Arifin mampu memproduksi garam hingga 400 ton setiap hektare (ha).

Sedangkan, untuk tambak garam tradisional yang dikelola petambak pada umumnya hanya mampu memproduksi garam sekitar 70 ton per ha.

Sementara, untuk tambak garam dengan Teknologi Ulir Filter (TUF) juga hanya bisa berproduksi antara 120 -125 ton per ha. Angka yang cukup fantastis. Apa rahasianya..?

Kepada Media Indonesia, Arifin mengatakan, tambak inovasi miliknya memiliki bungker (tempat penyimpanan) yang memadai.

Lahan garam miliknya merupakan lahan Solo Valley seluas 1,5 ha.Pada lahan itu, dibuat sejumlah fasilitas produksi. Antara lain, untuk penampungan air muda seluas 1000 meter persegi (m2), fasilitas ulir (meja jemuran) seluas 5000 m2, dan meja kristal (tempat membuat garam) seluas 700 m2.

Di samping itu dibuat bungker air sebanyak 11 unit berbagai ukuran. Sedangkan, untuk lahan 1000 m2 disisakan buat pematang tambak dan tempat instalasi pipa saluran air. Lahan itu dikelola sendiri bersama keluarganya. Sedangkan pada saat panen raya, Arifin dibantu dua orang pekerja.

Menurut Arifin, sebelum masuk bungker, air laut yang telah melalui proses pemisahan senyawanya berbagai tahap itu, bisa disimpan hingga musim panen tahun selanjutnya. Dengan bahan ketersedian bahan baku itu, Afifin bisa dikristalkan garamnya setiap waktu. Termasuk, pada saat musim penghujan pun lahan tambak garamnya tetap bisa berproduksi.

Dengan keberhasilannya itu, sejak beberapa tahun terakhir Arifin kerap diminta menjadi konsultan untuk bimbingan teknis pembuatan rumah prisma dari berbagai daerah di Tanah Air. Terobosanya juga diapsresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dengan memberikan bantuan 10 unit rumah prisma.

Bahkan, sejumlah negara tetangga juga terkesan dengan prestasi yang diraihnya. Buktinya, pejabat dari Negara Thailand dan Malaysia, berkunjung ke lahan tambak inovasi milik Arifin untuk menimba ilmu.(OL-3)

Komentar